JAKARTA - Emiten di bidang kesehatan PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) menargetkan capaian kinerja ekspor perseroan yang telah menorehkan pertumbuhan dobel digit sanggup memberikan kontribusi lebih besar bagi performa grup di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah.
Direktur KLBF Kartika Setiabudy mengungkapkan bahwa saat ini porsi kontribusi pasar ekspor terhadap total pendapatan perseroan masih berkisar di angka 6%.
Adapun pembesaran porsi eksposur di pasar internasional tersebut diharapkan dapat memosisikan diri sebagai instrumen lindung nilai (natural hedging) kala rupiah mengalami volatilitas.
”Jadi memang untuk bisnis ekspor menjadi suatu target bagi kami untuk bisa meningkatkan kontribusi ekspor kami yang saat ini masih di bawah 10%. Secara jangka panjang, kami menginginkan adanya pertumbuhan yang lebih tinggi dari bisnis ekspor di atas pertumbuhan untuk pasar lokal,” katanya dalam Public Expose Live 2026, Jumat (11/9/2026).
Kartika menyebutkan bahwa dalam dua tahun terakhir KLBF telah membukukan pertumbuhan penjualan ekspor hingga dua digit. Meski begitu, akumulasi kenaikan kontribusinya atas total pendapatan keseluruhan masih tergolong terbatas.
Saat ini, Kalbe telah merambah jaringan ekspor ke lebih dari 40 negara yang tersebar di kawasan Asia, Arab, hingga Afrika. Sejumlah negara tetangga di Asia Tenggara pun menjadi sasaran destinasi ekspor perseroan.
”Ke depan kami akan terus mendorong bagaimana kami bisa meningkatkan kontribusi ekspor dengan membawa produk-produk yang tepat untuk negara-negara tetangga. Harapannya ini menjadi suatu natural hedging yang akan membantu kami mengelola dampak dari volatilitas nilai tukar,” tegasnya.
Selama paruh pertama 2026, KLBF mencatatkan kontribusi pasar ekspor senilai Rp1,43 triliun dari total pendapatan perseroan yang menyentuh Rp19,47 triliun.
Capaian ekspor tersebut berhasil tumbuh 24,34% year-on-year (YoY) jika dibandingkan dengan torehan Rp1,15 triliun pada periode yang sama di tahun 2025.
Sementara itu, akumulasi penjualan KLBF secara keseluruhan bertengger di angka Rp19,47 triliun sepanjang semester I/2026. Realisasi ini mencerminkan kenaikan sebesar 14,04% YoY ketimbang nilai Rp17,07 triliun pada periode sama tahun lalu.
Secara rinci, segmen obat resep menyumbang penjualan senilai Rp5,30 triliun, segmen produk kesehatan mencetak Rp2,70 triliun, segmen nutrisi berkontribusi Rp4,26 triliun, serta segmen distribusi dan logistik membukukan Rp7,20 triliun pada enam bulan pertama 2026.
Seiring kenaikan penjualan, beban pokok penjualan KLBF turut membengkak 20,71% YoY menjadi Rp12,16 triliun per Juni 2026, naik dari angka Rp10,07 triliun pada semester I/2025.
Meningkatnya beban penjualan menjadi Rp3,85 triliun pada rentang Januari—Juni 2026 dari Rp3,58 triliun pada periode sama tahun sebelumnya memicu penurunan pada pembukuan laba bersih perseroan.
Laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih Kalbe tergerus dari Rp1,97 triliun pada semester I/2025 menjadi Rp1,91 triliun pada semester I/2026.