Strategi PT Timah Optimalkan Operasi dan Produksi Sepanjang 2026

Strategi PT Timah Optimalkan Operasi dan Produksi Sepanjang 2026
PT Timah Tbk [FOTO: NET].

JAKARTA — PT Timah Tbk. (TINS) mematangkan sejumlah rincian strategi guna memacu kegiatan operasi beserta produksi secara berkelanjutan.

Direktur Strategi Korporasi dan Pengembangan Usaha Harry Budi Sidharta membeberkan bahwasanya langkah pertama fokus pada penambahan volume sumber daya serta cadangan timah.

Perseroan mematok target penebalan cadangan berkisar 30 juta ton pada rentang 2026 demi menjamin keberlanjutan proses produksi.

“Ini untuk menjaga sustainability produksi perusahaan,” ujarnya dalam paparan publik, Kamis (10/9/2026).

Langkah kedua, Timah mulai menggeser daya fokus pada perluasan tambang timah primer. Sejumlah area yang dibidik menjadi target pengembangan mencakup kawasan Batubesi di Belitung serta wilayah Paku di Bangka.

Langkah ketiga berfokus pada pembenahan tata kelola kemitraan aktivitas penambangan. Pembenahan tersebut bakal dieksekusi secara berkesinambungan guna mempertinggi efektivitas beserta tata kelola operasional penambangan.

Langkah keempat, perseroan berniat mengoptimalkan porsi produksi lewat penambahan alat kerja, peningkatan produktivitas sarana kerja, serta percepatan pembukaan lokasi tambang baru.

Harry memaparkan pada kurun 2026-2027 terdapat beberapa titik tambang baru yang diusulkan untuk dikembangkan sebagai suplai tambahan sumber produksi di luar cakupan wilayah izin usaha pertambangan (IUP) yang telah beroperasi.

Timah turut mulai melebarkan jangkauan bisnis menuju pengembangan komoditas logam tanah jarang (LTJ). Perseroan aktif menjalin koordinasi bersama Badan Investasi Mineral beserta mitra terkait guna mematangkan teknologi pengolahan dan penambangan komoditas tersebut.

Di ranah hilirisasi, perseroan berkomitmen memperkuat porsi kontribusi pendapatan konsolidasi melalui deretan anak perusahaan, utamanya PT Timah Industri dan Indometal London Ltd.

Sementara itu, langkah penutup diwujudkan lewat eskalasi volume produksi beserta penjualan produk hilir, mencakup timah batangan (ingot), solder, produk kimia, hingga peningkatan produktivitas anak-anak usaha.

Sepanjang paruh pertama semester I/2026, TINS mencatatkan pencapaian produksi bijih timah menyentuh 12.232 ton Sn, alias melonjak 75% dibandingkan kurun waktu serupa di tahun sebelumnya.

Produksi logam timah turut terangkat 58% menjadi 10.865 ton dari porsi sebelumnya sebesar 6.800 ton.

Lompatan volume produksi tersebut ikut memacu angka penjualan logam timah hingga menembus 10.984 ton, naik 85% ketimbang pencapaian semester I/2025 yang berada di angka 5.933 ton.

Dari aspek harga, banderol jual rata-rata logam timah hingga penutupan Juni 2026 menyentuh US$49.794 per metrik ton, melesat 52% jika dibandingkan periode serupa tahun sebelumnya.

Ditinjau dari pangsa pasar, sekitar 97% alokasi penjualan TINS difokuskan bagi ceruk ekspor dan hanya menyisakan 3% untuk kebutuhan pasar domestik.

Wilayah Asia tampil sebagai pasar terbesar dengan kontribusi mencapai 75%, disusul kawasan Eropa sebesar 19% dan Amerika sebesar 3%.

Di area Asia, China memegang peranan sebagai pasar terbesar dengan porsi 35%, disusul India dan Jepang masing-masing 12%, serta Korea Selatan sebesar 11%.

Torehan kinerja positif TINS tetap dibayangi tantangan eskalasi beban biaya tunai atau cash cost. Hingga Juni 2026, cash cost merangkak naik 11% menjadi US$22.435 per metrik ton dari posisi sebelumnya US$20.148 per metrik ton.

Eskalasi cash cost tersebut utamanya dipicu oleh tekanan faktor eksternal, mencakup lonjakan biaya BBM dan kewajiban royalti.

Perseroan pada mulanya mengasumsikan kalkulasi harga BBM pada awal tahun berada di kisaran Rp16.000 per liter, namun melonjak hingga menyentuh kisaran Rp30.000 per liter pada rentang Maret-April.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index