JAKARTA - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) konsisten menggemukkan unit usahanya, PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF) atau Infranexia, sebagai entitas infraco yang bertindak sebagai mesin monetisasi aset fiber optic perseroan.
Sejak tahun 2025, TLKM telah merampungkan pemisahan (spin-off) lini bisnis wholesale fiber connectivity ke Infranexia. Semua portofolio bisnis tersebut diserahkan kepada Infranexia, dengan kepemilikan saham perseroan mencapai 99,99 persen.
Skema spin-off ini diambil Telkom selaku holding demi mempertajam struktur bisnis sekaligus mengoptimalkan potensi nilai (value unlock) aset infrastruktur digital.
Direktur Wholesale & International Service TLKM, Budi Satria Dharma Purba, menjelaskan bahwa Infranexia dirancang untuk memaksimalkan utilitas aset fiber sembari mempertahankan titik temu antara pemenuhan kebutuhan internal Telkom Group serta peningkatan omzet dari klien eksternal.
Langkah transformasi ini dieksekusi secara bertahap. Tahap awal sudah dituntaskan pada Desember 2025 lewat hadirnya operating platform, penyerahan bisnis tahap awal dan sejumlah jaringan, hingga jalannya operasional komersial.
Artikel Kompas.id: Setelah Operator Seluler, Giliran Industri Menara Berpeluang Konsolidasi
Kini proses tahap kedua tengah berlangsung, yang meliputi pemindahan sisa bisnis, aset jaringan, sumber daya operasional, sampai pemenuhan berbagai tahapan korporasi.
Begitu seluruh rangkaian proses rampung, Infranexia bakal berjalan sebagai neutral carrier yang menguasai dan mengelola jaringan fiber secara end-to-end dalam satu naungan entitas.
“Setelah proses ini selesai, Infranexia akan beroperasi sebagai neutral carrier, dengan kepemilikan dan pengelolaan fiber secara end-to-end dalam satu entitas,” ujar Budi saat public Expose 2026 digelar secara daring, Senin (7/9/2026).
Incar pasar di luar Telkom
Skema bisnis ini memadukan kebutuhan dari Telkom Group sebagai anchor demand sekaligus komersialisasi jaringan ke pihak eksternal.
Berkat skema tersebut, Telkom mematok porsi omzet eksternal Infranexia bisa melesat perlahan hingga menyentuh kisaran 25 hingga 30 persen.
“Kami menarikkan kontribusi pendapatan eksternal secara bertahap mencapai sekitar 25-30 persen,” paparnya.
Infranexia memegang dua peran vital di ekosistem Telkom Group. Pertama, selaku penyedia jasa fiber wholesale netral untuk operator seluler, internet service provider (ISP), pusat data, serta pemain industri lainnya. Kedua, Infranexia menjadi penyuplai konektivitas bagi unit usaha di lingkup Telkom Group, mencakup Telkom Enterprise, Telkomsel, Mitratel, NeutraDC, hingga Telin.
Lewat tata kelola tersebut, tiap-tiap operating company (opco) dapat makin fokus memperluas pasar serta melayani pelanggan inti mereka. Adapun pemenuhan infrastruktur bakal ditangani secara lebih terpadu lewat Infranexia.
Menurut Budi, pendirian Infranexia tak sekadar mengejar efisiensi dan pembaruan jaringan, melainkan juga memperbesar komersialisasi aset fiber milik perusahaan.
Upaya ini diproyeksikan mampu menghadirkan keran pertumbuhan baru untuk Telkom Group lewat optimalisasi infrastruktur fiber serta penetrasi basis klien eksternal.
Mendasari hal itu, Infranexia digadang-gadang jadi komponen kunci strategi Telkom dalam memaksimalkan aset infrastruktur sekaligus mendongkrak porsi bisnis wholesale di luar lingkup internal Telkom Group.
“Infranexia tidak hanya mendorong efisiensi dan modernisasi jaringan, tetapi juga membuka peluang monetisasi aset fiber yang lebih luas, dan menciptakan sumber pertumbuhan baru bagi Telkom Group,” pungkas dia.