JAKARTA — PT Global Digital Niaga Tbk. (BELI) gencar memperkuat langkah transformasi dari platform e-commerce menjadi ekosistem omnichannel seiring memasuki babak baru dalam dinamika tren belanja online di Indonesia.
CEO dan Co-Founder Blibli, Kusumo Martanto menyatakan bahwa jika sebelumnya peta persaingan industri e-commerce sangat erat dengan perang harga serta obral promo besar-besaran, saat ini kecenderungan pembeli sudah mulai mengalami pergeseran.
Menurut pandangannya, pelanggan saat ini tidak lagi sekadar berburu barang dengan harga paling murah, melainkan lebih memprioritaskan pengalaman belanja yang serba praktis, lancar, terpercaya, dan konsisten, baik ketika bertransaksi lewat aplikasi digital maupun secara langsung di gerai fisik.
Kusumo menambahkan bahwa dinamika perubahan tersebut menjadi benang merah dalam perjalanan Blibli selama 15 tahun, yang terus bertransformasi dari sekadar platform e-commerce menuju ekosistem omnichannel bersama tiket.com, Ranch Market, serta Dekoruma.
"Dengan berfokus pada pendekatan omnichannel yang terintegrasi serta didukung oleh pengembangan inovasi teknologi yang berkelanjutan, termasuk peningkatan keandalan sistem dan efisiensi proses, Perseroan berhasil meningkatkan skala dan memperkuat efektivitas operasional usaha sepanjang tahun 2025,” kata Kusumo dalam keterangannya, dikutip Senin (24/8/2026).
Berdasarkan temuan riset Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2026, jumlah pengguna internet di Tanah Air telah menembus 235 juta jiwa, atau mencakup kisaran 81% dari total populasi nasional.
Capaian angka ini menegaskan bahwa aktivitas berbasis digital telah menjelma menjadi bagian tak terpisahkan dalam rutinitas harian publik.
Dampaknya, tolok ukur peta persaingan di industri perdagangan turut bergeser. Pertimbangan dalam keputusan membeli kini sangat dipengaruhi oleh faktor tingkat kepercayaan pada platform, kepastian orisinalitas produk, kemudahan jaminan garansi, hingga kenyamanan pada layanan purnajual.
Kondisi tersebut mendorong adopsi integrasi omnichannel commerce, sebuah strategi yang berfokus pada kontinuitas pengalaman berbelanja yang mulus bagi para pelanggan di seluruh saluran dalam satu ekosistem yang saling terhubung.
Kusumo menerangkan bahwa dalam penerapannya, konsumen diberi keleluasaan untuk memilih mekanisme belanja yang dirasa paling nyaman.
Konsumen dapat menggali informasi barang secara online, memproses transaksi via aplikasi, kemudian mengambil barang belanjaan secara langsung memanfaatkan fitur Click & Collect, ataupun berkunjung secara fisik ke toko.
Kendati demikian, penyatuan antar-saluran hanyalah satu bagian dari ekosistem, sebab fondasi utamanya tetap bertumpu pada aspek kepercayaan.
Di tengah makin maraknya opsi platform digital, konsumen memerlukan jaminan kepastian bahwa barang yang dibeli merupakan produk asli, sekaligus ditopang jaminan layanan purnajual yang jelas, mulai dari garansi, alur penukaran atau pengembalian produk, hingga layanan usai pembelian.
"Dengan demikian, pengalaman pelanggan tidak berhenti saat transaksi selesai, tetapi terus berlanjut hingga produk benar-benar digunakan," katanya.
Kusumo menegaskan bahwa pengembangan ekosistem Blibli tidak hanya difokuskan pada perluasan saluran dan jenis layanan, tetapi juga ditujukan untuk mendongkrak kualitas pengalaman konsumen pada setiap fase perjalanan pelanggan.
Berdasarkan catatan Bisnis.com pada Jumat (31/7/2026), Blibli sukses mengantongi pendapatan bersih hingga Rp14,83 triliun sepanjang semester I/2026, atau melonjak 55% secara tahunan (year-on-year/YoY) bila disandingkan dengan perolehan Rp9,60 triliun pada periode setara tahun lalu.
Mengutip laporan kinerja perseroan, lonjakan pendapatan tersebut didorong oleh naiknya kontribusi pada seluruh lini bisnis, utamanya dari segmen bisnis institusi dan toko fisik.
Peningkatan kinerja ini juga didukung oleh melonjaknya penjualan produk elektronik konsumen, smartphone, perlengkapan olahraga, hingga kontribusi dari lini bisnis online travel agency (OTA).
Perseroan turut membukukan raihan pendapatan bersih mencapai Rp6,99 triliun pada kuartal II/2026, atau terangkat 43% YoY dibandingkan perolehan Rp4,90 triliun pada triwulan yang sama tahun sebelumnya.
Sejalan dengan melesatnya pertumbuhan pendapatan, BELI berhasil menaikkan efisiensi operasional usaha.
Rasio persentase beban operasional terhadap total processing value (TPV) tercatat melandai ke tingkat 6,3% pada semester I/2026 dari posisi 7,2% pada semester I/2025.
Perbaikan struktur beban ini turut mengerek kenaikan margin EBITDA terhadap TPV menjadi minus 0,8% dari semula minus 2,5% pada semester I/2025, atau membaik 170 basis poin.