JAKARTA - PT Pertamina Drilling Services Indonesia (Pertamina Drilling), lini bisnis Subholding Upstream Pertamina di bidang jasa pengeboran, memperluas ekspansi bisnis dengan menggandeng penyedia jasa energi global, Weatherford.
Kerja sama tersebut diresmikan lewat penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) oleh Direktur Utama Pertamina Drilling Avep Disasmita dan Authorized Signatory Weatherford Mohammed Dadhiwala di Bali, Kamis (6/8/2026), dengan jangka waktu kesepakatan dua tahun.
Direktur Utama Pertamina Drilling Avep Disasmita menyampaikan bahwa kemitraan ini merupakan langkah strategis untuk menguatkan kapabilitas sekaligus memperlebar peluang bisnis di sektor energi.
"Kemitraan ini merupakan bagian dari komitmen Pertamina Drilling untuk terus menghadirkan layanan pengeboran berkelas dunia melalui kolaborasi dengan mitra global yang memiliki pengalaman dan teknologi terbaik," ujar Avep melalui rilis resminya, Senin (24/8/2026).
"Kami optimistis sinergi ini akan membuka peluang bisnis baru, memperkuat pengembangan kompetensi SDM, serta memberikan nilai tambah bagi industri minyak, gas, dan panas bumi di Indonesia maupun pasar internasional," lanjutnya.
Lingkup kerja sama kedua entitas mencakup eksplorasi peluang penyediaan jasa di sektor minyak, gas, serta panas bumi.
Cakupan layanan yang diteliti meliputi aktivitas pengeboran, evaluasi formasi, pengerjaan konstruksi dan komplesi sumur, intervensi sumur, hingga optimisasi produksi.
Selain penyediaan jasa pengeboran dan pemeliharaan sumur, kolaborasi Pertamina Drilling dan Weatherford menyasar peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) serta layanan pendukung lainnya.
Kedua pihak berkolaborasi memetakan potensi pasar di sektor pengeboran migas dan panas bumi, yang juga mencakup jasa teknis dan program penguatan kapasitas, sebelum mendiskusikan berbagai pilihan skema untuk merealisasikannya bersama.
Weatherford merupakan bagian dari grup Weatherford yang berpusat di Swiss. Perusahaan tersebut menyediakan layanan energi dengan keunggulan di bidang pengeboran, evaluasi formasi, konstruksi dan komplesi sumur, hingga intervensi dan optimisasi produksi berbasis teknologi modern serta solusi digital terintegrasi.
Avep menambahkan bahwa kolaborasi bersama Weatherford diharapkan dapat mendorong penerapan teknologi yang lebih efisien, aman, serta ramah lingkungan dalam pengembangan sektor energi nasional.
Langkah ini sejalan dengan arah strategi Pertamina Drilling dalam memperkuat daya saing lewat sinergi bersama mitra strategis dunia, sekaligus meningkatkan kapasitas industri pengeboran domestik dan pengembangan energi berkelanjutan.
Sinergi di sektor jasa pengeboran ini berlangsung di tengah tingginya urgensi eksplorasi hulu migas sebagai bagian dari upaya memperkuat produksi energi dalam negeri.
Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno sebelumnya turut mendorong percepatan aktivitas eksplorasi dan pemanfaatan cadangan minyak dan gas (migas) nasional guna memacu produksi dalam negeri sekaligus menekan ketergantungan pada impor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM).
"Ketahanan energi merupakan hal yang sangat penting, sehingga kami harus mempercepat, memperkuat eksplorasi untuk melakukan peningkatan dari lifting migas kami," kata Eddy dalam keterangannya, Sabtu (22/8/2026).
"Hal itu penting agar kami bisa mengurangi impor minyak mentah dan BBM yang selama ini kami lakukan, termasuk juga memenuhi kebutuhan gas di dalam negeri," lanjut Eddy.
Menurut pemaparan Eddy, pemenuhan pasokan gas domestik juga memegang peranan strategis dalam agenda transisi energi.
Gas bumi dinilai dapat berperan sebagai energi jembatan menuju sistem energi yang lebih bersih karena tingkat emisi yang dihasilkan relatif lebih rendah dibanding sumber energi fosil lainnya.
Namun demikian, percepatan eksplorasi membutuhkan iklim investasi yang kondusif. Eddy menilai koordinasi antara Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) sudah berjalan cukup solid, meski masih ada aspek regulasi yang perlu diperbaiki.
Aspirasi dari asosiasi KKKS di bawah naungan Indonesian Petroleum Association (IPA), menurut Eddy, mencakup tiga aspek utama: kepastian hukum yang kuat, konsistensi arah kebijakan, serta insentif fiskal.
Di samping mengejar proyek eksplorasi berskala besar, Eddy menilai legalisasi pengelolaan sumur migas rakyat dapat memberi imbas ekonomi positif bagi masyarakat lokal.
Kepastian hukum atas kegiatan tersebut dinilai mampu menyerap tenaga kerja sekaligus meningkatkan pendapatan daerah dari sektor pertambangan dan eksplorasi migas.