JAKARTA - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) menyiapkan rentetan strategi guna meredam dampak fluktuasi harga bahan bakar serta ketidakpastian geopolitik global terhadap kinerja operasional maupun finansial perusahaan.
Langkah-langkah tersebut ditempuh mulai dari penataan kembali jaringan penerbangan berpatokan pada tingkat keuntungan rute, memacu produktivitas serta penggunaan armada, hingga menerapkan program pengetatan konsumsi bahan bakar.
Pihak manajemen Garuda Indonesia memaparkan strategi tersebut dalam dokumen tanya jawab Surabaya Investor Meeting and Connectivity (SIMC) 2026, yang dikutip dari keterbukaan informasi di situs Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (11/8/2026).
Manajemen perseroan menilai bahwa gejolak harga avtur serta ketidakstabilan geopolitik dunia merupakan tantangan eksternal yang mesti dihadapi para pelaku industri penerbangan, baik di tingkat nasional maupun internasional.
"Untuk memitigasi dampak tersebut, perseroan menjalankan sejumlah langkah secara terukur, antara lain optimalisasi jaringan dan kapasitas berdasarkan profitabilitas rute, peningkatan utilisasi dan produktivitas armada, penerapan program efisiensi konsumsi bahan bakar termasuk optimalisasi profil dan perencanaan penerbangan, pengendalian biaya operasional, serta penguatan pendapatan melalui berbagai inisiatif komersial dan ancillary revenue," tulis manajemen Garuda Indonesia.
Fokus pada Rute yang Menguntungkan
Salah satu strategi utama yang dipersiapkan Garuda Indonesia yakni menata jaringan dan kapasitas penerbangan dengan memperhitungkan potensi keuntungan setiap rute. Strategi ini juga masuk dalam agenda transformasi Garuda Indonesia sepanjang 2026.
Perseroan menetapkan tahun ini sebagai fase Stabilization & Basic Execution yang berfokus pada stabilisasi melalui penguatan arus kas dan pendanaan, penegakan disiplin biaya, penyederhanaan rute yang berorientasi laba, serta pemulihan kesiapan armada dan kelancaran operasional.
Di samping itu, Garuda Indonesia memasukkan skema jangka panjang terkait rute dan armada sebagai bagian dari mesin penggerak transformasi.
Dalam peta jalan 2026, perusahaan mencantumkan Long Term Business Plan, kolaborasi rute di seluruh lini Garuda Indonesia Group, serta penyesuaian strategi harga baru untuk rute internasional.
Berbekal pengelolaan rute dan kapasitas tersebut, perseroan juga berupaya mendongkrak produktivitas pesawat.
Pada kuartal I-2026, jumlah armada yang siap beroperasi (serviceable) di Garuda Indonesia Group bertambah enam unit dibanding kurun waktu yang sama tahun lalu, yakni melesat dari 96 pesawat menjadi 102 pesawat. Penambahan tersebut terbagi atas tiga pesawat untuk Garuda Indonesia dan tiga pesawat untuk Citilink.
Garuda Indonesia menegaskan bahwa penambahan kesiapan armada ini turut menyokong peningkatan kapasitas, lalu lintas penumpang, hingga capaian pendapatan pada kuartal I-2026.
Efisiensi Konsumsi Bahan Bakar
Garuda Indonesia turut menyiapkan program efisiensi penggunaan avtur sebagai instrumen menghadapi ketidakpastian harga bahan bakar. Program ini direalisasikan melalui penataan profil serta perencanaan penerbangan secara lebih optimal.
Dalam peta jalan transformasi operasional 2026, perseroan turut memasukkan peningkatan aircraft serviceability melalui return to service plan, optimalisasi pemeliharaan mesin, pemantauan keandalan pesawat, pengoptimalan ground power unit, hingga efisiensi kerja awak pesawat.
Dari segi pengeluaran, hasil dari langkah-langkah tersebut tecermin dalam laporan keuangan kuartal I-2026. Merujuk paparan perusahaan, total beban pengeluaran Garuda Indonesia Group berada di angka 713,2 juta dolar AS pada kuartal I-2026, atau melandai 0,7 persen secara tahunan.
Secara khusus, alokasi biaya bahan bakar tercatat sebesar 224,7 juta dolar AS, menyusut 3,7 persen jika dibandingkan kuartal I-2025 yang mencapai 233,4 juta dolar AS. Sementara itu, biaya non-bahan bakar cenderung stabil di kisaran 488,5 juta dolar AS.
Rangkuman data konsolidasi perusahaan pun memperlihatkan penurunan pada beberapa pos biaya. Pos beban depresiasi melandai 0,7 persen menjadi 163,8 juta dolar AS, beban pegawai berkurang 6,9 persen menjadi 111,6 juta dolar AS, sedangkan biaya perawatan, perbaikan, dan suku cadang merosot 9,1 persen menjadi 48,6 juta dollar AS.
Tidak Hanya Menekan Biaya
Upaya menangani lonjakan harga avtur tidak melulu bertumpu pada pengetatan beban belanja. Garuda Indonesia turut bergerak memperkuat pundi-pundi pendapatan.
Dalam berkas untuk investor, perseroan menyebutkan bahwa penguatan pendapatan dipacu lewat beragam program komersial serta penggalian ancillary revenue.
Strategi ini dijalankan beriringan dengan fokus menaikkan keterisian kursi atau Seat Load Factor (SLF). Garuda Indonesia menegaskan kenaikan SLF menjadi salah satu agenda utama dalam pengelolaan kapasitas.
Kendati demikian, perusahaan tidak cuma berburu keterisian tempat duduk, melainkan juga menjaga mutu pendapatan yang tecermin pada Revenue per Available Seat Kilometer (RASK).
Demi merealisasikan target tersebut, perseroan mengandalkan dynamic pricing serta Revenue Management yang lebih fleksibel. Garuda Indonesia pun mengembangkan pola network fare, termasuk penawaran skema free add-on, untuk memperkuat keterhubungan rute.
Di samping itu, perusahaan menggelar serangkaian ajang promosi seperti Garuda Indonesia Travel Fair (GATF), Garuda Online Travel Fair (GOTF), serta Garuda Umrah Travel Fair (GUTF).
Penjualan kapasitas pada penerbangan tertentu yang dipakai untuk pemindahan lokasi armada (empty leg) juga dimaksimalkan agar bernilai komersial.
Tarif Penerbangan Domestik Mengikuti Aturan Pemerintah
Di tengah tuntutan menjaga stabilitas pendapatan, Garuda Indonesia menegaskan penentuan tarif penerbangan dalam negeri tetap tunduk pada regulasi pemerintah.
Perseroan menyebutkan bahwa tarif rute domestik sepenuhnya berpatokan pada aturan Tarif Batas Atas (TBA) serta skema fuel surcharge yang ditetapkan oleh regulator.
"Dalam kerangka tersebut, perseroan senantiasa menjaga keterjangkauan tarif bagi masyarakat dengan tetap memperhatikan keberlanjutan kinerja usaha, serta mempertimbangkan kondisi pasar, permintaan, dan tingkat kompetisi," jelas perseroan.
Dengan demikian, ruang gerak perseroan dalam menyesuaikan harga tiket penerbangan domestik senantiasa berada dalam koridor hukum yang berlaku.
Kinerja Keuangan Garuda Indonesia Kuartal I-2026
Berbagai langkah konsolidasi tersebut ditempuh tatkala kinerja operasional Garuda Indonesia Group pada kuartal I-2026 mencatatkan tren perbaikan.
Perolehan pendapatan perseroan pada kuartal I-2026 menyentuh 762,4 juta dolar AS, atau terangkat 5,4 persen secara tahunan dari posisi sebelumnya 723,6 juta dolar AS.
Pendapatan dari sektor penumpang menanjak 8,1 persen menjadi 608,5 juta dolar AS dan menopang sekitar 80 persen dari keseluruhan pendapatan grup.
Dari ranah operasional, jumlah penumpang yang terangkut melonjak 6,76 persen menjadi 5,42 juta orang. Frekuensi penerbangan bertambah 5,87 persen menjadi 38.675 kali perjalanan, sedangkan Seat Load Factor bertahan stabil di angka 78,07 persen.
Garuda Indonesia turut membukukan kenaikan Passenger Yield dari 7,37 sen dolar AS menjadi 7,56 sen dolar AS atau terangkat 2,49 persen.
Perbaikan pundi pendapatan beserta pengetatan biaya tersebut berdampak positif pada laba operasional. Pada kuartal I-2026, laba operasional atau EBIT meraih 46,5 juta dolar AS, alias melesat 47,2 persen dibanding capaian 31,6 juta dolar AS pada kurun waktu yang sama tahun lalu.
Walau begitu, perseroan masih mencatatkan rugi bersih sebesar 41,6 juta dolar AS pada kuartal I-2026. Nilai kerugian tersebut sejatinya membaik 45,2 persen jika disandingkan dengan rugi bersih 75,9 juta dolar AS pada kuartal I-2025.
Guna merespons gejolak dari luar, Garuda Indonesia menegaskan bakal terus memantau dinamika harga avtur dan situasi geopolitik, sekaligus mengevaluasi daya guna langkah mitigasi yang sedang berjalan.
Perseroan menegaskan agenda ini merupakan bagian dari transformasi demi memperkokoh fondasi operasional, profitabilitas, likuiditas, serta kedisiplinan keuangan.
Dalam peta jalan transformasi 2026, Garuda Indonesia mengusung enam pilar utama, yakni transformasi pelayanan dan pengalaman pelanggan, pembaruan merek, transformasi bisnis, pembaruan operasional, integrasi digital, hingga pembenahan sumber daya manusia.