JAKARTA — Emiten properti PT Agung Podomoro Land Tbk. (APLN) menggandeng pengembang asal Jepang, Hankyu Hanshin Properties Corp. (HHP) guna mengepakkan sayap pembangunan proyek Bukit Podomoro Jakarta.
Kerja sama strategis itu ditandai lewat pengalihan sebagian kepemilikan saham APLN di PT Graha Cipta Kharisma (GCK), badan usaha yang menaungi proyek Bukit Podomoro, kepada HHP sebagai mitra strategis.
Corporate Secretary APLN Justini Omas menuturkan bahwa kolaborasi bersama HHP ini bukanlah kali pertama terjalin di antara kedua korporasi.
APLN dan HHP sebelumnya telah menorehkan kerja sama dalam sejumlah portofolio properti unggulan, di antaranya Central Park Mall, Central Park Mall 2 atau Neo Soho Mall, serta Deli Park Medan.
Menurut pandangan Justini, jejak rekam kemitraan tersebut menjadi fondasi kokoh bagi kedua perusahaan untuk kembali memperkuat sinergi di ranah industri properti.
"Kerja sama ini menjadi landasan bagi kedua perusahaan untuk terus memperluas sinergi dalam menghadirkan pengembangan properti yang inovatif, berkelanjutan, dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat maupun para pemangku kepentingan," ujar Justini dalam keterangan resmi, Senin (10/8/2026).
Masuknya HHP sebagai mitra strategis turut memberikan keuntungan di sektor finansial bagi kubu APLN. Justini menyebutkan bahwa hasil dari transaksi divestasi kepemilikan saham bakal dialokasikan guna menyokong kebutuhan operasional sekaligus ekspansi usaha perseroan. Di samping itu, dana tersebut juga diarahkan untuk memangkas tumpukan beban utang APLN.
"Hasil transaksi ini akan digunakan untuk mendukung operasional dan pengembangan usaha APLN, serta mengurangi beban utang," imbuhnya.
Secara terperinci, kemitraan strategis antara APLN dan HHP dieksekusi melalui serangkaian transaksi yang saling bertalian. Dalam skema tersebut, APLN mengalihkan sebanyak 282.793 saham biasa GCK atau setara porsi 35,5% kepada pihak HHP.
Sebelum transaksi berlangsung, APLN tercatat memegang kendali atas 677.110 saham biasa atau mencakup 85% dari total modal disetor penuh GCK.
Kendati demikian, pelepasan sebagian saham tersebut tidak sampai meruntuhkan status APLN sebagai pemegang saham pengendali di GCK. Pasalnya, dalam rangkaian transaksi serupa, APLN turut memborong sebagian saham GCK milik para pemegang saham eksisting lainnya.
APLN mengakuisisi sebanyak 28.279 saham atau setara 3,55% milik PT Kreasi Wahana Nusantara serta 14.140 saham atau setara 1,775% milik PT Bumi Kirana.
Begitu seluruh tahapan transaksi tuntas sepenuhnya, porsi kepemilikan APLN di GCK berubah menjadi 436.736 saham biasa atau merepresentasikan 54,825%.
Dengan komposisi tersebut, kendali atas GCK tetap dipegang oleh APLN sementara HHP resmi bergabung sebagai mitra strategis di dalam proyek terkait.
Proyek Bukit Podomoro
Bukit Podomoro Jakarta merupakan salah satu proyek andalan APLN yang dibangun sebagai kawasan hunian terpadu sejak tahun 2021. Proyek ini berdiri di atas lahan seluas 9,6 hektare dengan total rencana pengembangan mencapai 432 unit, yang mencakup 317 unit rumah tapak serta 115 unit ruko.
Menilik dari rapor kinerjanya, sepanjang paruh pertama tahun 2026 APLN membukukan angka penjualan serta pendapatan usaha sebesar Rp3,66 triliun. Capaian ini melesat 117% apabila disandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya di angka Rp1,69 triliun.
Selaras dengan pertumbuhan tersebut, perseroan sukses membalikkan posisi rugi komprehensif pada semester pertama tahun lalu menjadi laba komprehensif periode berjalan senilai Rp523,5 miliar.
Pencatatan pendapatan pada semester I/2026 terutama ditopang oleh penjualan Mall Deli Park Medan senilai Rp2,2 triliun kepada PT DPM Assets Indonesia (DPMAI) melalui anak usaha APLN, yakni PT Sinar Menara Deli (SMD).
Dampak dari membaiknya performa keuangan APLN juga tecermin dari total liabilitas perusahaan yang terus merosot. Pada semester I/2026, pos liabilitas atau beban kewajiban utang APLN bertengger di angka Rp10,37 triliun, lebih ramping dibanding posisi penutupan tahun 2025 yang senilai Rp11,28 triliun.
Dalam kurun waktu dua tahun terakhir, APLN tercatat agresif memangkas beban kewajiban utangnya. Sebagai gambaran, pada pengujung tahun 2023 total liabilitas APLN masih bertengger di kisaran Rp14,87 triliun.
Artinya, dalam rentang 2,5 tahun APLN sanggup melunasi kewajiban utang hingga menembus angka Rp4,50 triliun.
APLN secara konsisten menjalankan strategi monetisasi portofolio aset properti bernilai tinggi demi mendanai proyek-proyek anyar sekaligus menekan jumlah utang, utamanya dalam denominasi mata uang dolar Amerika Serikat.
Sejumlah aset berskala besar yang sebelumnya telah didivestasi oleh APLN antara lain Central Park Mall, Neo Soho Mall, Pullman Ciawi Vimala Hills, hingga Deli Park Mall Medan.