JAKARTA — PT Jababeka Tbk. (KIJA) memegang potensi (pipeline) permintaan lahan industri seluas kurang lebih 140 hektare yang berpeluang terealisasi menjadi transaksi pada semester II/2026, di tengah sikap para pemodal asing yang semakin berhati-hati dalam mengeksekusi investasi di kawasan industri.
Sekretaris Perusahaan KIJA Muljadi Suganda mengungkapkan bahwa eskalasi geopolitik global memang memberikan pengaruh pada alur pengambilan keputusan para investor.
Walau demikian, dampak tersebut lebih bermuara pada durasi kajian investasi yang semakin panjang, alih-alih menurunkan daya tarik investasi ke Indonesia.
"Ketidakpastian geopolitik global memang menjadi salah satu faktor yang turut dipertimbangkan oleh investor dalam proses pengambilan keputusan investasi. Namun, berdasarkan pengalaman kami, minat terhadap kawasan industri Jababeka, baik di Cikarang maupun Kendal, tetap cukup baik," ujarnya, Jumat (7/8/2026).
Ia menambahkan, kalangan investor saat ini cenderung menjalankan evaluasi yang lebih komprehensif sebelum meresmikan investasinya. Dampaknya, proses kesepakatan memakan waktu lebih lama meskipun tingkat permintaan terhadap lahan industri tetap stabil.
"Yang kami lihat saat melebih pada dinamika proses transaksi, di mana investor cenderung melakukan evaluasi yang lebih mendalam sebelum mengambil keputusan investasi, sementara minat investasi sendiri tetap terjaga," katanya.
Muljadi menilai fenomena tersebut merupakan bagian dari dinamika siklus investasi yang wajar ketika ketidakpastian global merambat naik. Di tengah situasi tersebut, Jababeka masih menyimpan cadangan pipeline permintaan lahan yang tergolong besar hingga penutupan tahun 2026.
Pada area Jababeka Cikarang, akumulasi permintaan lahan tercatat melampaui 40 hektare yang datang dari pemodal domestik serta mancanegara, seperti Singapura, Jepang, Malaysia, dan Korea Selatan.
Arus permintaan di Cikarang didominasi oleh sektor logistik, makanan dan minuman (F&B), pusat data (data center), kimia, hingga manufaktur elektronik.
Sepanjang paruh pertama 2026, Muljadi menerangkan perseroan sukses membukukan realisasi penjualan lahan industri seluas 6 hektare di Cikarang, utamanya kepada entitas tekstil dalam negeri dan pemodal sektor F&B, kesehatan, logistik, serta material bangunan, termasuk dari Tiongkok dan Korea Selatan.
Sementara itu, Kawasan Industri Kendal mengantongi pipeline permintaan yang lebih dominan, yaitu menyentuh 100 hektare.
Pasar tersebut utamanya dikuasai oleh investor asal Tiongkok, disusul Taiwan, Hong Kong, serta pemodal lokal. Sektor utama yang menggerakkan permintaan di Kendal meliputi industri tekstil dan garmen, pengemasan, alas kaki dan pakaian, furnitur, hingga bahan bangunan.
Di semester I tahun ini, torehan penjualan lahan di Kendal menyentuh 42 hektare, terutama diserap oleh korporasi asal Tiongkok yang bergerak di lini otomotif, elektronik, bahan bangunan, serta kemasan, di samping perusahaan nasional di bidang perlengkapan rumah tangga.
Fokus Percepat Konversi Pipeline
Memasuki semester II/2026, Jababeka menempatkan percepatan konversi pipeline menjadi transaksi sebagai prioritas utama demi menjaga kelangsungan pertumbuhan bisnis.
Perseroan bakal mengoptimalkan kegiatan pemasaran kawasan industri di Cikarang dan Kendal seraya mengakselerasi penyelesaian transaksi yang masih dalam tahap negosiasi.
Selain bergantung pada realisasi penjualan lahan, KIJA turut berupaya menggelembungkan porsi pendapatan berulang (recurring revenue) dari lini bisnis infrastruktur, meliputi pasokan listrik, penyediaan air bersih, pemeliharaan kawasan, serta jasa logistik sejalan dengan bertambahnya aktivitas penyewa (tenant).
Dari sudut finansial, perseroan juga bersandar pada hasil refinancing Senior Notes yang telah dirampungkan pada paruh pertama tahun ini untuk memperkokoh struktur permodalan.
Menurut Muljadi, eksekusi tersebut menjadikan profil jatuh tempo utang perseroan lebih panjang, menyelaraskan mata uang pembiayaan dengan mata uang pencatatan, serta meredam risiko fluktuasi nilai tukar dan risiko refinancing.
"Dengan strategi tersebut, kami optimistis dapat menjaga fundamental bisnis dan mengupayakan pencapaian target yang telah ditetapkan untuk tahun 2026," ujarnya.
KIJA mencatatkan pendapatan konsolidasian senilai Rp2.436,5 miliar pada semester I/2026, atau mengalami penurunan 11% bila dibandingkan Rp2.726,4 miliar pada semester I/2025, sekaligus menanggung rugi bersih sebesar Rp6,4 miliar, bertolak belakang dari perolehan laba bersih sebesar Rp627,6 miliar pada kurun waktu yang sama tahun lalu.