JAKARTA — PT ABM Investama Tbk. (ABMM) membukukan performa yang tetap solid pada semester I/2026 di tengah dinamika industri pertambangan serta tingginya harga bahan bakar dampak ketegangan geopolitik global.
Ekskalasi produksi batu bara, utamanya dari lokasi tambang di Aceh, menjadi penggerak utama pertumbuhan profitabilitas perseroan.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 30 Juni 2026, emiten berkode ABMM tersebut meraup pendapatan senilai US$506,2 juta atau setara Rp9,06 triliun (memakai asumsi kurs JISDOR Rp17.899 per dolar AS).
Perolehan pendapatan tersebut melandai tipis 0,1% dari US$506,9 juta pada kurun waktu yang sama di tahun sebelumnya.
Walau perolehan pendapatan terbilang datar, ABM berhasil mengantongi laba bersih senilai US$39,9 juta atau sekitar Rp714,17 miliar, mentereng 41,9% secara tahunan (*year on year*/YoY). Di samping itu, EBITDA yang disesuaikan (LTM) terangkat 6,4% YoY menuju posisi US$346,9 juta.
Direktur ABM Investama Hans Manoe menyampaikan peningkatan profitabilitas pada separuh pertama tahun ini adalah buah manis dari keberhasilan memacu produksi tambang batu bara beserta stabilisasi bisnis kontraktor pertambangan.
"Perseroan berhasil mencatatkan peningkatan profitabilitas pada periode ini yang didorong oleh keberhasilan peningkatan produksi operasi tambang batu bara dan stabilisasi bisnis kontraktor pertambangan," ujarnya dalam keterangan resminya yang dikutip, Jumat (7/8/2026).
Hans menyambung bahwa kendati kondisi industri masih dihadapkan pada bermacam tantangan, harga batu bara yang bertahan kondusif memberikan ruang bagi perseroan untuk menangkap momentum tersebut lewat keunggulan operasional.
Sepanjang enam bulan pertama tahun ini, volume coal getting perseroan menanjak 14,2% YoY menjadi 17,9 juta ton, terkhusus dipicu kenaikan produksi di salah satu area operasional di Kalimantan Selatan. Sementara itu, volume overburden removal menyusut 12,6% YoY menjadi 98,0 juta bcm pada 1H26.
"Operasi pertambangan batu bara perseroan di Aceh terus mengalami peningkatan produksi yang menghasilkan kenaikan volume penjualan secara kuartalan, sehingga berkontribusi terhadap peningkatan profitabilitas di berbagai unit usaha dalam rantai nilai pertambangan," imbuhnya.
Di luar lini bisnis pertambangan, sektor logistik turut mencatatkan kemajuan positif. Salah satu entitas anak usaha ABM mengamankan kontrak jasa logistik jangka panjang dari konsumen kategori A-list, yang dinilai bakal menyokong keberlanjutan operasional serta diversifikasi kran pendapatan perseroan.
Memasuki semester II/2026, ABM memproyeksikan momentum kenaikan produksi dari tambang di Aceh bakal terus berlanjut. Perseroan juga sedang merampungkan proses perizinan aset tambang batu bara baru milik PT Piranti Jaya Utama di Kalimantan Tengah yang ditargetkan beres pada penghujung tahun ini.
Ke depannya, aset baru tersebut diharapkan dapat memperluas basis produksi sekaligus memperkokoh rantai nilai pertambangan terintegrasi perseroan.
Di saat yang bersamaan, ABM konsisten melanjutkan strategi diversifikasi secara selektif lewat pengembangan bisnis non-batu bara yang terkoneksi dengan bisnis inti, termasuk memperluas portofolio jasa logistik.
"Kami tetap fokus memperkuat ekosistem bisnis melalui perolehan kontrak-kontrak strategis pada segmen logistik, dengan tetap memperhatikan kepatuhan terhadap dinamika regulasi dan menjalankan strategi secara disiplin guna mendukung pertumbuhan berkelanjutan," terangnya.