JAKARTA — PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (SMGR) atau SIG memacu pemanfaatan material bangunan rendah emisi guna mengakselerasi penerapan konstruksi berkelanjutan di Tanah Air. Pihak perseroan menilai produk semen hijau memiliki intensitas emisi karbon yang lebih rendah ketimbang semen konvensional.
Direktur Operasi SIG Reni Wulandari mengutarakan bahwasanya transisi menuju ekosistem konstruksi rendah emisi tidak cukup sebatas penerapan standar maupun kerangka penilaian green building.
Pemilihan material yang diaplikasikan pada proyek pembangunan turut memegang peranan krusial dalam menekan jejak karbon di sektor bangunan.
"Transisi menuju konstruksi rendah emisi membutuhkan kolaborasi seluruh rantai nilai, sekaligus ketersediaan solusi bahan bangunan untuk berbagai kebutuhan proyek," ujarnya dalam pernyataan tertulis, Minggu (13/9/2026).
Langkah transisi tersebut salah satunya ditempuh lewat pengembangan varian produk dan solusi bahan bangunan rendah emisi yang ditopang oleh pemanfaatan bahan baku serta proses manufaktur yang lebih ramah lingkungan.
Perseroan mengimplementasikan prinsip ekonomi sirkular dalam siklus produksinya, antara lain melalui pemanfaatan bahan bakar alternatif berupa refuse derived fuel (RDF) yang diolah dari sampah perkotaan, limbah industri, hingga biomassa.
Penggunaan bahan bakar alternatif tersebut mengantarkan thermal substitution rate (TSR) di pabrik-pabrik milik SIG telah menembus angka 25%.
Di samping bahan bakar alternatif, SIG turut melancarkan transisi energi lewat optimalisasi energi baru terbarukan (EBT). Pihak perseroan mengoperasikan panel surya serta memaksimalkan penggunaan gas panas buang melalui teknologi Waste Heat Recovery Power Generation (WHRPG) demi menekan pelepas karbon.
Langkah efisiensi emisi juga dieksekusi melalui program digitalisasi pabrik. SIG mengaplikasikan plant digitalization, termasuk pemanfaatan plant optimizer pada sejumlah fasilitas produksi guna mendongkrak efisiensi proses operasional sekaligus menekan biaya produksi.
Rangkaian inisiatif tersebut turut menopang pengembangan lini semen hijau SIG. Perseroan mengklaim produk semen hijau yang diproduksi memiliki intensitas emisi hingga 38% lebih rendah ketimbang semen konvensional, dengan tolok ukur kualitas yang diselaraskan pada kebutuhan pemakaiannya.
Beberapa varian semen hijau SIG juga sudah mengantongi sertifikasi Green Label. Di antaranya produk PwrPro yang diformulasikan untuk kebutuhan dengan kekuatan awal ekstra, serta MaxStrength Pro yang diperuntukkan bagi pengecoran massal dan stabilisasi tanah.
Tidak berhenti pada lini produk semen, SIG juga merancang material dan solusi beton yang mendukung pembangunan berkelanjutan. Portofolio tersebut melingkupi beton berpori ThruCrete, beton cepat kering SpeedCrete, beton dekoratif DekoCrete, hingga paving block berpori.
SIG juga menghadirkan Bata Interlock Presisi sebagai solusi konstruksi yang mengandalkan sistem saling mengunci antarbalok.
Produk turunan dari semen hijau ini diklaim mampu menyokong pengerjaan konstruksi yang lebih cepat dan efisien, sekaligus menghasilkan struktur bangunan yang kokoh, tahan api, serta tangguh terhadap guncangan gempa.
Reni mencermati pemanfaatan material rendah emisi bakal makin vital seiring meningkatnya tuntutan terhadap pembangunan yang berwawasan lingkungan.
"Keberlanjutan bukan lagi sebuah pilihan tetapi keharusan untuk membangun masa depan yang lebih baik," ujarnya.
Menurut Reni, agenda keberlanjutan turut menjadi bagian dari strategi bisnis SIG di tengah kompetisi industri yang kian ketat. Seluruh produk SIG disebutkan telah memenuhi standar SNI serta mengantongi tingkat komponen dalam negeri (TKDN) melampaui 90%.