ESDM Proyeksi Produksi Batu Bara 2026 Mencapai 720 Juta Ton

ESDM Proyeksi Produksi Batu Bara 2026 Mencapai 720 Juta Ton
Alat berat digunakan untuk bongkar muat batu bara di Pelabuhan Tanjung Priok [FOTO: NET].

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memprediksikan produksi batu bara bakal menyentuh 720 juta ton hingga penghujung 2026. Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno menuturkan, perkiraan tersebut dihitung berpatokan pada besaran produksi emas hitam per bulannya.

Tri memaparkan, perolehan produksi batu bara hingga Juli 2026 telah menembus 423 juta ton. Dengan demikian, jika capaian dalam kurun tujuh bulan tersebut dibagi, rata-rata volume produksi batu bara berada di angka sekitar 60 juta ton setiap bulan.

"Kalikan saja ya misalnya 60 kali 12, ya 720 juta ton. Kira-kira ya forecast-nya," ucap Tri saat ditemui di Jakarta, Kamis (11/9/2026).

Melalui angka proyeksi itu, realisasi produksi batu bara pada 2026 terhitung lebih rendah dibandingkan perolehan 2025 yang secara keseluruhan menyentuh 817 juta ton. 

Tri merincikan, dari total 817 juta ton pada 2025, sebanyak 522 juta ton atau setara 63% ditujukan untuk pasar ekspor. Sedangkan untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri mencapai 246 juta ton atau berkisar 30,2%.

Sementara itu pada 2026 hingga Juli, total produksi terdata sebanyak 432 juta ton, dengan alokasi ekspor sebesar 270 juta ton dan pemenuhan domestik menyerap 113 juta ton. Tri menambahkan, India serta China sampai saat ini tetap memegang peranan sebagai tujuan utama ekspor batu bara nasional.

Walaupun volume produksi di 2026 melandai, Tri menjelaskan bahwa Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari subsektor minerba justru mencatatkan pertumbuhan pada tahun ini.

 Ia membeberkan, per 31 Agustus 2025, perolehan PNBP minerba berada di posisi Rp87 triliun. Sedangkan hingga 31 Agustus 2026, nilainya melesat hingga Rp108 triliun, atau terdapat lonjakan sekitar Rp21 triliun.

“Apabila kami lihat di Agustus sekarang, itu angkanya PNBP kami Rp108 triliun, artinya ada perbedaan sekitar Rp21 triliun meningkat. Ini diakibatkan apa? Karena beberapa [harga] komoditas itu mengalami kenaikan,” ungkapnya.

Secara khusus untuk komoditas batu bara, setoran PNBP sampai 31 Agustus 2025 tercatat Rp59 triliun. Jumlah ini berlanjut naik hingga menyentuh Rp66 triliun per 31 Agustus 2026. 

Alhasil, terjadi fenomena yang bertolak belakang antara tren produksi dan penerimaan negara. Kendati rata-rata produksi batu bara tergerus sekitar 8 juta ton tiap bulannya, kontribusi PNBP dari komoditas ini justru meningkat sekitar Rp7 triliun secara tahunan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index