JAKARTA - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengimbau para generasi muda untuk memupuk rasa optimis bahwa Indonesia dapat bertransformasi menjadi negara maju apabila berani menetapkan sasaran besar serta bergotong royong demi merealisasikannya.
Lewat siaran pers di Jakarta, Jumat, Menteri Brian mengungkapkan bahwa tingkat kemajuan suatu bangsa salah satunya dapat diukur dari kemampuannya mengangkat taraf kesejahteraan warga.
Ia menyoroti sasaran pendapatan per kapita yang melampaui 15.000 dolar AS sebagai indikator penting untuk membawa Indonesia lepas dari jebakan negara berpendapatan menengah.
Saat ini, capaian pendapatan per kapita Indonesia berada pada angka 5.400–5.500 dolar AS. Oleh sebab itu, akselerasi produktivitas dan kesejahteraan publik membutuhkan perombakan struktur ekonomi yang lebih fundamental.
"Ini adalah ukuran dignity (harga diri) bangsa kami, ukuran kebanggaan bangsa kami di depan bangsa lain. Kami harus membangun kepercayaan diri bahwa bangsa kami mampu. Dan industrialisasi ini adalah sebuah keharusan bagi kami. Kami harus membangun industri sebanyak-banyaknya," kata Mendiktisaintek.
Baca juga: Mendiktisaintek minta kampus dirikan UPZ, bantu pendanaan mahasiswa
Mendiktisaintek memaparkan bahwa alur menuju pendapatan yang lebih tinggi tidak bisa dicapai hanya dengan bersandar pada pertumbuhan ekonomi yang dipacu oleh konsumsi atau ekspor komoditas alam.
Menurut ia, sektor industri menjadi penggerak utama dalam mendongkrak produktivitas, menyediakan lapangan kerja, memperkuat ekspor, serta memberikan nilai tambah di dalam negeri.
"Indonesia perlu membangun kepercayaan diri bahwa bangsa ini mampu menghasilkan dan menguasai industrinya sendiri," ujarnya.
Ia menganggap dorongan pada sektor industri kini kian mendesak sebab Indonesia sedang menghadapi gejala deindustrialisasi. Mendiktisaintek membeberkan bahwa selama kurun waktu dua dekade terakhir, jumlah industri di Indonesia mengalami penurunan.
Padahal, penguatan sektor manufaktur nasional berdampak langsung pada penyediaan lapangan kerja, pemenuhan pendapatan masyarakat, serta penekanan ketergantungan pada barang impor. Maka dari itu, penguatan industri mesti dijadikan agenda bersama dan tidak semata bergantung pada upaya pemerintah.
Baca juga: Evaluasi SNPMB, Mendiktisaintek dorong seleksi mahasiswa berintegritas
Di sisi lain, Menteri Brian menegaskan peran vital teknologi serta inovasi agar industrialisasi Indonesia tak sekadar mencetak produk, melainkan juga menguasai teknologi dasar penopang produk tersebut.
Ia mengambil contoh rekam jejak sejumlah negara seperti Jepang, Korea, dan China yang memperkokoh perekonomian mereka lewat pengembangan sektor industri secara berkelanjutan. Indonesia pun dinilai memiliki kapasitas serta pengalaman untuk melakukan langkah serupa, layaknya keberhasilan pembuatan pesawat N250.
Mendiktisaintek menilai momentum yang dihadapi Indonesia saat ini sangat menentukan karena didukung oleh melimpahnya penduduk usia produktif. Walau demikian, era bonus demografi tersebut memiliki batas waktu.
Ia menyebut peluang Indonesia untuk melompat dari jebakan negara berpendapatan menengah hanya bertahan hingga kisaran 2040.
Oleh karena itu, kelompok usia produktif saat ini perlu memanfaatkan periode emas tersebut melalui peningkatkan mutu SDM, produktivitas, pemanfaatan teknologi, dan akselerasi industri.
Mendiktisaintek turut menggarisbawahi pentingnya mendirikan industri yang sanggup mencetak produk nasional guna memenuhi kebutuhan dalam negeri, sekaligus memangkas ketergantungan terhadap barang maupun energi impor.
"Kami bangga kalau suatu saat di Berlin ada bendera Indonesia. Bukan hanya dalam bentuk simbol, tetapi dalam bentuk karya-karya anak bangsa. Saya berharap bangsa Indonesia memiliki beyond nationalism. Nasionalisme kami jangan berhenti sampai kami menghormati bendera atau menyanyikan lagu kebangsaan. Kami harus bangga ketika karya anak bangsa digunakan dan ditunggu oleh dunia," tutur Brian Yuliarto.