JAKARTA — PT Astra International Tbk. (ASII) bermaksud memelihara konsistensi kebijakan pembagian dividen yang stabil lewat penetapan rasio pembayaran sebesar 45% hingga 50% dari perolehan laba bersih berulang.
Komitmen tersebut ditegaskan oleh jajaran manajemen demi meredam kecemasan para pemegang saham menyusul koreksi laba bersih konsolidasian sebesar 19% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp12,5 triliun sepanjang semester I/2026.
Presiden Direktur Astra International Rudi menegaskan bahwa pengalokasian arus kas untuk dividen senantiasa menjadi pilar prioritas utama perseroan, beriringan dengan pemenuhan alokasi belanja modal, strategi alokasi modal, hingga rencana buyback saham.
“Kami akan konsisten untuk menjaga dividen yang berkelanjutan dengan payout ratio di kisaran 45% sampai 50%, seperti tahun-tahun sebelumnya,” ujar Rudi dalam Public Expose Live 2026, Kamis (10/9/2026).
Pada rentang semester I/2026, manakala tidak memperhitungkan komponen pos non-recurring items seperti penyesuaian nilai wajar investasi ekuitas serta penurunan nilai aset (impairment) senilai Rp2,4 triliun, pencapaian underlying profit perseroan tercatat menyentuh Rp14,9 triliun.
Pencapaian tersebut sejatinya cuma mengalami koreksi 7% secara tahunan.
Penurunan laba bersih berulang ini dipicu oleh melesunya kontribusi dari unit bisnis pertambangan serta alat berat di bawah naungan PT United Tractors Tbk. (UNTR), yang disebabkan oleh penghentian sementara operasional tambang emas Martabe pada kuartal I/2026 beserta penyesuaian pemangkasan kuota produksi batu bara nasional (RKAB).
Walau profitabilitas pada paruh pertama tahun ini tertekan, Rudi menaruh rasa optimistis bahwasanya performa perseroan bakal mencatatkan perbaikan signifikan pada semester II/2026.
Sinyal pemulihan tersebut mulai tampak dari raihan underlying profit kuartal II/2026 yang sanggup tumbuh 19% jika dibandingkan dengan kuartal I/2026 secara kuartalan (quarter on quarter/QoQ).
“Ada perbaikan tren sepanjang kuartal kedua dan momentum itu terjaga. Kami memperkirakan semester kedua akan lebih baik seiring beroperasinya kembali tambang Martabe serta peningkatan kuota produksi batu bara,” kata Rudi.
Demi menguatkan imbal hasil bagi para pemegang saham, perseroan turut merealisasikan program buyback saham baru dengan mengalokasikan anggaran mencapai Rp8 triliun untuk jangka waktu 12 bulan mendatang, yang sebelumnya telah mengantongi persetujuan RUPSLB pada Juli lalu.