BNPT: Kerja Sama Negara Mitra Atasi Ancaman Digital Tak Kenal Batas

BNPT: Kerja Sama Negara Mitra Atasi Ancaman Digital Tak Kenal Batas
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) [FOTO: NET].

JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menekankan bahwa kolaborasi bersama negara-negara mitra memegang peranan krusial sebab karakteristik ancaman di ranah digital tidak dibatasi oleh batas wilayah negara.

Menurut Kepala BNPT Eddy Hartono, pertukaran data, pengalaman, serta praktik terbaik sangat dibutuhkan demi mengantisipasi dinamika penyebaran ideologi kekerasan yang terus bertransformasi seiring pesatnya kemajuan teknologi.

"Mengingat ancaman terorisme yang persisten, resilience, dan adaptif, kerja sama dan pertukaran informasi antarnegara menjadi semakin penting," ujar Eddy saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa (8/9/2026).

Ia menerangkan bahwa eskalasi ancaman terorisme saat ini tidak lagi sebatas pada dimensi fisik, melainkan telah merambah ke alam digital yang bersifat lintas batas dan dapat menyasar publik secara masif.

Kendati tidak ada insiden aksi teror di Indonesia sejak tahun 2023, BNPT tetap terus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi ancaman.

Untuk itu, ia menyebutkan bahwa Indonesia konsisten menguatkan langkah-langkah pencegahan, deteksi dini, pertukaran informasi, penanganan pendanaan terorisme, serta proteksi bagi generasi muda dari pengaruh ekstremisme di dunia maya.

Ia menilai, pesatnya teknologi digital membawa tantangan anyar dalam penanganan terorisme.

Diungkapkan bahwa media digital, termasuk jejaring sosial, platform permainan gim daring, hingga teknologi kecerdasan buatan (AI), berisiko disalahgunakan untuk melancarkan propaganda, membangun jaringan pengaruh, sampai mengincar kalangan pemuda.

Di sisi lain, Eddy menegaskan bahwa perlindungan terhadap generasi muda patut menjadi fokus bersama. 

Peningkatan literasi digital, keahlian mengidentifikasi narasi propaganda, serta penguatan daya tangkal warga merupakan komponen penting untuk membentengi generasi muda dari paparan ekstremisme berbasis kekerasan.

Dalam merespons dinamika tersebut, Indonesia mempererat kemitraan guna meningkatkan kewaspadaan sekaligus kemampuan menangani ancaman terorisme dan ekstremisme kekerasan di ruang siber, salah satunya bersama Brunei Darussalam.

Komitmen ini tercetus saat pertemuannya dengan Delegasi Brunei Research Department (BRD) yang dipimpin Asmawee Muhammad di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (27/8/2026).

Selaras dengan hal tersebut, Asmawee mengungkapkan bahwa pesatnya perkembangan teknologi digital menghadirkan ancaman baru yang mesti diantisipasi secara kolektif.

"Brunei memiliki tingkat penetrasi internet yang sangat tinggi, anak-anak dan generasi muda juga merupakan kelompok yang sangat aktif menggunakan internet, termasuk bermain gim. Hal ini menjadi kekhawatiran karena mereka dapat didekati atau dipengaruhi melalui platform gim," katanya.

Asmawee turut menyoroti kecanggihan kecerdasan buatan yang berpotensi dipakai untuk memproduksi dan mendistribusikan propaganda secara lebih cepat dan massif.

Menurut dia, fenomena ini mengindikasikan pentingnya memperkuat kapabilitas kedua negara dalam memetakan pola ancaman digital sekaligus memperkokoh skema pencegahan agar warga, khususnya kalangan muda, tidak mudah terpengaruh oleh doktrin ekstremisme kekerasan.

Di samping menangani ancaman domestik, ia menilai sinergi internasional juga dibutuhkan demi mempertinggi jaminan keselamatan warga negara sewaktu berada di luar negeri, utamanya saat melawat ke negara atau wilayah dengan tingkat risiko terorisme yang lebih tinggi.

"Kekhawatiran kami bukan hanya terhadap ancaman yang terjadi di Brunei, tetapi juga terhadap warga Brunei yang berada di negara-negara lain yang memiliki tingkat ancaman terorisme lebih tinggi, termasuk di tempat-tempat yang mereka kunjungi," ungkapnya.

Pertemuan antara BNPT dan BRD ini menjadi pijakan vital untuk memperkokoh kemitraan Indonesia dan Brunei Darussalam dalam menyikapi pergeseran lanskap ancaman terorisme.

Sinergi kedua negara didorong bukan semata pada aspek pertukaran informasi, melainkan juga pada penyamaan persepsi atas peta ancaman, inovasi teknologi, serta formulasi strategi pencegahan yang fleksibel.

Kolaborasi ini sekaligus membuktikan bahwa membendung terorisme pada era digital menuntut kordinasi lintas negara. 

Ketika propaganda mampu menembus batas teritorial, maka kewaspadaan serta ketahanan publik pun perlu dibangun lewat kerja sama yang melampaui sekat-sekat geografis.

Bagi masyarakat, terutama kaum muda, penguatan sinergi internasional ini menjadi bagian dari komitmen untuk menjamin ruang digital tetap aman untuk sarana belajar, berkreasi, serta berinteraksi tanpa terancam menjadi target propaganda maupun rekrutmen ekstremisme berbasis kekerasan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index