JAKARTA - Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) Banten, Senin (7/9/2026) memperpanjang masa penutupan operasional hingga pukul 18.00 WIB dari ketetapan awal pukul 08.59 WIB. Kebijakan ini diambil sebagai dampak dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang kian meningkat.
"Sehubungan dengan meningkatnya aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau, Bandara Internasional Soekarno-Hatta melakukan penghentian penerbangan sampai pukul 18.00 WIB," jelas akun Instagram resmi @soekarnohattaairport, Senin (7/9/2026).
Pihak pengelola Bandara Soekarno-Hatta menghimbau para pengguna jasa penerbangan, khususnya calon penumpang di CGK, untuk memeriksa secara berkala status serta jadwal penerbangan via kanal resmi di Contact Centre Injourney Airports 172.
"Kami mohn maaf atas ketidaknyamanan yang mungkin terjadi. Terima kasih atas perhatian, pengertian, dan kerjasama seluruh pengguna jasa Bandara Internasional Soekarno Hatta," jelasnya.
Meski demikian, terdapat tujuh (7) bandara alternatif yang hingga saat ini tidak ditutup dan masih beroperasi secara normal di tengah peristiwa erupsi Gunung Anak Krakatau. Berikut daftarnya.
7 bandara alternatif
Melalui unggahan di akun Instagram resmi @injourneyairports, Senin (7/9/2026), diinformasikan daftar bandara yang tidak terkena penutupan dan tetap berjalan sebagaimana mestinya.
"Selama penghentian operasional di beberapa bandara, berikut 7 bandara alternatif yang beroperasi secara normal untuk dapat digunakan oleh maskapai dan calon penumpang," jelasnya.
Berikut daftar tujuh bandara yang beroperasi:
Bandara Internasional Yogyakarta
Bandara I Gusti Ngurah Rai
Bandara Jenderal Ahmad Yani
Bandara Adi Soemarmo
Bandara Juanda
Bandara Sultan Syarif Kasim II
Bandara Kertajati
Erupsi Anak Krakatau berakhir
Di sisi lain, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengonfirmasi bahwa rentetan erupsi beruntun Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda telah usai. Fase erupsi menerus tersebut tercatat berlangsung selama 25 jam.
Mengutip laporan Antara, Senin (7/9/2026), Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menyampaikan bahwa periode erupsi beruntun dimulai sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB hingga berakhir pada Minggu (6/9/2026) pukul 00.40 WIB.
“Pasca-berakhirnya episode tersebut, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau bertransisi kembali ke karakteristik erupsi strombolian yang ditandai dengan perekaman tiga kali gempa letusan/erupsi strombolian," kata Kepala Badan Geologi, Lana Saria dilansir dari Antara, Senin (7/9/2026).
Walaupun tahapan erupsi menerus telah usai, peluang terjadinya erupsi susulan dinilai masih cukup tinggi dalam kurun waktu mendatang.
Merujuk pada pantauan instrumen periode 6-7 September 2026, Badan Geologi merekam terjadinya tiga kali gempa erupsi, sembilan kali gempa hembusan, 93 kali gempa low frequency, 98 kali gempa hybrid/fase banyak, empat kali gempa tremor menerus, serta satu kali gempa vulkanik dangkal.
Grafik perataan amplitudo RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement) yang sempat menanjak pada 5 September 2026 kini mulai melandai sejak 6 September 2026. Dari hasil evaluasi menyeluruh ini, Badan Geologi tetap memertahankan status aktivitas Gunung Anak Krakatau pada Level III (Siaga).