JAKARTA — Laporan mutakhir dalam jurnal Emerging Infectious Diseases terbitan September 2026 membeberkan lonjakan tajam kasus infeksi jamur Trichophyton indotineae, pemicu penyakit kurap yang resisten terhadap terbinafine—salah satu jenis obat antijamur yang paling lazim dipakai.
Mengutip laporan People, para ilmuwan awal mulanya mendeteksi keberadaan Trichophyton indotineae pada 2008.
Meski demikian, memasuki tahun 2016, terjadi lonjakan tajam kasus yang sukar disembuhkan di India.
Semenjak periode tersebut, paparan infeksi ini mulai terdeteksi di berbagai belahan dunia.
Melalui pencermatan data identifikasi jamur yang terhimpun sepanjang Maret 2022 hingga Desember 2025 lewat jaringan Mass Spectrometry Identification (MSI), tim peneliti mendapati penularan T. indotineae melesat dari 237 kasus pada 2022 menjadi 1.692 kasus pada 2025. Perkembangan ini mengindikasikan adanya peningkatan infeksi global yang bermakna.
Serupa dengan famili jamur sejenis, T. indotineae memicu timbulnya kurap, yakni gangguan kulit yang dinamai demikian lantaran polanya yang membulat.
"Tidak ada cacing yang terlibat," tulis laporan dikutip Mayo Clinic.
Paparan infeksi ini umumnya didiagnosis berdasar letak kemunculannya: bila berada di kaki kerap dinamai kutu air, sedangkan di lipatan selangkangan disebut kurap selangkangan atau jock itch.
Kondisi ini menimbulkan ruam yang terasa gatal, bersisik, serta menggelembung menonjol.
Pada kasus penularan T. indotineae, spesies jamur ini memiliki ketahanan terhadap terbinafine, antijamur yang acap dipergunakan.
"Jamur ini menyebar melalui kontak kulit langsung dengan orang yang terinfeksi, tapi juga bisa menyebar lewat benda atau permukaan yang baru saja disentuh atau digosokkan oleh orang atau hewan yang terinfeksi, seperti pakaian, handuk, seprai dan sarung bantal, sisir, dan sikat rambut," tulis peneliti dalam laporannya.
Temuan kasus infeksi ini telah terkonfirmasi di 29 negara, meliputi kawasan Amerika Serikat, Kanada, hingga Inggris.
Tim peneliti mendesak dilakukannya deteksi sejak dini terhadap paparan infeksi ini, seraya menggarisbawahi bahwa fenomena tersebut telah menjadi perhatian publik di bidang kesehatan.
"Otoritas kesehatan perlu menangani masalah internasional yang berkembang cepat ini, yang disertai berbagai tantangan terapi," tulis para peneliti dalam Emerging Infectious Diseases.
National Library of Medicine turut menegaskan hal serupa dalam laporan sebelumnya soal jamur ini, menulis bahwa langkah-langkah penanganan "perlu segera diterapkan untuk membendung ancaman yang sedang menyebar di berbagai negara ini."
Saudara-saudara kami di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kami mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT