JAKARTA - Menjadi sosok yang pendiam tidak lantas membuat seseorang tampak membosankan. Individu yang tak banyak bicara tetap dapat menjadi teman mengobrol yang menyenangkan selama mampu mendengarkan, menunjukkan rasa tertarik, serta memberikan respons yang pas dalam percakapan.
Sebaliknya, orang yang sangat aktif bicara pun tidak selalu terlihat menarik. Terdapat sejumlah perilaku tertentu yang justru membuat seseorang dinilai membosankan oleh orang lain.
Hal ini dipelajari oleh Wijnand A. P. van Tilburg, Eric R. Igou, dan Mehr Panjwani melalui penelitian yang terbit dalam jurnal Personality and Social Psychology Bulletin. Pada studi tersebut, para peneliti mengamati karakteristik yang secara stereotip dihubungkan masyarakat dengan sosok yang membosankan.
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa sifat seperti tidak memiliki selera humor, tidak punya pendirian atau pendapat, serta cenderung berpikiran negatif termasuk di antara ciri utama yang paling kuat dikaitkan dengan figur membosankan.
Namun, perlu dipahami bahwa kajian ini berfokus pada bagaimana seseorang dipersepsikan oleh orang lain, bukan membuktikan bahwa individu dengan karakter tersebut pasti membosankan. Lantas, kebiasaan seperti apa yang dapat membuat seseorang terkesan membosankan?
Ciri orang membosankan
1. Cenderung negatif
Sikap yang terlalu negatif menjadi salah satu ciri utama yang dikaitkan dengan sosok membosankan dalam penelitian van Tilburg dan timnya.
Di kehidupan sehari-hari, hal ini dapat tecermin dari kebiasaan yang selalu melihat sisi buruk dalam pelbagai situasi. Saat lawan bicara membagikan kisah yang menyenangkan, respons yang diberikan justru berfokus pada cela atau kekurangannya.
Sesekali mengeluh tentu merupakan hal yang lumrah. Akan tetapi, apabila hampir seluruh percakapan didominasi oleh keluhan, interaksi pun terasa kurang menyenangkan bagi lawan bicara. Studi tersebut mendapati bahwa karakter negatif merupakan salah satu ciri personal yang dinilai cukup khas dari stereotip figur membosankan.
2. Jarang memiliki pendapat sendiri
Sosok yang dinilai membosankan juga kerap diidentikkan dengan pribadi yang tidak mempunyai opini atau sudut pandang pribadi.
Interaksi biasanya menjadi lebih hidup ketika setiap individu dapat saling bertukar pikiran. Adanya perbedaan pandangan pun tidak selalu harus berujung pada perselisihan.
Sebaliknya, orang yang selalu menjawab "terserah", terus-terusan mengintil pendapat orang lain, atau enggan mengutarakan pikirannya dapat membuat obrolan terasa stagnan. Dalam kajian tersebut, minimnya pendapat pribadi termasuk karakteristik yang sangat kuat dalam stereotip sosok membosankan.
3. Kurang memiliki selera humor
Humor juga menjadi salah satu unsur penting yang berkaitan dengan persepsi mengenai orang membosankan. Peneliti menemukan bahwa ketiadaan selera humor termasuk di antara ciri personal yang paling kuat dihubungkan dengan sosok membosankan. Walau demikian, bukan berarti seseorang wajib terus-menerus melempar lelucon agar terlihat menarik.
Humor dalam sebuah percakapan dapat hadir lewat bentuk yang sederhana, seperti kemampuan merespons situasi secara santai atau ikut tertawa sewaktu teman bicara melontarkan candaan.
4. Kurang memiliki minat atau hobi
Hal menarik lainnya, penelitian van Tilburg dan kolega turut menemukan bahwa ketiadaan hobi termasuk ciri yang dihubungkan dengan figur membosankan. Mempunyai hobi bukan berarti seseorang wajib melakukan aktivitas yang terlampau unik atau memiliki jadwal yang padat.
Kegemaran sederhana seperti membaca, memasak, berolahraga, berkebun, menonton film, hingga mengoleksi barang tertentu dapat menjadi topik pembicaraan sekaligus menunjukkan adanya ketertarikan pada hal tertentu. Dengan kata lain, memiliki hobi dapat menyediakan lebih banyak topik untuk saling berbagi cerita saat berinteraksi.
5. Terlalu berpusat pada diri sendiri
Riset tersebut juga mencermati interaksi dalam percakapan antara individu yang sebelumnya dinilai membosankan dan yang dinilai menarik. Hasilnya memperlihatkan adanya perbedaan gaya komunikasi di antara kedua kelompok tersebut.
Pada praktiknya, sikap yang terlalu berpusat pada diri sendiri terlihat ketika seseorang terus-menerus mendominasi obrolan tentang pengalaman, masalah, atau pencapaian pribadinya tanpa memberikan ruang bagi lawan bicara untuk berbagi cerita.