JAKARTA - Pemasangan alat pacu jantung permanen (permanent pacemaker/PPM) menjadi intervensi medis krusial bagi penderita bradiaritmia guna menstabilkan ritme jantung. Meski begitu, perangkat konvensional yang memakai kabel panjang serta kantong generator di dada memiliki risiko komplikasi tersendiri pada kelompok pasien tertentu.
Kehadiran teknologi leadless pacemaker atau alat pacu jantung tanpa kabel menjadi inovasi mutakhir untuk melindungi pasien dalam kategori rentan.
Keunggulan leadless pacemaker untuk pasien risiko tinggi
Lebih aman dan minim risiko untuk lansia
Perangkat pacu jantung standar umumnya memerlukan sayatan kantong di bawah kulit bahu dan penarikan kabel melalui pembuluh darah besar menuju ruang jantung. Bagi pasien lanjut usia (lansia), kondisi kulit yang makin tipis serta menyusutnya lapisan lemak membuat komponen generator rentan menonjol keluar hingga memicu infeksi parah.
Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Siloam Hospitals TB Simatupang, dr. Budi Ario Tejo, SpJP(K), FIHA, menegaskan bahwa profil penerima perangkat ini ditujukan bagi individu dengan tantangan fisik khusus, seperti lansia.
"Sebagian besar pasien yang menerima leadless pacemaker ini usianya memang sudah sangat lanjut," ungkap dr. Budi dalam media briefing seputar pengenalan leadless pacemaker secara daring, Rabu (2/9/2026).
Tidak mengganggu akses vaskular pasien hemodialisa
Selain faktor usia, hambatan medis yang kompleks turut dirasakan oleh penderita aritmia yang wajib menjalani prosedur hemodialisa atau cuci darah secara rutin.
Tindakan cuci darah sangat bergantung pada kelancaran akses pembuluh darah besar di area bahu maupun lengan atas. Jika pasien sudah telanjur menggunakan alat pacu konvensional, jalur vaskular penting tersebut akan terhambat secara permanen.
"Kalau kami sudah pasang pacemaker yang menggunakan kabel melalui pembuluh darah besar, pembuluh darah tersebut tidak bisa kami gunakan untuk akses, katakanlah untuk cuci darah atau kepentingan yang lainnya," terang dr. Budi.
Penggunaan perangkat tanpa kabel membuat kedua prosedur medis ini dapat berjalan berdampingan tanpa saling merebut jalur pembuluh darah utama. Ukuran perangkat yang 90 persen lebih ringkas, serta penanamannya secara langsung di dalam bilik kanan jantung, terbukti memangkas potensi buruk terkait kantong generator dan kabel transvena.
"Karena tidak ada generator yang dipasang di permukaan kulit atau di bawah kulit daerah bahu, kemudian juga tidak ada kabel, tentu risiko-risiko terkait kantong generator tersebut dan kabelnya juga menjadi lebih kecil," ujar dr. Budi.
Daya tahan baterai handal dan estetika tubuh terjaga
Meskipun dibuat tanpa kabel penarik dan berukuran amat ringkas, perangkat ini dibekali daya tahan baterai yang cukup panjang demi menjaga kestabilan organ dalam jangka panjang. Jika daya listriknya habis setelah bertahun-tahun, tim medis cukup menanamkan perangkat baru di dalam ruang jantung tanpa perlu membongkar unit yang lama.
"Secara dimensi, ruang bilik jantung kanan itu bisa mengakomodir tiga sampai empat leadless pacemaker. Jadi sebetulnya ini bukan suatu hambatan yang signifikan," sebut dr. Budi.
Ditinjau dari penampilan fisik, tidak adanya tonjolan kotak baterai di bawah kulit dada turut memberikan kenyamanan psikologis serta hasil estetika yang lebih memuaskan bagi pasien. Prosedur penanamannya yang memakai kateter melalui pembuluh vena di pangkal paha juga membebaskan pasien dari luka sayatan bedah terbuka yang lebar.
"Prosedur pemasangannya juga tidak menggunakan luka terbuka untuk penggunaan seperti pada yang pacemaker konvensional. Ini kemungkinan pemulihannya juga akan lebih cepat," tutur dr. Budi.
Hospital Director Siloam Hospitals TB Simatupang, dr. Dewi Vighuna, M.Sc. menambahkan, penentuan model terapi ini senantiasa disesuaikan secara cermat lewat pertimbangan klinis mendalam antara tim ahli dan keluarga pasien.