Stasiun Karet Ditutup, Pekerja Keluhkan Akses ke BNI City Lebih Jauh

Stasiun Karet Ditutup, Pekerja Keluhkan Akses ke BNI City Lebih Jauh
Jalanan penghubung Sudirman Baru Riverside [FOTO: NET].

JAKARTA — Stasiun Karet, Jakarta Pusat, resmi menghentikan aktivitas pelayanan naik dan turun penumpang Commuter Line sejak Selasa (1/9/2026). 

Langkah penutupan yang dijadwalkan berlangsung hingga 31 Desember 2026 tersebut ditempuh seiring dengan bergulirnya pengerjaan integrasi Stasiun Karet menuju Stasiun Sudirman Baru atau BNI City.

Sepanjang masa penutupan, alur para penumpang yang kerap menggunakan Stasiun Karet dialihkan ke Stasiun BNI City. 

Para pengguna Commuter Line sanggup mengakses BNI City melintasi lorong selasar di samping Stasiun Karet.

Untuk kalangan pekerja di area Karet Tengsin, kebijakan pengalihan tersebut menjadikan jarak perjalanan ke tempat kerja kian membentang, terkhusus bagi mereka yang selama ini mengandalkan akses berjalan kaki dari Stasiun Karet.

Satu di antaranya yakni Alifian (26), seorang pegawai swasta di kawasan Karet Tengsin, Jakarta Pusat. 

Ia menyebutkan Stasiun Karet memegang peranan krusial lantaran menjadi simpul pemberhentian terdekat dari lokasi kantornya dengan bentang jarak sekitar 750 meter.

“Cukup penting, karena ini stasiunnya terdekat menuju ke Kantor. Kurang lebih jaraknya hanya 750 meter, masih terjangkau untuk berjalan kaki,” kata Alifian kepada Kompas.com pada Selasa (2/8/2026).

Perempuan berusia 26 tahun ini mengaku lumayan merasa berat atas penutupan layanan naik dan turun penumpang di Stasiun Karet sebab bentang aksesibilitas BNI City tergolong makin jauh.

“Karenanya agak lumayan keberatan saat tahu akses naik turun penumpang di stasiun karet dihentikan. Karena aksesibilitasnya jauh berbeda bila dibandingkan dengan Stasiun BNI City,” ujarnya.

Menurut paparan Alifian, jarak menuju BNI City dari kantornya berada di kisaran 1,3 kilometer, atau membengkak hampir dua kali lipat jika ditakar dari akses Stasiun Karet.

Alifian bahkan sudah menjajal langsung berjalan dari pintu akses Sudirman Baru menuju Stasiun Karet. Menurut penuturannya, perjalanan fisik itu memakan waktu mendekati lima menit serta amat menyerap stamina pejalan kaki.

“Sudah sempat mencoba berjalan dari akses Sudirman baru sampai di Stasiun Karet butuh waktu hampir 5menit. Sehingga khusus untuk pejalank kaki benar-benar butuh tenaga ekstra lagi,” ceritanya.

Nada keluhan senada diutarakan Dany (28), pegawai swasta di Jakarta. 

Ia menilai keberadaan Stasiun Karet jauh lebih fleksibel dicapai lantaran posisinya terhitung amat dekat dengan kantor dibanding titik transportasi umum lainnya.

Ia memprediksi pengalihan rute ke BNI City bakal menyita tambahan waktu perjalanan bagi kalangan pejalan kaki, kendati tidak sampai menguras ongkos ekstra.

“Bagi pejalan kaki seperti saya, pengalihan ke Stasiun BNI City tentu akan menambah waktu perjalanan. Namun, tidak sampai menambah biaya,” keluhnya.

Dany mengestimasi durasi perjalanan fisik itu membengkak hingga rentang lima menit.

“Kalau dulu dari Stasiun Karet ke kantor bisa sekitar 10 menit, mungkin ada tambahan maksimal 5 menit dari BNI City,” katanya.

Meskipun demikian, Dany menilai sarana fisik Stasiun BNI City jauh lebih memadai dan nyaman. 

Ia menaruh harapan agar fasilitas khusus pejalan kaki dipoles semakin tertata serta disokong keterpaduan antarmoda yang mengarah ke kawasan Karet Tengsin dan Sudirman.

Di sisi lain, Sekar Ayu (27), pegawai swasta di wilayah Palmerah, mengemukakan bahwa kehadiran Stasiun Karet sejauh ini amat efektif memangkas durasi tempuh, terutama kala hendak bertolak ke area gedung DPR maupun kantornya di Palmerah.

“Penting banget. Apalagi kalo mau menuju DPR atau kantor saya di Palmerah. Menghindari transit Tanah Abang, mangkas waktu, dan tarif ojek masih murah,” kata Sekar.

Berdasarkan pandangan Sekar, keandalan BNI City sebagai stasiun pengganti amat dipengaruhi lokasi tujuan akhir penumpang. 

Bagi kalangan pekerja dengan tujuan kawasan Sudirman, BNI City dinilai masih lekas dijangkau. Namun, hal itu akan berbeda situasinya bagi para pekerja di wilayah Benhil dan Karet.

Sekar turut memprediksi waktu perjalanan akan molor akibat keharusan berjalan fisik lebih jauh sebelum sanggup beralih memakai moda transportasi pendukung.

“Waktu kayaknya bertambah iya karena harus jalan dulu buat keluar ke jalan raya pesen ojek. Tapi untuk biaya kayaknya enggak sih, sama aja,” katanya.

Walau begitu, ketiga pegawai tersebut sepakat bahwa trotoar pejalan kaki yang mengarah ke BNI City pada dasarnya sudah tergolong nyaman. Alifian menceritakan fasilitas jalur pedestrian sudah mencukupi kategori walkable, sementara Sekar menganggap jalurnya sudah terasa selaras sebab beralaskan paving serta dijaga oleh personel keamanan.

Namun demikian, mereka berharap agar peranti pendukung tetap diperhatikan secara cermat sepanjang proses pengalihan berjalan. Alifian mengusulkan pembangunan JPO guna memudahkan pergerakan pekerja saat menyeberang, utamanya pada jam-jam padat.

“JPO juga dibutuhkan, karena selama ini agak struggling menyebrang jalan di perempatan Karet. Apalagi di jam sibuk, jadi JPO ke area sebrang juga sangat membantu,” ujar Alifian.

Dany turut mengutarakan harapannya akan ketersediaan akses pedestrian yang lebih rapi serta terintegrasi dengan moda umum semacam armada pengumpan JakLingko atau TransJakarta rute Karet Tengsin dan Sudirman.

Sementara itu, Sekar menekankan perhatiannya pada beberapa detail di area pedestrian, termasuk perihal tata letak guiding block hingga standar kebersihan lorong.

“Guiding block di akses pejalan kakinya di beberapa titik terlalu mepet sama pohon, kasihan tunanetra nanti kalo nabrak pohon,” kata Sekar.

Sekar juga menaruh harapan agar perlintasan menuju BNI City senantiasa terawat kebersihannya serta tetap ramah buat difungsikan oleh para penumpang yang dipindahkan dari Stasiun Karet.

“Kalo dari awal sudah kumuh atau jorok, nanti pengguna juga bakal semakin seenaknya buang sampah sembarangan atau buang ludah. Sarannya dijadikan vibes nya seperti di Terowongan Kendal itu jadi seperti berkelas,” kata Sekar.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index