JAKARTA — Menteri Perdagangan Budi Santoso memaparkan faktor pemicu nilai ekspor komoditas andalan Indonesia mengalami kenaikan, padahal volume pengirimannya malah menyusut sepanjang Januari–Juli 2026.
Menurut penjelasannya, dinamika geopolitik global yang bergerak dinamis turut memengaruhi peta pasar serta pola transaksi perdagangan Indonesia.
“Ya jadi gini ya, ketika geopolitik itu seperti ini ya. Jadi pasar itu berkembang cepat, pasar itu berkembang cepat,” kata Budi di Kantornya di Jakarta Pusat, Rabu (2/9/2026).
Budi memberi gambaran pergeseran pasar yang timbul akibat gejolak di Selat Hormuz.
Situasi itu sempat membuat Indonesia mendapati hambatan pasokan nafta sehingga mesti mengalihkan pencarian ke negara produsen lain.
“Kami kan kesulitan dapat nafta. Tapi tiba-tiba kami harus mencari, mencari suppliernya di mana? Dapatlah Amerika. Kemarin saya ketemu Menteri Perdagangan India, dia juga menawarkan. Yang selama ini belum pernah,” ujarnya.
Budi menilai realita tersebut memperlihatkan bagaimana turbulensi geopolitik sanggup mengubah konstelasi hubungan perdagangan dalam waktu singkat, sekaligus membuka celah kemitraan anyar dengan negara lain.
Di sisi lain, pergeseran iklim global tersebut memicu dampak terhadap cakupan wilayah tujuan ekspor Indonesia.
Salah satu yang terdampak yakni kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi pasar utama pengiriman komoditas nasional.
“Kami misalnya pasar di Timur Tengah, 3,96 persen pangsa pasar kami ke sana. Tapi kan sekarang juga terganggu. Nah itu kan bagaimana kami juga harus mencari yang baru,” kata Budi.
Budi menggarisbawahi bahwa pemerintah bakal gencar menggenjot pertumbuhan ekspor di tengah pusaran perubahan pasar internasional.
Langkah konkret yang diambil yakni memperluas pencarian pembeli maupun tujuan pasar anyar demi menjaga tren pertumbuhan ekspor Indonesia.
“Yang kami kejar adalah salah satunya bagaimana dengan perubahan ini kami harus tetap surplus. Ekspor kami harus terus meningkat meskipun kami harus terus mencari buyer,” tuturnya.
Selain berekspansi ke pasar baru, pemerintah bakal mengakselerasi perampungan kerja sama perjanjian dagang dengan beberapa negara mitra.
Menurut Budi, adanya pakta perdagangan menjadi kunci dalam membuka pintu akses pasar yang jauh lebih terjangkau bagi komoditas asal Indonesia.
“Yang kedua, bagaimana kami mempercepat perjanjian dagang. Ya karena itu akses pasar yang paling mudah. Dan kami juga tidak mudah untuk bisa menyelesaikan perjanjian dagang itu,” tegasnya.
Sebagai informasi tambahan, Badan Pusat Statistik (BPS) merekam bahwa pencapaian nilai ekspor beberapa komoditas unggulan Indonesia tercatat menanjak sepanjang Januari–Juli 2026, walau volume pengapalannya merosot.
Kondisi demikian dijumpai pada komoditas batu bara, besi dan baja, hingga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) beserta produk turunannya.
Pada sektor komoditas batu bara, nilai ekspor mencatatkan kenaikan 4,75 persen menjadi 14,47 miliar dollar AS dari torehan 13,81 miliar dollar AS pada periode yang sama.
Namun demikian, volume pengirimannya terkoreksi 6,17 persen menjadi 201,47 juta ton dari posisi semula 214,71 juta ton.
Fenomena serupa menimpa komoditas besi dan baja. Nilai ekspornya terangkat 2,77 persen menembus 16,54 miliar dollar AS, sedangkan volume kargo yang dikirimkan tergerus 5,77 persen ke level 12,37 juta ton.
Sementara itu, perolehan nilai ekspor CPO beserta produk olahannya mendapati peningkatan 5,49 persen sepanjang periode Januari–Juli 2026.
Lonjakan nilai tersebut terjadi kendati tonase pengiriman fisik komoditas tersebut terkikis.