JAKARTA — Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyatakan bahwa estimasi total kerugian akibat musibah kebakaran di Desa Adat Sade, Nusa Tenggara Barat (NTB), menembus angka Rp33,84 miliar.
"Kami telah mendapat laporan total kerugian ada Rp33,84 miliar dan kami telah melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah," ucap Widiyanti ketika mengikuti Rapat Kerja Bersama Komisi VII di Jakarta, Senin.
Lebih lanjut, Widiyanti menjelaskan bahwa insiden kebakaran di Desa Sade ini menimbulkan kerusakan pada sejumlah bangunan penting. Berdasarkan pendataan, total unit hunian yang mengalami dampak tercatat sebanyak 75 unit, sementara bangunan di luar kawasan desa yang turut terdampak ada 20 unit.
Di samping itu, fasilitas ruang pertemuan tradisional yang terkena musibah meliputi empat unit Berugak Sekenam khas Suku Sasak Lombok, enam unit Berugak Sakepat, serta satu unit Bale Beleq.
Adapun sarana penunjang lain yang turut terdampak mencakup delapan lumbung padi, satu unit fasilitas toilet umum, satu gerbang pintu masuk, satu pelonggu, satu unit masjid adat, beserta 69 gerai seni atau artshop milik pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah setempat.
Widiyanti merinci bahwa jumlah pekerja sektor pariwisata yang terdampak musibah ini terdiri atas 75 pemandu wisata lokal, 120 perajin kain tenun, 60 pedagang cendera mata serta UMKM, 30 seniman tari dan penabuh gendang belek, 15 petugas pengelola parkir bersama tim keamanan, serta 20 anggota Kelompok Sadar Wisata.
"Sehingga total pelaku pariwisata ada 320 orang yang terdampak atau 189 kepala keluarga," terang Widiyanti.
Guna merespons situasi darurat tersebut, Widiyanti menegaskan bahwa pihaknya telah menjalin koordinasi intensif bersama jajaran pemda terkait guna merumuskan skema penanganan darurat jangka pendek dan strategi lanjutan jangka panjang.
Pada fase penanganan jangka pendek, langkah yang ditempuh meliputi penyediaan serta penyaluran cadangan logistik makanan bagi warga terdampak, pelaksanaan program pemberdayaan warga dan pelaku pariwisata, layanan pemulihan trauma, hingga penyelenggaraan bimbingan teknis bagi Pokdarwis.
Secara khusus, Kementerian Pariwisata turut menginisiasi pendirian dapur umum serta menyalurkan bantuan logistik melalui sinergi Politeknik Pariwisata Lombok bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana, jajaran TNI/Polri, serta Palang Merah Indonesia.
Pemerintah juga menyiapkan agenda pembangunan fasilitas ibadah masjid darurat serta museum sementara.
"Sehingga saat event MotoGP nanti masih bisa dikunjungi oleh wisatawan," tandasnya.
Sementara itu, untuk agenda penanganan jangka panjang, pemerintah berencana membentuk gugus tugas lintas instansi kementerian dan lembaga demi memulihkan aktivitas di Desa Sade, membuka satu kanal rekening donasi terpusat, merancang perencanaan induk rekonstruksi, sampai membangun hunian tetap yang layak huni.
Ia menambahkan, kawasan Desa Adat Sade merupakan satu dari total 21 dusun yang berada dalam lingkup Desa Wisata Rembitan. Berdasarkan pencatatan pada platform Jejaring Desa Wisata, status klasifikasi daerah tersebut masih tergolong sebagai kategori desa wisata berkembang.
Dalam kondisi normal, rata-rata tingkat kunjungan wisatawan harian ke desa tersebut bisa menembus angka 200 orang. Sedangkan pada periode liburan panjang atau musim kunjungan puncak, jumlah pelancong mampu melonjak hingga kisaran 500 sampai 1.000 orang per hari.
Widiyanti memaparkan bahwa nilai perputaran roda ekonomi di Desa Sade selama periode sepi pengunjung berkisar antara Rp22,5 juta hingga Rp35 juta per hari. Adapun ketika memasuki musim liburan ramai, pendapatan harian masyarakat setempat sanggup meroket hingga menyentuh angka Rp50 juta.