Wamen Stella Dorong Anak Indonesia Budayakan Sains Sejak Dini

Wamen Stella Dorong Anak Indonesia Budayakan Sains Sejak Dini
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie [FOTO: NET].

JAKARTA - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie mengajak para peserta didik mengukuhkan budaya sains sedari dini lewat pemeliharaan rasa ingin tahu, keberanian melontarkan pertanyaan, serta kecakapan menyusun jawaban berbasiskan data.

"Sains itu untuk semua orang, yang sebenarnya saya tekankan adalah bukan hanya sainsnya, tetapi adalah pemikiran tentang logika dan riset," katanya dalam keterangan di Jakarta, Jumat (28/8/2026).

Wamen Stella memaparkan bahwa sains tak senantiasa berawal dari pertanyaan mengenai faedah secara langsung. 

Beliau mengambil contoh perjalanan penemuan sinar X, teknologi GPS, hingga platform Google guna memperlihatkan bahwa pertanyaan ilmiah kerap menemukan pemanfaatannya jauh selepas penelitian itu dituntaskan.

Google, sebagai gambaran, bertumbuh dari sebuah riset akademik yang mulanya dituangkan ke dalam disertasi serta publikasi ilmiah.

Lantaran hal tersebut, Stella menegaskan bahwa rasa penasaran perlu diberikan ruang yang cukup. 

Pertanyaan yang lahir dari rasa ingin tahu sanggup menjadi titik mula proses ilmiah, sedangkan implementasi praktisnya dapat menyusul kemudian.

"Nomor satu tentang sains itu adalah yang kami biasa sebut pertanyaan dari rasa ingin tahu. Pertanyaan dari rasa ingin tahu, bukan pertanyaan melulu dari rasa untuk apa," katanya.

Pakar di bidang psikologi kognitif tersebut menilai bahwa pembiasaan tradisi sains sanggup dilatih sejak dari bangku sekolah. 

Para siswa dapat mengawalinya dari persoalan sederhana yang ada di sekeliling mereka, lalu mentransformasikannya menjadi pertanyaan yang diurai secara sistematis dan bertumpu pada data.

Sebagai contoh, sambung beliau, pihak sekolah bisa melakukan riset atas volume sampah yang diproduksi atau kuantitas sisa makanan di area kantin.

Pola pikir sedemikian rupa juga amat relevan untuk membedah persoalan lingkungan. Masalah lingkungan mesti didekati lewat jalur riset lantaran tiap elemen di dalamnya terikat satu sama lain.

"Masalah lingkungan tentu saja adalah masalah kami bersama. Dan apapun bagian atau fase dari lingkungan itu memang harus selalu dilakukan dengan riset," ucap Stella.

Wamen Stella menekankan bahwa keikutsertaan dalam ajang kompetisi sains bukan berarti tiap hasil penelitian wajib langsung diimplementasikan, melainkan menjadi wadah untuk mengasah mutu berpikir, menanamkan tradisi bertanya, serta membiasakan siswa menjawab persoalan secara terstruktur dan berbasis data.

Temuan riset yang sudah ada sanggup dikembangkan lebih jauh melalui mekanisme peningkatan skala (scaling up). 

Pengembangan tersebut membutuhkan sinergi yang solid antara peneliti, perguruan tinggi, serta dunia industri agar luaran penelitian dapat beranjak dari fase riset menuju pemanfaatan yang lebih luas.

Dalam bingkai tersebut, Stella menggarisbawahi peran strategis Direktorat Hilirisasi dan Kemitraan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) untuk memacu luaran riset agar sanggup dikembangkan serta dinaikkan skalanya.

"Riset adalah motor pertumbuhan ekonomi bangsa," ucap Stella Christie.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index