ejar Target Kakao 2029, Kemenko Pangan Remajakan Tanaman Tua

ejar Target Kakao 2029, Kemenko Pangan Remajakan Tanaman Tua
Kementerian Koordinator Bidang Pangan Nani Hendiarti [FOTO: NET].

JAKARTA - Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Pangan tengah berikhtiar mengejar target produksi kakao mencapai 634 ribu ton pada tahun 2029. Salah satu langkah yang ditempuh yakni mengeksekusi peremajaan pada pohon-pohon yang sudah berusia tua agar tingkat produktivitasnya dapat lebih meningkat.

"Jangka pendek, khusus untuk kakao kami memiliki program peremajaan, karena banyak tanaman yang sudah tua di berbagai tempat. Kami juga membutuhkan benih yang baik," kata Deputi Bidang Koordinasi Keterjangkauan dan Kemanan Pangan Kementerian Koordinator Bidang Pangan Nani Hendriati saat konfersi pers dalam acara Regional Learning Forum di Hotel Pullman Jakarta Pusat, Kamis (27/8/2026).

Strategi yang digagas Kemenko Pangan guna merealisasikan target produksi 634 ribu ton pada 2029 meliputi pengembangan sektor industri hilir, penguatan produksi komoditas pertanian bernilai tambah, peneraman praktik pertanian berkelanjutan, aspek keterlacakan, serta tindakan konservasi.

Di samping kakao, ajang Regional Learning Forum tersebut turut mengulas keberlanjutan kelapa sawit secara bersama-sama dengan negara mitra, seperti Papua Nugini dan Malaysia.

Kakao dan kelapa sawit merupakan dua dari tujuh komoditas sektor pertanian yang diprioritaskan pemerintah untuk dihilirisasi—sehingga tidak dipasarkan dalam kondisi mentah saja, melainkan diolah agar menghadirkan nilai tambah.

Nani memandang bahwa muara dari agenda hilirisasi adalah memperkokoh rantai nilai domestik, memperlebar peluang bagi para petani, sekaligus melejitkan daya saing Indonesia di pasar internasional.

Kendati demikian, pengembangan komoditas kakao dan kelapa sawit di Indonesia tentu dihadapkan pada beragam tantangan rumit, seperti ancaman perubahan iklim, penurunan keanekaragaman hayati, degradasi lingkungan, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, pihak pemerintah terus berupaya memacu berbagai program kolaborasi bersama mitra maupun negara lain demi memperkuat komoditas tersebut lewat pendekatan pengelolaan lanskap terpadu, pembenahan kelembagaan, sistem keterlacakan, perluasan akses pasar, pembiayaan, hingga peningkatan kapasitas bagi para petani kecil.

Nani menambahkan bahwasanya jajaran petani kecil di berbagai daerah memegang andil amat besar dalam menyokong kelestarian komoditas kakao maupun kelapa sawit.

Guna mengasah kapasitas para petani kakao dan kelapa sawit, Indonesia bersama Papua Nugini dan Malaysia saling bertukar pengetahuan serta pengalaman dalam forum tersebut.

Kemenko Pangan menginstruksikan agar lewat pertukaran wawasan ini, pengolahan kakao dan sawit di Indonesia mampu berjalan maksimal sekaligus menekan potensi kerusakan lingkungan sekecil mungkin.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index