Airlangga: DEFA Pacu Ekonomi Digital RI Hingga 600 Miliar Dolar AS

Airlangga: DEFA Pacu Ekonomi Digital RI Hingga 600 Miliar Dolar AS
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto [FOTO: NET].

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto menilai kesepakatan Digital Economy Framework Agreement (DEFA) ASEAN berpotensi menggenjot nilai ekonomi digital Indonesia hingga menyentuh angka 600 miliar dolar AS.

Airlangga memaparkan berdasarkan hasil analisis sebelumnya, nilai pasar digital ASEAN diproyeksikan mampu melesat dari semula sekitar 1 triliun dolar AS menjadi 2 triliun dolar AS pasca-implementasi DEFA. 

Indonesia sendiri diperkirakan bakal menguasai pangsa sekitar 30-40 persen dari total pasar tersebut.

"Dengan adanya Digital Economy Framework berdasarkan studi yang sebelumnya pasar digital ASEAN 1 triliun (dolar AS) ini akan meningkat menjadi 2 triliun, dan bagi Indonesia sekitar 30 sampai 40 persen, maka ini otomatis kami bisa mendorong digital ekonomi ini sampai 600 miliar dolar," ujar Airlangga di Kantor Kementerian Perdagangan Jakarta, Kamis (27/8/2026).

Berdasarkan penjelasan Airlangga, penguatan ekosistem digital mesti ditopang oleh penyediaan sarana infrastruktur yang memadai, mulai dari pasokan energi hijau, fasilitas pusat data (data center), hingga platform e-commerce.

Pihak pemerintah turut memberikan apresiasi atas tren perkembangan e-commerce yang tak sekadar dimanfaatkan bagi transaksi di tingkat domestik, melainkan mulai difungsikan oleh para pelaku usaha guna memasarkan produknya ke pasar ekspor.

Pada tataran regional ASEAN, pemerintah kini tengah merampungkan persiapan skema DEFA yang ditargetkan dapat diratifikasi pada November 2026 mendatang di Manila, Filipina.

Airlangga menerangkan bahwa salah satu manfaat awal atau low hanging fruit dari keberadaan DEFA adalah proses integrasi sistem pembayaran. 

Indonesia sendiri telah memiliki fasilitas QRIS yang diharapkan dapat diakses secara lebih luas di kawasan negara-negara ASEAN.

Saat ini, integrasi transaksi QRIS telah dapat dimanfaatkan di lima negara ASEAN. Menurut pandangan Airlangga, ekspansi penggunaan QRIS akan memberikan dampak menguntungkan bagi pelaku UMKM sebab para pedagang dapat menikmati efisiensi potongan biaya transaksi yang lebih murah.

"Kalau menggunakan QRIS mendapatkan keuntungan karena tidak ada dalam tanda petik merchant discount. Jadi biayanya untuk pedagang adalah nol," kata Airlangga.

Berbekal sistem pembayaran digital lintas batas negara tersebut, Airlangga mengalkulasi pihak UMKM bakal makin mudah melangsungkan transaksi dengan konsumen dari berbagai negara ASEAN sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan platform digital guna mendukung penetrasi ekspor.

Ia pun mengimbau agar semakin banyak pelaku UMKM yang terintegrasi ke dalam ekosistem digital, khususnya para pelaku usaha yang memproduksi komoditas berbasis keahlian artisan.

"Ini kesempatan buat Pak Menteri UMKM (Maman Abdurrahman) supaya semakin banyak UMKM ini menjadi go digital, apalagi produk-produk yang berupa artisan," imbuhnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index