JAKARTA - Dari penamaan hingga penyajiannya, serabi solo dan serabi bandung tampak serupa, padahal keduanya memiliki perbedaan. Kudapan tradisional yang berasal dari dua kota berbeda ini sebenarnya menyimpan karakter tekstur yang tak sama. Piranti masaknya pun terbilang berbeda.
Apa bedanya serabi solo dan serabi bandung? Bisa dilihat dari teksturnya
Pemilik Serabi Solo Notosuman Ny. Handayani, Yohana Mayin mengungkapkan, perbedaan serabi solo dan serabi bandung dapat dicermati dari tekstur adonannya.
"Kalau serabi bandung itu kering kan, enggak basah," kata Yohana saat ditemui Kompas.com di festival kuliner Kampoeng Tempo Doeloe (KTD), bagian dari JF3 Food Festival 2026 di La Piazza, Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu (19/8/2026).
Topping beragam
Di samping itu, lanjutnya, serabi bandung populer dengan beragam pilihan taburan (topping). Pilihannya bervariasi mulai dari rasa manis hingga opsi gurih seperti olahan oncom.
"Kalau kami (serabi solo) itu basah dan ada arehnya, santannya," tutur generasi keempat dari merek serabi solo legendaris tersebut.
Adapun penganan serabi bandung pada umumnya dihidangkan bersanding kuah kinca atau perpaduan gula merah, santan, serta daun pandan.
Alat masak yang digunakan
Bukan semata tekstur serta variasi topping-nya, kontras antara serabi solo dan serabi bandung turut tampak dari jenis perkakas masak yang dipakai.
Serabi solo dimasak menggunakan wajan baja, sedangkan serabi bandung diolah memanfaatkan wajan tanah liat, sebagaimana mengutip Kompas.com, Jumat (21/8/2026).
Meskipun demikian, laju dinamika kuliner yang terus berkembang membuat peralatan untuk mengolah serabi tak lagi terpaku pada satu media saja, termasuk dalam proses pembuatan serabi bandung maupun serabi solo.