Kisah Elsa Novia Kenalkan Wisata Budaya Tangerang ke Turis Asing

Kisah Elsa Novia Kenalkan Wisata Budaya Tangerang ke Turis Asing
Kreator TikTok Elsa Novia [FOTO: NET].

JAKARTA - Kreator TikTok Elsa Novia memperkenalkan kekayaan sejarah dan budaya Tionghoa-Indonesia di Tangerang lewat konten edukatif hingga kegiatan wisata budaya.

Melalui konten digital dan Benteng Walking Tour, Elsa tak cuma mengajak warga lokal mengenal warisan budaya di daerahnya, tetapi juga menarik minat wisatawan asal Malaysia hingga warga China yang tinggal di Indonesia untuk menyaksikan langsung jejak budaya tersebut.

“Budaya Peranakan ini diceritakan secara langsung karena mengandung nilai-nilai Indonesia. Jadi sudah bercampur dengan budaya Indonesia,” kata Elsa di acara Media Gathering “#Serunya17an: Karya Positif untuk Indonesia – Cara Kreator Muda Manfaatkan TikTok untuk Menggerakkan Perubahan Nyata” di Jakarta, Selasa (18/8/2026).

Elsa mengaku perjalanan menjadi pembuat konten budaya berawal dari proses coba-coba. Perempuan berlatar belakang ahli gizi itu mulanya memproduksi konten seputar kuliner dan gaya hidup sehat.

Namun, sebuah konten mengenai tradisi peringatan satu tahun kematian dalam budaya Tionghoa justru mendapat perhatian besar hingga menembus sekitar satu juta tayangan.

“Masih trial error, dan ternyata yang budaya ini views-nya menarik bagi banyak orang. Akhirnya saya memutuskan bulan November 2022 kontennya membahas budaya Cina Benteng,” ujarnya.

Sejak saat itu, Elsa mulai konsisten mengulas sejarah dan budaya komunitas Tionghoa-Indonesia, khususnya budaya Peranakan dan Cina Benteng. Ia lantas menyadari bahwa informasi yang dibagikan secara daring akan semakin menarik apabila masyarakat dapat merasakannya secara langsung.

Oleh karena itu, Elsa menginisiasi Benteng Walking Tour yang mengajak peserta menyusuri beragam tempat bersejarah di Tangerang.

Salah satu kawasan yang diperkenalkan yakni Pasar Lama Tangerang yang dikenal sebagai area Chinatown, dengan bermacam situs warisan budaya di sekitarnya.

“Kalau misalnya diperkenalkan secara offline, saya buat walking tour. Pertama itu di Pasar Lama Tangerang, jadi itu merupakan Chinatown di sana. Banyak tempat-tempat menarik di sana, heritage,” kata Elsa.

Menurut Elsa, antusiasme terhadap tur budaya tersebut tak hanya datang dari warga Tangerang. Peserta turut berdatangan dari Jakarta, Bogor, Bandung hingga Semarang. Bahkan, agenda tersebut turut memikat minat warga negara asing yang ingin menyelami sejarah dan budaya di lingkungan tempat tinggal mereka.

“Jadi kemarin saya baru tour juga dengan orang-orang China yang tinggal di Alam Sutera. Karena nonton film Dear You, jadi mereka ingin mengenal budaya Jawa di tempat mereka tinggal. Kemarin juga pernah ikut tour dengan Malaysia,” tuturnya.

Bagi Elsa, ketertarikan masyarakat dari luar daerah maupun luar negeri membuktikan bahwa budaya lokal Indonesia memilki daya tarik luas saat dikemas dengan cara yang gampang dipahami dan dekat dengan keseharian. Ia pun berikhtiar menjadikan kontennya bukan sekadar sarana hiburan, melainkan wadah edukasi dan pelestarian budaya.

Salah satu asas yang diterapkannya yakni menyederhanakan informasi sejarah dan budaya memakai bahasa sehari-hari.

“Bagaimana cara merangkum budaya atau sejarah itu dengan bahasa sehari-hari. Kami merangkum dengan bahasa sehari-hari agar mudah dipahami, dan mungkin cari topik yang sering atau yang banyak ditanyakan,” ujarnya.

Guna menjaga keakuratan informasi, Elsa juga rutin membaca buku, berdiskusi dengan komunitas, serta bertukar pengetahuan bersama budayawan. Menurutnya, konten sejarah memerlukan data yang valid agar informasi yang disajikan tidak keliru.

“Karena kontennya edukasi dan sejarah, perlunya data-data yang valid. Saya juga banyak membaca buku, kemudian diskusi sama teman-teman dari komunitas, dan kadang-kadang sharing dengan budayawan yang saya kenal,” katanya.

Konten Berdampak

Salah satu konten yang memberi dampak besar baginya ialah saat ia mengulas keberadaan makam Kapitan Tionghoa terakhir di Tangerang. Konten tersebut diklaim telah disaksikan sekitar 6 juta kali dan membuat keberadaan makam tersebut kian diketahui publik.

“Waktu itu pernah, waktu awal-awal konten, mengviralkan sebuah makam Kapitan terakhir di Tangerang, makam Kapitan Tionghoa. Di TikTok waktu itu views-nya 6 juta kalau nggak salah,” ujar Elsa.

Menurut dia, tingginya perhatian terhadap konten tersebut turut membuat warga sekitar, pemerintah, hingga media mengetahui keberadaan situs bersejarah tersebut. Momentum itu kian memacunya untuk terus mengangkat budaya Peranakan Tionghoa.

“Views-nya sampai orang pemerintahan, warga sekitar dan sebagainya tahu tentang makam tersebut. Media-media juga jadi tahu,” kata dia.

“Isu yang ada di lokal itu bisa semakin diketahui dan populer. Karena konten tersebut, saya terdorong untuk terus meneruskan budaya Peranakan,” ujarnya.

Ruang Komunitas

Elsa juga memandang TikTok bukan sekadar wadah menyebarkan informasi, melainkan pintu masuk untuk membangun komunitas. Lewat fitur komentar, pesan langsung, konten slide, hingga video respons, ia dapat berinteraksi dengan audiens sekaligus memperluas jejaring dengan sesama kreator budaya.

“Berkat TikTok juga, saya bisa membentuk komunitas Peranakan bersama teman-teman kreator dari TikTok melalui fitur DM dan komentar. Jadi, dari komunitas online yang ngobrol-ngobrol, akhirnya bisa membentuk komunitas offline,” ujarnya.

Ia berharap konten buatan dapat membuat semakin banyak orang mengenal keberagaman budaya Indonesia, termasuk kontribusi masyarakat Tionghoa dalam rekam sejarah bangsa.

“Saya ingin banyak orang tahu bahwa orang Tionghoa juga banyak berperan dalam membangun Indonesia, bahkan sebelum kemerdekaan,” kata Elsa.

“Orang Tionghoa di Indonesia itu sudah ada sejak ratusan tahun, dan budaya Tionghoa yang sudah ada di Indonesia juga sudah bercampur dengan budaya Indonesia. Jadi sudah menjadi bagian dari budaya Indonesia,” lanjut Elsa.

Bagi Elsa, menjadi kreator budaya bukan cuma mengejar jumlah penonton. Ada tanggung jawab untuk terus belajar dan memastikan konten yang diproduksi memberi manfaat bagi masyarakat, khususnya generasi muda.

“Saya tidak ingin jadi konten kreator yang sekadar menjadi kreator saja, tapi bisa juga bermanfaat bagi budaya, generasi, dan pendidikan. Jadi sebagai seorang konten kreator, kami tidak cuma dituntut (membuat konten), tapi menjadi semangat untuk belajar terus,” tegas dia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index