JAKARTA — PT PLN (Persero) gencar memacu transformasi pengelolaan Fly Ash and Bottom Ash (FABA) atau sisa abu pembakaran batu bara dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) guna dijadikan sumber daya bernilai tambah bagi warga dan lingkungan.
Langkah tersebut di antaranya direalisasikan PLN lewat optimalisasi FABA dari PLTU Air Anyir, Bangka Belitung (Babel), untuk aneka kebutuhan, mulai dari sektor pertanian, konstruksi, hingga pelestarian ekosistem lingkungan.
Direktur Manajemen Pembangkitan PLN Rizal Calvary Marimbo menyampaikan, pengolahan FABA di Bangka membuktikan efektivitas tata kelola sisa residu pembakaran batu bara sekaligus memperlihatkan tingginya tingkat penyerapan oleh warga sekitar.
“Pemanfaatan FABA di Bangka menunjukkan efektivitas pengelolaan dan tingginya pemanfaatan oleh masyarakat dalam sektor pertanian, konservasi lingkungan, dan konstruksi,” kata Rizal dalam keterangan resmi dikutip Sabtu (15/8/2026).
Menurut penjelasannya, rata-rata rasio pemanfaatan FABA PLN telah menyentuh angka hampir 90%. Malahan, dalam kurun beberapa tahun belakangan, angka pemanfaatan FABA dilaporkan sanggup melampaui volume produksi tahunan.
“PLN tidak hanya memastikan pembangkit mampu menghasilkan listrik yang andal, tetapi juga bagaimana seluruh proses bisnisnya dapat memberikan manfaat yang lebih luas. FABA memiliki potensi untuk dimanfaatkan menjadi berbagai produk bernilai guna,” ujarnya.
Rizal mengutarakan PLN terus membuka kemitraan agar penyerapan FABA tidak berhenti pada ranah penanganan residu pembangkit saja, melainkan sanggup menghadirkan dampak positif bagi kelestarian lingkungan dan perekonomian masyarakat.
Di wilayah Bangka Belitung, FABA telah dipakai untuk serangkaian peruntukan, antara lain bahan baku batako dan paving block, penataan stabilisasi lahan, hingga media konservasi terumbu karang serta fish shelter di kawasan pesisir.
Pengembangan pemanfaatan FABA pun diarahkan untuk menyokong sektor pertanian. PLN telah menjalin kolaborasi bersama Forum Masyarakat Petani (Formap) Babel selama lebih dari tiga tahun guna mengolah FABA menjadi produk pupuk dan pembenah tanah.
Lewat sinergi tersebut, penyerapan FABA menembus kisaran 100 ton tiap bulannya. Sepanjang 2026, program ini berhasil mencetak lebih dari 25.000 karung pupuk FABA yang disalurkan ke beragam wilayah.
Penggunaan FABA sebagai pupuk dan pembenah tanah diklaim membantu para petani memangkas biaya produksi hingga 58,3%, utamanya untuk keperluan pemulihan unsur hara dan pengapuran tanah.
General Manager PLN Unit Induk Pembangkitan (UIK) Dwipantara Rita Triani menerangkan, karakteristik struktur lahan di Bangka Belitung melapangkan peluang besar bagi penyerapan FABA di sektor pertanian.
“Bagi petani Bangka Belitung, manfaat FABA tidak berhenti pada konsep ekonomi sirkuler. Material ini dimanfaatkan sebagai pembenah tanah untuk membantu meningkatkan pH lahan yang cenderung asam, sehingga lebih baik untuk budidaya pertanian,” kata Rita.
PLN pun turut membina kelompok FABA KITE LESTARI yang mengolah sampah organik menjadi pupuk siap pakai. Program ini merangkul 25 penerima manfaat, yang didominasi warga berusia di atas 40 tahun.
Rita menyebutkan, perluasan pemanfaatan FABA ditujukan untuk melahirkan kemanfaatan yang lebih luas, termasuk membuka peluang usaha dan mengasah kompetensi warga lokal.
“Kami ingin FABA memberikan nilai tambah sebesar-besarnya bagi Babel. Tidak berhenti pada pemanfaatan materialnya, tetapi bagaimana dari sana dapat tercipta peluang usaha, meningkatnya kompetensi masyarakat lokal, hingga lahan yang sebelumnya kurang produktif dapat kembali memberikan manfaat,” ujarnya.
Dorong Jadi Program Nasional
Inisiatif PLN dalam memperluas penyerapan FABA menuai apresiasi dari Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya sewaktu melawat ke PLTU Air Anyir pada Kamis (13/8/2026).
Bambang menilai, optimalisasi FABA dapat menjawab pelbagai kebutuhan sekaligus, mulai dari pemulihan lahan bekas tambang, penguatan produktivitas lahan pertanian, sampai pembukaan kegiatan ekonomi baru bagi warga.
“Kami mengapresiasi inovasi pemanfaatan FABA yang dilakukan PLN. FABA yang tadinya merupakan residu, ternyata bisa kami pergunakan untuk pupuk. Pupuk yang dihasilkan ini bagus, hasilnya juga menunjukkan yang menggembirakan, kemudian biayanya murah,” ujarnya.
Menurut Bambang, pemanfaatan FABA pada sektor pertanian selaras dengan fokus agenda pemerintah dalam memperkokoh swasembada pangan nasional. Pihaknya pun berharap optimalisasi serta hilirisasi FABA dapat didorong menjadi agenda program nasional.
“Untuk itu, kami berharap kami dapat menjadikan pemanfaatan FABA ini jadi satu program nasional, bahwa PLN dapat melakukan optimalisasi, hilirisasi daripada FABA itu untuk mendukung ketahanan pangan,” kata Bambang.
Di samping sektor pertanian, Bambang menggarisbawahi krusialnya partisipasi masyarakat dan pelaku usaha lokal dalam ekosistem penyerapan FABA. Dengan demikian, warga tidak sekadar menjadi penerima manfaat, melainkan turut mengambil peran aktif dalam rantai nilai.
“Yang tidak kalah penting adalah bagaimana program ini mampu menggerakkan SDM lokal. Kami ingin masyarakat Bangka Belitung terlibat, memiliki kompetensi, dan mendapatkan nilai ekonomi dari proses pemanfaatannya. Dengan begitu, ekonomi sirkuler benar-benar tumbuh,” ujarnya.
Pengembangan pemanfaatan FABA di sektor pertanian juga berlandaskan standardisasi yang kian solid seiring diterbitkannya SNI 9387:2025 yang mengatur FABA sebagai pembenah tanah dan bahan baku pupuk tanaman.
Ketetapan standar tersebut menjadi salah satu pijakan utama untuk memacu penyerapan FABA secara aman, terukur, dan berkelanjutan, sekaligus memperluas potensi residu pembakaran batu bara tersebut menjadi sumber daya bernilai ekonomi.