JAKARTA - Leicester City dilaporkan tengah memasuki tahap penjualan setelah pihak pemilik klub, keluarga Srivaddhanaprabha lewat King Power International, menawarakan seluruh portofolio klub kepada calon investor.
Mengutip pemberitaan The Athletic, berkas penjualan berjuluk "Project Lineup" telah dirancang oleh bank investasi global Citigroup serta didistribusikan ke sejumlah pihak investor potensial.
Dokumen tersebut mencakup perincian aset Leicester City, mulai dari tim wanita, akademi, King Power Stadium, pusat latihan Seagrave, hingga klub afiliasi mereka di Belgia, OH Leuven.
- Baca Juga Ramalan Zodiak Cancer, 20 September 2026
Berdasarkan keterangan sumber yang memahami proses ini, keluarga Srivaddhanaprabha mematok harga 222 juta poundsterling atau setara Rp 5,33 triliun untuk keseluruhan aset. Namun, nilai transaksi diperkirakan lebih realistis berada di rentang 148 juta poundsterling atau sekitar Rp 3,55 triliun.
Koreksi harga tersebut dipicu oleh kondisi Leicester yang baru saja terperosok ke League One, divisi kasta ketiga kompetisi sepak bola Inggris, serta beban kerugian finansial yang membengkak dalam beberapa tahun belakangan.
Leicester City Catat Kerugian hingga Rp 6,5 Triliun
Leicester mengalami penurunan performa yang tajam dalam kurun empat musim terakhir. Berdasarkan empat laporan keuangan sejak 2021, klub membukukan kerugian secara berturut-turut sebesar 92,5 juta poundsterling, 89,7 juta poundsterling, 19,4 juta poundsterling, dan 71,1 juta poundsterling.
Dengan nilai konversi 1 poundsterling = Rp 24.000, akumulasi kerugian tersebut menembus angka sekitar Rp 6,54 triliun.
Kemunduran juga tampak jelas di atas lapangan. Leicester yang sempat menorehkan tinta emas sebagai jawara Premier League pada 2016 kini terlempar ke League One usai menderita tiga kali degradasi.
Kendati demikian, bundel aset Leicester dianggap tetap memiliki daya pikat tinggi bagi calon investor. Portofolio properti klub pada 2025 tercatat bernilai 204 juta poundsterling atau sekitar Rp 4,90 triliun.
Rinciannya mencakup King Power Stadium senilai 74 juta poundsterling (Rp 1,78 triliun), pusat latihan Seagrave senilai 121 juta poundsterling (Rp 2,90 triliun), serta Belvoir Drive senilai 9 juta poundsterling (Rp 216 miliar).
Leicester turut menguasai lahan di sekeliling King Power Stadium yang diakuisisi seharga 11,6 juta poundsterling (sekitar Rp 278,4 miliar).
Area tanah tersebut mulanya disiapkan untuk proyek perluasan stadion, namun pengerjaannya terhenti usai Leicester terdegradasi dari Premier League di penghujung musim 2022-2023.
Leicester Tawarkan Gelar Premier League hingga Akademi
Lewat Project Lineup, Leicester turut menyoroti rekam jejak kejayaan klub demi memikat minat investor. Keluarga Srivaddhanaprabha bersama King Power International mengambil alih Leicester dari tangan Milan Mandaric pada 2010 dengan nilai sekitar 35 juta poundsterling.
Sejak momen akuisisi itu, Leicester mengukir salah satu era keemasan paling megah sepanjang sejarahnya.
Tim berjuluk The Foxes tersebut menggegerkan dunia saat menjuarai Premier League pada 2016. Lima tahun setelahnya, Leicester sukses mengangkat trofi FA Cup untuk pertama kalinya dalam sejarah klub pada 2021.
Dokumen prospektus tersebut juga menggarisbawahi Leicester sebagai satu dari lima klub saja yang mampu memenangi tiga gelar domestik utama Inggris sejak tahun 2000.
Akademi kategori satu milik Leicester juga menjadi salah satu nilai jual utama yang ditawarkan. Dalam rentang lima tahun terakhir, talenta hasil binaan akademi tersebut tercatat mendatangkan pemasukan dari sektor transfer hingga melampaui 250 juta poundsterling atau sekitar Rp 6 triliun.
Di sisi lain, OH Leuven ditempatkan sebagai bagian dari struktur kepemilikan multi-klub yang memberi nilai tambah dalam pembinaan pemain, aktivitas perekrutan, serta analisis teknis.
Keluarga Srivaddhanaprabha Siap Menjual Leicester
Langkah penjualan ini menandai pergeseran sikap dari keluarga Srivaddhanaprabha. Pada Januari 2026, Chairman Leicester, Aiyawatt Srivaddhanaprabha, masih mengutarakan komitmen penuhnya terhadap klub serta menegaskan hasratnya menjaga warisan visi almarhum ayahnya, Vichai Srivaddhanaprabha. Vichai wafat pada 2018 akibat tragedi kecelakaan helikopter di luar arena King Power Stadium yang turut merenggut empat korban jiwa lainnya.
Aiyawatt sebelumnya mengungkapkan bahwa dirinya masih memiliki ikatan emosional yang erat dengan Leicester dan ingin memastikan klub dalam keadaan stabil sebelum melepas kepemilikan.
Akan tetapi, kemerosotan performa klub dalam beberapa musim terakhir membuat riak ketegangan antara pihak manajemen dan pendukung makin memanas. Kekecewaan yang mulanya menyasar Direktur Sepak Bola Jon Rudkin berlanjut meluas hingga ke tatanan manajemen utama.
“Lima tahun lalu, klub kami adalah tim Premier League mapan dengan skuad, akademi, reputasi, dan fasilitas yang kuat—belum lagi keberhasilan meraih trofi baru-baru ini," tulis organisasi kelompok suporter Leicester City, Foxes Trust. "Sejak saat itu, kemerosotan klub kami yang mengkhawatirkan, baik di dalam maupun di luar lapangan, telah menjadi sebuah bencana.”