GOTO Keluar dari Indeks MSCI, Tetap Bertahan di LQ45 hingga IDX30

GOTO Keluar dari Indeks MSCI, Tetap Bertahan di LQ45 hingga IDX30
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) [FOTO: NET].

JAKARTA - PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) resmi dikeluarkan dari MSCI Global Standard Indexes merujuk hasil peninjauan indeks Agustus 2026 yang dipublikasikan pada 12 Agustus 2026 waktu setempat. Keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) tersebut mulai berlaku efektif pada 31 Agustus 2026.

Walaupun tak lagi menghuni indeks saham global MSCI, posisi saham GOTO masih bertahan di jajaran indeks utama Bursa Efek Indonesia (BEI), mencakup LQ45, IDX30, IDX80, serta KOMPAS100. 

Langkah MSCI mencoret GOTO dinilai lebih dipicu oleh faktor teknis perdagangan saham, khususnya ketersediaan likuiditas, alih-alih akibat penurunan kinerja fundamental perusahaan.

Head of Corporate Affairs GOTO Audrey Petriny menyampaikan, keputusan pihak MSCI tersebut murni berdasar alasan teknis usai pergerakan harga saham GOTO berada pada batas paling bawah yang diizinkan dalam skema perdagangan saham di BEI, yaitu Rp50 per saham, yang selanjutnya dibayangi oleh rendahnya volume transaksi.

“Keputusan ini murni bersifat teknis, menyusul harga saham GoTo yang berada di level terendah Rp 50 dan diikuti dengan volume perdagangan yang rendah dan tidak disebabkan oleh kinerja perseroan,” ujar Audrey lewat keterangan pers, Kamis (13/8/2026).

GOTO Masih Masuk LQ45, IDX30, dan IDX80

Merujuk data BEI, GOTO tetap tercatat sebagai konstituen di sejumlah indeks saham dalam negeri, seperti LQ45, IDX30, IDX80, maupun KOMPAS100.

LQ45 sendiri merupakan acuan indeks yang mengukur pergerakan harga dari 45 saham berlikuiditas tinggi dan berkapitalisasi pasar besar yang ditopang oleh fundamental perusahaan yang solid. 

Di sisi lain, IDX80 menilai kinerja 80 saham berlikuiditas tinggi serta kapitalisasi pasar besar dengan sokongan fundamental yang kuat. Adapun IDX30 mengukur pergerakan 30 saham yang mengusung kriteria setara.

Penetapan anggota konstituen dalam indeks-indeks tersebut memanfaatkan parameter kuantitatif maupun kualitatif, antara lain tingkat likuiditas transaksi pada pasar reguler, bobot kapitalisasi pasar free float, rekam jejak kinerja keuangan, hingga kepatuhan terhadap aturan.

Analis Phintraco Sekuritas Aditya Prayoga menuturkan, terdepaknya GOTO dari indeks global memang berpotensi memicu gelombang pelepasan saham dari pengelola dana pasif yang mengandalkan MSCI sebagai rujukan investasi.

“Para pengelola dana pasif ini meramu portofolio saham yang berisikan saham-saham yang ada di dalam indeks dengan bobot serupa. Kalau ada satu saham dikeluarkan/rebalance, maka passive fund juga harus melakukan hal yang sama,” ungkap Aditya dalam keterangannya.

Namun, ia menilai gelombang aksi jual tersebut lebih berlandaskan regulasi acuan indeks dan bukan mengindikasikan pergeseran pada fundamental perseroan.

“Untuk GOTO, ini lebih ke aspek teknis saja. Harga sudah Rp 50 selama tiga bulan dan orang susah jual beli dengan likuiditas perdagangan jadi kering,” tambah Aditya.

Aditya memaparkan, sebelum harga saham GOTO menyentuh level Rp50, rata-rata nilai transaksi harian saham tersebut di pasar reguler sempat mencapai Rp300 miliar hingga Rp400 miliar. 

Namun, pada beberapa bulan belakangan, rata-rata nilai transaksi harian GOTO merosot hingga di bawah Rp50 miliar. Bahkan, belakangan ini nilainya hanya berada pada kisaran Rp3 miliar per hari.

Menurut pandangan Aditya, dinamika tersebut menjadi variabel kendala utama dalam konteks pengukuran indeks MSCI. 

Di sisi lain, pemegang saham GOTO tak cuma diisi oleh passive fund. Terdapat investor strategis, investor ritel, hingga investor aktif yang giat melakukan akumulasi saham saat harganya dipandang telah murah.

Oleh karena itu, Aditya menganggap terdepaknya GOTO dari indeks internasional tak serta-merta mendorong seluruh kelompok pemodal untuk melepas saham tersebut.

“Ini artinya local fund seperti reksadana, dana pensiun hingga asuransi yang menggunakan indeks IDX30, LQ45 dan IDX80 masih bisa stay di GOTO. Mereka ini AUM-nya juga banyak yang besar lho, jadi ketika GOTO dikeluarkan dari indeks global tidak berarti semua investor jualan,” sebut Aditya.

Fundamental GOTO Masih Membaik

Di tengah keluarnya GOTO dari acuan MSCI, performa fundamental perseroan justru memperlihatkan perbaikan. GOTO meraup laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp607,48 miliar pada semester I-2026. 

Realisasi ini berbalik dari posisi rugi bersih senilai Rp580,01 miliar pada rentang waktu setara tahun sebelumnya.

Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis lewat keterbukaan informasi BEI pada 29 Juli 2026, lonjakan kinerja GOTO ditopang oleh ekspansi pendapatan di seluruh lini bisnis. 

Sepanjang rentang Januari-Juni 2026, GOTO membukukan pendapatan bersih sebesar Rp10,99 triliun, melonjak 28,4 persen jika disandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp8,56 triliun.

Penyumbang terbesar berasal dari segmen jasa pengiriman dengan pendapatan senilai Rp3,2 triliun atau tumbuh 16,5 persen secara tahunan. Penerimaan dari imbalan jasa pun terkerek 14,9 persen menuju angka Rp3,15 triliun.

Perolehan dari e-commerce service fee PT Tokopedia menyentuh Rp551 miliar, menanjak 32,3 persen dibanding semester I-2025. Sementara itu, penerimaan iklan mencapai Rp254 miliar atau naik 8 persen. Pendapatan lainnya tercatat sebesar Rp1,13 triliun, melesat 46,5 persen secara tahunan.

Laju pertumbuhan pendapatan ini turut memacu pemulihan profitabilitas GOTO. Perseroan mencatatkan laba usaha sebesar Rp781,88 miliar pada semester I-2026, berbalik dari kondisi rugi usaha Rp171,60 miliar pada semester I-2025.

Audrey menambahkan, capaian perseroan pada kuartal II-2026 juga menunjukkan tren positif.

“Kinerja kami di kuartal II-2026 justru mencatatkan laba bersih dua kuartal berturut-turut, dengan laba bersih mencapai Rp 252 miliar dan pendapatan bersih sebesar Rp 5,7 triliun,” papar Audrey.

“EBITDA Grup yang disesuaikan juga meningkat hingga menembus angka Rp 1 triliun untuk pertama kalinya dan tetap on-track untuk mencapai pedoman kinerja tahunan kami dengan EBITDA Grup yang disesuaikan Rp 3,2 triliun-Rp 3,4 triliun,” lanjut dia.

Aditya mengamini bahwa performa fundamental GOTO masih berada pada jalur perbaikan kendati saham perseroan dicoret dari indeks global.

“Kalau lihat kinerja dengan pendapatan yang tumbuh dobel digit, laba bersih positif, margin semakin tebal dan cash flow sehat, artinya tidak ada masalah dengan fundamentalnya,” katanya.

Menurutnya, keputusan MSCI lebih merefleksikan persoalan likuiditas transaksi saham GOTO dibanding perubahan proyeksi prospek bisnis perseroan.

Di lain pihak, GOTO menegaskan bakal terus membangun dialog dengan MSCI mengenai keputusan ini dan tetap berfokus pada operasional bisnis serta penciptaan nilai bagi para pemegang saham.

“Kami memperhatikan keputusan MSCI terkait eksklusi GoTo dari indeks sahamnya, dan kami menyadari bahwa ini merupakan kabar yang kurang menyenangkan bagi banyak pemegang saham kami,” kata Audrey.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index