JAKARTA — Mata juling atau strabismus kerap dipandang sebatas persoalan penampilan. Namun, kondisi ini tidak hanya memengaruhi estetika, tetapi juga dapat mengganggu kemampuan mata dalam melihat secara tiga dimensi serta meningkatkan risiko ambliopia atau mata malas.
Dokter Spesialis Mata Konsultan Pediatric Ophthalmology & Strabismus sekaligus Ketua Layanan Pediatric Ophthalmology & Strabismus JEC Eye Hospitals and Clinics, Dr. Gusti G. Suardana, SpM(K), menekankan pentingnya perhatian orang tua terhadap tanda-tanda awal strabismus.
Deteksi gejala sejak dini diperlukan agar kondisi tersebut dapat segera ditangani dan tidak berkembang menjadi gangguan penglihatan yang lebih serius.
“Strabismus bukan hanya persoalan kosmetik, tetapi juga dapat mengganggu penglihatan binokular, persepsi kedalaman, serta meningkatkan risiko ambliopia atau mata malas pada anak,” ujar Dr. Gusti.
Faktor Pemicu Strabismus
Strabismus dapat muncul akibat beragam faktor yang memengaruhi keseimbangan dan koordinasi kedua mata. Beberapa di antaranya adalah riwayat keluarga, kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, kelainan refraksi yang tidak dikoreksi, perbedaan ketajaman penglihatan antarmata, serta gangguan pada otot atau saraf yang mengatur pergerakan mata.
Pada orang dewasa, strabismus juga dapat berkaitan dengan kondisi kesehatan tertentu. Gangguan neurologis, trauma, diabetes, hipertensi, hingga penyakit sistemik lainnya diketahui dapat menjadi pemicu, terutama pada kasus strabismus yang baru muncul di usia dewasa.
Cara Sederhana Cek Mata Juling Menggunakan Flash Ponsel
Dokter Gusti menyebut pemeriksaan awal mata juling atau strabismus dapat dilakukan secara sederhana menggunakan kamera ponsel. Orang tua dapat meminta anak menatap lurus ke arah kamera, kemudian mengaktifkan lampu kilat atau flash saat mengambil foto.
Pantulan cahaya dari flash pada permukaan mata dapat membantu melihat apakah posisi pantulan pada kedua mata tampak simetris. Perbedaan posisi pantulan bisa menjadi tanda awal adanya ketidaksejajaran mata.
"Perhatikan posisi pantulan cahayanya apakah sama-sama simetris di tengah atau tidak," imbuhnya.
Dari pemeriksaan sederhana ini, orang tua dapat mengamati posisi pantulan cahaya pada mata kanan dan kiri setelah menggunakan flash.
Jika pantulan terlihat berada pada posisi yang berbeda, kondisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan karena dapat menjadi salah satu tanda awal adanya ketidaksejajaran mata.
Meski demikian, pemeriksaan menggunakan flash ponsel hanya dapat menjadi langkah awal untuk mengenali kemungkinan strabismus. Metode ini tidak dapat memastikan diagnosis maupun menggantikan pemeriksaan mata secara langsung oleh dokter spesialis mata.