JAKARTA — Bagi sebagian pekerja, mendatangi kantor tak cuma berurusan dengan rutinitas pekerjaan maupun kejar-kejaran deadline. Sejumlah orang justru mengeluhkan sakit kepala, mual, pusing, kelelahan berlebih, hingga timbul iritasi kulit tiap kali berada di dalam area gedung kantor.
Indikasi tersebut dapat mengarah pada sick building syndrome (SBS), yakni terminologi yang dipakai untuk menggambarkan serangkaian gangguan kesehatan yang muncul sewaktu seseorang berada di dalam bangunan tertentu dalam kurun waktu lama.
Menariknya, beragam hasil riset mengindikasikan bahwa kelompok perempuan cenderung lebih kerap melaporkan gangguan SBS jika disandingkan dengan laki-laki.
Apa itu Sick Building Syndrome?
Gejala Muncul Saat Berada di Kantor dan Mereda Setelah Keluar
Ciri utama yang amat mudah diamati adalah timbulnya keluhan kesehatan sewaktu seseorang beraktivitas di lingkungan bangunan tertentu. Gejalanya dapat berupa sakit kepala, migrain, pusing, mual, gangguan kenyamanan mata, rasa lelah, brain fog, hingga timbulnya ruam kulit.
Disadur dari SELF Magazine, Rabu (12/8/2026), seorang karyawan bernama Jess Farmery membagikan pengalamannya yang mulai bersin-bersin dan gatal-gatal pada kulit saat melangkah masuk ke area kantor.
Penggunaan lampu fluoresens di ruangan juga memicu rasa pening serta kelelahan. Uniknya, rentetan keluhan tersebut berangsur pulih begitu ia keluar meninggalkan gedung.
Pola berulang semacam ini menjadi indikator kuat bahwa kondisi lingkungan tempat beraktivitas memegang peranan terhadap timbulnya gangguan kesehatan.
Kualitas Udara Hingga Pencahayaan Bisa Menjadi Pemicu
Berdasarkan laporan Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA), SBS mengartikan efek kesehatan dan kenyamanan akut yang disinyalir berkaitan erat dengan durasi waktu yang dihabiskan seseorang di dalam sebuah gedung.
Faktor pemicunya dapat bersumber dari bermacam elemen lingkungan. Kehadiran partikel udara seperti spora jamur dan debu, hingga paparan zat kimia tertentu sanggup mengganggu respons tubuh sebagian orang.
Di samping itu, tingkat pencahayaan yang terlalu menyilaukan, minimnya bukaan jendela, sistem sirkulasi udara yang buruk, hingga aroma menyengat dari karpet berpotensi memicu ketidaknyamanan.
Profesor alergi, imunologi, dan oftalmologi dari Hackensack Meridian School of Medicine, Leonard Bielory, MD, menjelaskan bahwa SBS merupakan istilah payung bagi bermacam keluhan.
“Yang sakit adalah gedungnya, bukan orangnya,” terang dia.
Akan tetapi, tingkat sensitivitas individu terhadap kondisi lingkungan berbeda-beda. Ada sebagian orang yang toleran terhadap debu atau bahan kimia tertentu, sedangkan individu lain dapat langsung mengalami reaksi meski baru terpapar dalam kadar kecil.
Perempuan Lebih Sering Melaporkan Gejala, Tetapi Penyebabnya Belum Pasti
Deretan studi menunjukkan bahwa perempuan lebih dominan melaporkan gejala SBS ketimbang laki-laki. Walau begitu, landasan pasti yang memicu perbedaan tersebut belum dapat disimpulkan.
Kajian yang dipublikasikan pada 2025 dalam jurnal Buildings mengutarakan bahwa faktor jenis kelamin menjadi salah satu prediktor kuat terhadap kemunculan gejala SBS, khususnya masalah kulit dan gangguan umum seperti pusing, sakit kepala, masalah pernapasan, kelelahan, kecemasan, serta gangguan pencernaan.
Menurut Kathryn Basford, MD, dokter layanan primer di London yang berfokus pada kesehatan perempuan, terdapat beberapa potensi asumsi yang dapat menerangkan fenomena tersebut.
“Beberapa penjelasan telah diajukan, tetapi belum ada yang bersifat definitif,” tuturnya.
Sederet variabel yang disinyalir memengaruhi antara lain tingkat kepekaan terhadap alergen, kualitas sirkulasi udara, tekanan stres kerja, hingga tingkat kenyamanan terhadap temperatur ruangan dan pencahayaan.
Keluhan yang Berulang Sebaiknya Tidak Diabaikan
Hingga saat ini SBS belum memiliki metode diagnosis medis resmi dan para dokter pun belum menyepakati faktor penyebab utamanya secara tunggal.
Oleh sebab itu, keluhan yang muncul secara terus-menerus saat berada di lokasi tertentu perlu diwaspadai, terlebih bila sudah mengganggu kelancaran aktivitas serta produktivitas harian.
Langkah awal yang dapat ditempuh yakni mencermati pola kemunculan gejala, membenahi sirkulasi udara, meminimalisasi paparan asap maupun bahan iritan, serta mengomunikasikan kondisi lingkungan tersebut kepada pihak pengelola atau manajemen kantor.
Apabila keluhan tak kunjung mereda atau kian memburuk, penanganan medis tetap disarankan guna mendeteksi potensi pemicu lain sekaligus memperoleh perawatan yang tepat.