JAKARTA - Kami semua pasti tahu bentuk pisang, buah panjang melengkung berwarna kuning cerah dengan kulit yang mudah dikupas. Tapi tahukah kamu, pisang yang kami makan hari ini ternyata sangat berbeda jauh dari nenek moyangnya ribuan tahun lalu?
Jika kamu melihat pisang zaman dulu, kamu mungkin tidak akan nafsu memakannya.
Mengutip Takeout, Selasa (11/8/2026), pisang liar zaman dahulu atau yang disebut ur-banana memiliki penampilan yang sangat tidak menarik. Ukurannya jauh lebih kecil, pendek, bantat, dan berwarna hijau.
Perbedaan paling mencolok adalah di bagian dalamnya. Bukan daging buah lembut seperti sekarang, pisang asli dipenuhi dengan biji hitam besar yang keras. Teksturnya tidak manis dan hampir tidak bisa dimakan. Bayangkan, jika kamu memotongnya, sebagian besar isinya hanyalah biji-biji keras.
Fakta uniknya, secara botani pisang justru diklasifikasikan sebagai buah beri.
Hasil Seleksi Alam Manusia di Papua Nugini
Lalu bagaimana pisang yang penuh biji dan tidak enak itu bisa menjadi buah manis yang kami kenal sekarang? Jawabannya adalah seleksi budidaya (selective breeding) yang dilakukan manusia jauh sebelum istilah GMO populer.
Sekali-sekali, pisang liar mengalami mutasi alami yang disebut partenokarpi, yaitu menghasilkan buah tanpa biji.
Manusia kuno di Lembah Kuk, Papua Nugini, yang diyakini sebagai tempat pertama pisang didomestikasi sekitar 7.000 tahun lalu, melihat mutasi ini. Mereka kemudian secara sengaja memilih dan menanam kembali pisang yang tidak berbiji tersebut agar semakin dominan.
Dari proses seleksi yang berlangsung ribuan tahun inilah, lahir pisang yang lebih besar, lebih manis, berdaging tebal, dan tanpa biji.
Dari Gros Michel ke Cavendish
Perkembangan pisang tidak berhenti di situ. Jenis pisang terus berevolusi karena budidaya. Pada awal abad ke-20, varietas pisang yang paling dominan di dunia adalah Gros Michel, yang rasanya lebih manis dan creamy.
Namun, varietas ini hampir punah total karena diserang penyakit Panama. Untuk menggantikannya, manusia kemudian beralih ke varietas Cavendish, yaitu jenis pisang kuning yang kami makan hingga hari ini.
Sayangnya, Cavendish kini juga terancam penyakit Panama yang sama dan para ilmuwan sedang berusaha mencari penggantinya.