JAKARTA — PT Widodo Makmur Perkasa Tbk. (WMPP) membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp562,7 miliar sepanjang semester I/2026, melonjak 41,2% secara tahunan (YoY) dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Emiten yang bergerak di bidang barang konsumsi dan agribisnis ini sukses mencatatkan pemulihan signifikan pada laba bersih yang mencapai Rp123,5 miliar pada paruh pertama 2026, berbalik dari kondisi rugi bersih Rp131,51 miliar pada semester I/2025.
CEO WMPP Tumiyono menyampaikan bahwa peningkatan performa tersebut mencerminkan operasional perusahaan yang kian efisien.
“Perbaikan kinerja perseroan sepanjang semester I/2026 menunjukkan perseroan sudah lebih efisien dalam menjalankan usahanya, seiring dengan perbaikan kinerja yang ditopang oleh berbagai katalis positif dari industri pangan global dan dalam negeri,” jelasnya dalam keterangan tertulis, Senin (10/8/2026).
Mengenai kontribusi per segmen usaha, unit peternakan unggas (poultry) masih menjadi penopang utama pendapatan WMPP dengan menyumbang 87,26% dari total pendapatan konsolidasi. Sektor pengolahan daging menyumbang 10,99%, sementara divisi peternakan sapi memberikan kontribusi sebesar 1,75%.
Dominasi lini bisnis unggas ini berjalan selaras dengan potensi permintaan protein hewani yang diperkirakan terus tumbuh.
Perseroan melihat konsumsi masyarakat atas daging ayam, telur, hingga daging sapi berpeluang terus meningkat, terlebih sektor pangan menjadi salah satu prioritas perhatian pemerintah.
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah tim riset internal WMPP, konsumsi daging sapi dan kerbau pada 2026 diproyeksikan menyentuh 986.170 ton, naik sekitar 14% dari 2025.
Di sisi lain, tingkat konsumsi daging ayam diprediksi menembus 4,99 juta ton pada 2026 atau tumbuh hampir 5% ketimbang tahun sebelumnya.
Peluang pertumbuhan konsumsi tersebut dimanfaatkan WMPP untuk mendongkrak penjualan dengan memaksimalkan lini bisnis yang ada.
Likuiditas Mulai Membaik
Selain menorehkan pertumbuhan pendapatan dan laba, WMPP juga menunjukkan perbaikan kemampuan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
Tumiyono menyebutkan indikasi tersebut terlihat dari rasio lancar (current ratio) perseroan yang naik ke tingkat 1,5 kali pada kuartal I/2026, dari sebelumnya hanya 0,7 kali di akhir 2025.
Penguatan likuiditas ini tak lepas dari hasil kesepakatan proses restrukturisasi utang bersama seluruh kreditur. Berkat restrukturisasi tersebut, perseroan memperoleh ruang gerak yang lebih baik untuk membenahi struktur keuangan sekaligus menopang kelangsungan operasional.
Menghadapi periode mendatang, WMPP akan melanjutkan langkah efisiensi sembari memacu aktivitas operasional dan optimalisasi fasilitas yang dimiliki. Perseroan turut mengupayakan penguatan modal kerja melalui pelepasan sejumlah aset non-produktif.
Upaya divestasi tersebut diharapkan memberi dana segar tambahan untuk disalurkan ke kegiatan usaha yang memberikan kontribusi lebih optimal bagi kinerja perseroan.
Di samping penjual aset, WMPP juga membuka peluang kemitraan dengan investor strategis guna memperkokoh struktur permodalan serta menunjang rencana ekspansi bisnis.