JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa beroperasinya kembali Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) guna menyokong program Makan Bergizi Gratis (MBG) usai masa libur sekolah menjadi salah satu pendorong lonjakan harga daging ayam ras di berbagai daerah pada pekan awal Agustus 2026.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengutarakan bahwa melonjaknya permintaan ayam berjalan beriringan dengan aktifnya kembali SPPG. Fenomena ini ikut mendongkrak harga ayam di beberapa daerah.
“Kota Binjai, kenaikan harga ayam juga dipicu meningkatnya permintaan pasar seiring sudah mulai beroperasi kembalinya SPPG karena libur sekolah sudah selesai,” kata Amalia dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah 2026 yang disiarkan di YouTube Kemendagri, Senin (10/7/2026).
BPS turut membeberkan bahwa eskalasi harga ayam ras di sejumlah kawasan bertalian erat dengan naiknya kebutuhan guna menyuplai program MBG. Di Kabupaten Bengkulu Tengah, lonjakan permintaan ayam terjadi demi memenuhi suplai program MBG lewat SPPG.
Situasi ini diperberat oleh keterbatasan pasokan dari kalangan peternak dan pemasok, ditambah membumbungnya biaya produksi seperti harga pakan yang berisiko memperbesar tekanan harga di level konsumen.
Kabupaten Bangka Tengah juga mendeteksi kenaikan harga ayam akibat meningkatnya konsumsi masyarakat sebagai opsi pengganti ikan, imbas cuaca ekstrem berupa angin kencang dan gelombang tinggi yang menyulitkan aktivitas nelayan.
Di samping itu, aktifnya program MBG semakin memperbesar volume permintaan daging ayam di kawasan tersebut.
Dinamika serupa berlangsung di Kabupaten Seluma, yang mana lonjakan harga ayam terdorong oleh eskalasi permintaan pasokan MBG yang kembali bergulir.
Sementara itu, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir turut merekam lonjakan permintaan ayam untuk program MBG berikut kenaikan biaya pakan ayam.
Adapun di Kabupaten Bangka Selatan, eskalasi harga ayam terpicu oleh melonjaknya permintaan sebagai alternatif pengalih konsumsi ikan sewaktu cuaca buruk membatasi ruang gerak nelayan. Situasi tersebut hadir beriringan dengan aktifnya kembali program MBG yang mendongkrak tren permintaan ayam.
Sementara di Kabupaten Labuhanbatu Selatan, apresiasi harga dipicu oleh minimnya stok ketersediaan ayam di pasar saat volume permintaan tengah menanjak.
Catatan data BPS menunjukkan rerata nasional harga daging ayam ras pada pekan pertama Agustus 2026 bertengger di angka Rp39.712 per kilogram, terangkat 4,06% apabila dibandingkan periode Juli 2026.
Patokan harga ini pada dasarnya masih berada tipis di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) tingkat konsumen yang dipatok Rp40.000 per kilogram.
Merujuk penelusuran BPS hingga pekan pertama Agustus 2026, sebanyak 188 kabupaten/kota mencatatkan lonjakan Indeks Perkembangan Harga (IPH) daging ayam ras. Nominal tertinggi terdeteksi menembus Rp100.000 per kilogram di wilayah Kabupaten Intan Jaya.
Amalia menegaskan bahwa pergerakan ini mengindikasikan lonjakan harga ayam di beberapa daerah tidak cuma dipengaruhi oleh faktor harga nasional, melainkan juga ketimpangan relasi antara ketersediaan pasokan dan besarnya permintaan di tingkat daerah.
“Untuk daging ayam ras, level harganya masih relatif rendah tetapi perubahan IPH-nya relatif tinggi. Nah ini nanti perlu mendapatkan pencermatan dan perhatian Bapak-Ibu semua karena ada tendensi bahwa perubahan IPH-nya relatif tinggi walaupun harganya masih dalam kategori level harga yang rendah,” pungkasnya.