Tips Menjaga Motivasi Setelah Gagal Menurut Psikolog, Coba Ini!

Tips Menjaga Motivasi Setelah Gagal Menurut Psikolog, Coba Ini!
Menjaga Motivasi Setelah Gagal [FOTO: NET].

JAKARTA -  – Kegagalan tak jarang memicu perasaan kecewa ataupun keengganan untuk mencoba kembali. Timbulnya nilai yang kurang memuaskan, contohnya, dapat mengarahkan pikiran seseorang bahwa dirinya memang kurang cerdas. 

Begitu pula tatkala target olahraga atau pembentukan kebiasaan anyar gagal terwujud, hadir prasangka bahwa segenap ikhtiar selama ini sia-sia. Perasaan semacam ini berpotensi mendorong seseorang memilih untuk menyudahi langkah alih-alih berjuang kembali.

Disitir dari Verywell Mind, sudut pandang seseorang terhadap potensi dirinya dalam ranah psikologi sanggup memengaruhi respons ketika berhadapan dengan kegagalan. 

Psikolog Carol Dweck memperkenalkan konsep growth mindset, yaitu keyakinan bahwasanya kemampuan dapat terus dikembangkan lewat usaha, penyusunan strategi, proses belajar, serta bantuan dari sesama.

Sebaliknya, individu berkepribadian fixed mindset cenderung menganggap kemampuan sebagai hal yang relatif statis. Cara pandang growth mindset ini pula yang menjadikan seseorang lebih siap menyongsong tantangan dan menguji strategi anyar.

Lantas, bagaimana tata cara merawat motivasi seusai dihadapkan pada kegagalan?

Cara Menjaga Motivasi Setelah Gagal

Jangan langsung menganggap gagal berarti tidak mampu: 

Menggeneralisasi satu kegagalan sebagai representasi kemampuan secara utuh dapat makin merosotkan motivasi.

 Melabeli diri seperti “Saya memang tidak pintar” atau “Saya memang tidak cocok dengan pekerjaan ini” menjadikan kegagalan seolah sebagai identitas, bukan sekadar luaran dari suatu proses tertentu.

 Pada perspektif growth mindset, kegagalan diposisikan sebagai cermin informasi terkait apa yang belum berhasil dilakukan, sehingga memberikan ruang untuk mengevaluasi strategi.

Ganti pertanyaan “Kenapa saya gagal?” menjadi “Apa yang bisa diperbaiki?”: 

Pertanyaan evaluatif seusai kegagalan ikut menentukan langkah selanjutnya. Daripada berfokus pada alasan ketidakmampuan, Carol Dweck menyarankan untuk beralih ke pertanyaan yang lebih konstruktif, seperti bagian mana yang belum berjalan optimal, strategi apa yang kurang efektif, apa yang bisa dieksekusi secara berbeda, hingga bantuan atau keterampilan apa yang dibutuhkan.

Fokus pada usaha dan strategi, bukan label diri:

 Penilaian terhadap diri sendiri berdampak besar pada respons saat menghadapi rintangan. Kalimat seperti “Saya belum menemukan latihan yang cocok” membuka ruang pembelajaran dan eksperimen pendekatan lain ketimbang kalimat yang memberikan penegasan bahwa kemampuan sudah terpatok sejak awal.

Pecah target menjadi langkah yang lebih kecil: 

Tujuan yang besar dapat terasa kian membebankan usai kegagalan. Memulai kembali melalui target yang lebih berskala kecil membantu memulihkan rasa pencapaian. Pola ini berlaku baik dalam membiasakan olahraga harian maupun dalam menuntaskan tahapan proyek pekerjaan yang rumit.

Berani mencoba strategi yang berbeda: 

Kegagalan tidak serta-merta menuntut seseorang untuk sekadar bekerja lebih keras dengan pola yang identik. 

Hambatan sering kali berakar pada metode yang kurang efektif. Growth mindset bukan hanya soal gigih mencoba, melainkan mencakup kesediaan belajar, mengubah taktik, dan mencari bantuan bila diperlukan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index