JAKARTA - Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) berpandangan bahwasanya laju pertumbuhan ekonomi nasional di triwulan II-2026 yang menembus angka 5,29 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) mengindikasikan ketahanan rantai pasok yang kokoh.
“Pertumbuhan kuartal II yang mencapai 5,29 persen menjadi indikasi bahwa fondasi permintaan domestik dan ketahanan rantai pasok kami jauh lebih solid daripada yang diperkirakan pasar," ujar Ketua Dewan Pembina DPP ALFI Yukki Nugrahawan Hanafi dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (7/8/2026).
Lebih jauh, Yukki memberikan penekanan bahwa konsumsi publik masih menjadi penopang utama pertumbuhan di triwulan II/2026 ini lewat sumbangsih sebesar 53,32 persen terhadap PDB, yang menandakan daya beli domestik tetap berdaya tahan.
Di samping itu, ia turut menyoroti kebangkitan aktivitas sektor manufaktur pada awal kuartal III tahun 2026 sebagai pijakan penting untuk memperkuat prospek pertumbuhan yang berkesinambungan.
Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur S&P Global Indonesia merangkak naik menuju posisi 50,2 pada Juli 2026 dari angka 46,9 pada Juni, yang menandai kembalinya sektor ini ke area ekspansi usai empat bulan berada dalam tekanan, di mana indeks output melonjak drastis dari 44,4 ke level 50,4.
“PMI yang kembali ekspansif adalah leading indicator bagi dunia usaha. Volume produksi yang naik diharapkan juga akan berdampak menjadi volume kargo dalam empat hingga delapan pekan ke depan. Ini yang harus dijaga,” kata Yukki.
Ia pun memberikan peringatan mengenai krusialnya menggenjot kembali kinerja ekspor supaya pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2026 sanggup terdongkrak mendekati sasaran 5,4-6 persen.
Oleh sebab itu, ia mendorong tiga prioritas kebijakan di semester II 2026, mencakup akselerasi digitalisasi National Logistics Ecosystem (NLE) demi efisiensi sektor logistik, diversifikasi tujuan ekspor lewat pemanfaatan jejaring multilateral serta kesepakatan dagang yang telah berlaku, hingga pemantapan konektivitas pelabuhan dan kawasan industri, termasuk optimalisasi pusat-pusat logistik di luar Pulau Jawa.
“Agar pertumbuhan ekonomi tahun 2026 mendekati target pertumbuhan pemerintah 5,4-6 persen, perlu katalis yang positif baik dari belanja pemerintah tepat sasaran, investasi produktif dipercepat, dan daya beli domestik tetap terjaga,” ujar Yukki.