Kisah 3 Generasi Perawat di Satu RS yang Sama

Kisah 3 Generasi Perawat di Satu RS yang Sama

SEBARIS.CO.ID — Tiga generasi perempuan dalam satu keluarga menjalani profesi yang sama sebagai perawat di Antelope Valley Medical Center, Lancaster, California, Amerika Serikat. Kisahnya dimulai dari sang nenek, Patricia "Pat" Pendleton, yang baru lulus sarjana keperawatan di usia 40 tahun pada pertengahan 1990-an dan kini berusia 72 tahun.

Semuanya berawal dari keputusan sulit seorang ibu. Pat Pendleton menekuni keperawatan setelah suaminya divonis kanker. Saat itu ia sadar harus menopang tiga anaknya, dan menjadi perawat terasa sebagai jalan paling masuk akal.

Lulus Kuliah di Usia 40 Tahun

Pat meraih gelar sarjana keperawatan pada usia 40 tahun, lalu memulai karier di institusi yang kala itu masih bernama Antelope Valley Hospital. "Fokus utama saya saat itu hanyalah bahwa saya harus menopang kehidupan anak-anak saya, dan menjadi perawat tampaknya merupakan jalan terbaik untuk melakukannya," kenang Pat, dikutip dari People.

Perjuangan ibunya tak luput dari pengamatan Terryl Call, sang putri. Ia melihat langsung bagaimana Pat menavigasi kehidupan pribadi dan karier sekaligus, hingga akhirnya memutuskan ikut mendaftar sekolah keperawatan di usia 22 tahun.

"Melihat ibu saya melewati semua perjuangan itu dan menyaksikan rasa bangga yang beliau rasakan, saya memutuskan untuk masuk sekolah keperawatan, dan saya melakukannya," ujar Terryl, 52 tahun, yang kini menjabat senior operations leader di pusat medis tersebut.

Dua Cucu Pat Kini Berjaga di UGD

Tradisi itu berlanjut ke generasi ketiga. Dua putri Terryl, Tayler Rodriguez (31) dan Amanda Starler (25), tumbuh dengan melihat ibu dan nenek mereka berkarier di dunia kesehatan. Keduanya kini aktif bekerja bersama di Unit Gawat Darurat Antelope Valley Medical Center.

Menariknya, Pat mengaku tak pernah menyuruh siapa pun mengikuti jejaknya. "Saya tidak bisa mengatakan bahwa saya yang mendorong mereka untuk menjadi perawat," ujarnya. Terryl menimpali, "Ibu memang tidak pernah menyuruh kami menjadi perawat, tetapi saya pikir Ibu telah membuka dan menunjukkan jalannya bagi kami."

Bagi Amanda, ibu dan neneknya adalah panutan sejak kecil. "Saat tumbuh dewasa, saya ingat betul selalu berpikir bahwa ibu dan nenek saya adalah orang-orang paling keren yang pernah ada. Dan saya rasa perasaan itu timbul dari apa yang mereka lakukan sebagai profesi mereka," ungkapnya kepada 29 News.

Rehat Satu Jam di Sif Malam

Bekerja di fasilitas yang sama membawa keuntungan tersendiri bagi Tayler. Karena mereka bertugas di sif malam, ia dan Amanda bisa bertemu Terryl sekitar satu jam di sela pekerjaan.

"Ibu selalu menyempatkan diri turun ke bawah untuk menyapa kami, dan itu adalah hal terbaik yang kami rasakan," tutur Tayler. Ia menambahkan, profesi yang mereka jalani bersama adalah bukti nyata kepedulian keluarga terhadap komunitas sekitar.

"Profesi bersama ini adalah bukti betapa kami sangat menghargai komunitas kami dan bagaimana kami ingin membantu serta memberikan kembali yang terbaik bagi mereka," tutupnya.

Dari satu keputusan berat di pertengahan 1990-an, lahir tiga perawat yang kini berbagi sif, seragam, dan cerita. Bukan warisan materi, tapi soal keberanian memulai dari nol di usia 40 tahun.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index