KKP Siapkan Strategi Swasembada Garam 2027, Genjot Produksi-Hilirisasi

KKP Siapkan Strategi Swasembada Garam 2027, Genjot Produksi-Hilirisasi
Petambak Garam di Lamongan Sedang Memanen Hasil Produksi di Tambak garam [FOTO: NET].

JAKARTA - Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah merancang serangkaian strategi demi mewujudkan swasembada garam pada 2027.

Direktur Sumber Daya Kelautan Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP Frista Yorhanita menyampaikan bahwa rangkaian strategi itu meliputi penguatan kapasitas produksi, penerapan teknologi, hingga pembentukan rantai pasok dari sektor hulu sampai hilir.

"Dalam kerangka Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2025, KKP menjalankan transformasi pergaraman nasional melalui penguatan produksi, peningkatan kualitas, pemanfaatan teknologi, serta pembangunan rantai pasok dari hulu hingga hilir," ungkap Frista, Selasa (8/9/2026).

Langkah pertama dijalankan lewat efisiensi serta optimalisasi (intensifikasi) lahan tambak garam yang telah beroperasi. 

KKP berikhtiar mendongkrak produktivitas area eksisting melalui pembenahan tambak, penataan ulang lahan dan drainase, penyediaan sarana pendukung produksi, pemanfaatan teknologi penguapan (evaporasi), serta penguatan sarana penyimpanan.

Upaya intensifikasi tersebut ditujukan guna memperbesar hasil produksi tanpa perlu memperluas area tambak.

Strategi kedua direalisasikan melalui perluasan lahan (ekstensifikasi) dengan membuka area produksi baru.

"Salah satu proyek strategisnya adalah Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT)," ungkap Frista.

Pengerjaan fase awal K-SIGN yang mencakup luas 616 hektare kini telah rampung dan siap memasuki tahap produksi. K-SIGN dirancang sebagai pusat pergaraman modern yang terpadu. 

Kawasan ini diproyeksikan sanggup mencetak hingga 200 ton garam per hektare setiap tahunnya.

Strategi ketiga yakni menggenjot pemanfaatan teknologi demi memacu volume sekaligus mutu garam. 

Ragam teknologi yang didorong mencakup akselerasi penguapan, sistem tunnel, Seawater Reverse Osmosis (SWRO), mekanisasi alur produksi, hingga penyediaan fasilitas washing plant dan pemurnian.

Penerapan teknologi itu tak cuma dimaksudkan untuk mendongkrak angka produksi. 

Teknologi tersebut juga dipakai untuk menghasilkan garam bermutu tinggi secara berkelanjutan tanpa tergantung sepenuhnya pada cuaca dan sinar matahari.

Strategi keempat adalah mengokohkan program hilirisasi serta efisiensi rantai pasok.

"Produksi dalam jumlah besar harus memiliki kepastian pasar. Karena itu, pemerintah mendorong kemitraan antara petambak garam, koperasi, badan usaha, BUMN, investor, dan industri pengguna sebagai offtaker," ucap Frista.

Saudara-saudara kami di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kami mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index