JAKARTA — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) tengah menyiapkan beberapa pusat pelatihan vokasi yang diproyeksikan khusus guna mengembangkan keahlian tenaga kerja pada bidang green jobs atau pekerjaan hijau.
Pada ajang Indonesia's Green Jobs Conference 2026 di Jakarta, Rabu, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengungkapkan bahwa kebijakan ini merupakan bagian dari langkah pemerintah dalam menyiapkan sumber daya manusia untuk mengisi kebutuhan pekerjaan hijau, sekaligus mengantisipasi makin melebarnya jurang kesenjangan antara kebutuhan industri dan kompetensi tenaga kerja.
Yassierli memaparkan saat ini Kemnaker mengelola 34 balai latihan kerja dan berencana menambah kisaran 17 balai baru.
“Jadi akan ada total sekitar 50 balai latihan kerja. Sebagian dari balai tersebut nantinya akan menjadi pusat pelatihan vokasi yang didedikasikan untuk green jobs,” ucap dia.
Menurutnya, green jobs patut dilihat sebagai sebuah kesempatan untuk membuka lapangan kerja baru. Kendati demikian, peluang ini mesti diimbangi dengan kesiapan para pekerja serta sistem pelatihan yang selaras dengan dinamika sektor yang berkembang.
Yassierli menyampaikan bahwa salah satu tantangan dalam penyediaan tenaga kerja untuk transisi energi hijau ialah kebutuhan SDM yang belum terpetakan secara mendetail hingga level jabatan maupun kompetensi spesifiknya.
Dirinya mencontohkan rencana program pengembangan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas hingga 100 GW.
Ia menilai pemerintah perlu mengidentifikasi secara rinci kebutuhan tenaga kerja yang bertugas mengoperasikan, melakukan perawatan, hingga memproduksi beragam komponen pendukungnya.
Usai kebutuhan kompetensi berhasil dipetakan, Kemnaker bakal menyelaraskan skema pelatihan beserta sertifikasinya.
Mengenai sertifikasi, Kemnaker terus mendorong penguatan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) lantaran pihak pemerintah tidak memungkinkan mengampu seluruh tahapan sertifikasi secara mandiri.
Di samping memperkuat skema sertifikasi, Kemnaker memperoleh sokongan dari Bank Dunia guna mendirikan sekitar 15 pusat pelatihan vokasi baru yang ditargetkan mulai dibangun atau beroperasi pada tahun depan.
Yassierli menuturkan bahwa pusat-pusat pelatihan itu bakal menjadi modalitas baru untuk mencetak tenaga kerja yang responsif terhadap kebutuhan dunia industri.
Tantangan lain yang turut menyita perhatian yaitu kesenjangan antarwilayah.
Yassierli menjelaskan bahwa pengembangan energi terbarukan marak berlokasi di luar Pulau Jawa, padahal sarana pelatihan vokasi pada beberapa kawasan tersebut belum sepenuhnya memadai.
"Padahal kalau level-level tersebut, nanti banyak yang diminta adalah SDM lokal. Sehingga keberadaan fasilitas untuk vocational training-nya pada daerah-daerah target nanti yang di luar Pulau Jawa, itu kemudian harus kami perhatikan," katanya.
Kemnaker juga sedang menggarap transformasi balai latihan kerja. Yassierli mengungkapkan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) di Serang, Banten ditunjuk sebagai salah satu pusat pelatihan untuk green jobs.
Bukan hanya itu, pemerintah turut mengintegrasikan program pelatihan vokasi tingkat nasional dengan kebutuhan tenaga kerja pada sektor-sektor spesifik.
Pada 2026, Kemnaker menargetkan program pelatihan vokasi dapat menyasar 340 ribu orang serta program pemagangan untuk 150 ribu orang.
Yassierli menerangkan bahwa tahapan pelatihan akan diteruskan dengan proses sertifikasi yang diupayakan mengantongi pengakuan internasional, sebelum nantinya para pekerja diserap oleh industri penampung.
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas dalam Peta Jalan Pengembangan Tenaga Kerja Hijau Indonesia 2025 memproyeksikan target jumlah tenaga kerja hijau di Indonesia dapat menyentuh 5,32 juta orang pada 2029.
Sementara itu, proyeksi akumulasi kebutuhan tenaga kerja hijau di sektor pembangkit listrik diperkirakan menembus lebih dari 760 ribu orang, merujuk pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034.