JAKARTA — Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melaporkan sektor kulit dan alas kaki menjadi satu-satunya bidang usaha di bawah Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) yang mengalami penurunan kinerja pada Agustus 2026.
Sekretaris Direktorat Jenderal IKFT Kemenperin Sri Bimo Pratomo menyatakan bahwa penurunan tersebut utamanya dipicu oleh ketidakpastian permintaan dari pasar ekspor maupun lokal.
“Satu-satunya yang kontraksi adalah industri kulit dan alas kaki,” ujar Bimo dalam paparan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Agustus 2026, Senin (31/8/2026).
Menurutnya, hambatan jalur dagang serta dinamika geopolitik di Amerika Serikat sebagai destinasi ekspor terbesar produk alas kaki tanah air turut mengganggu kepastian pesanan luar negeri. Keadaan itu menyebabkan volume pesanan ekspor sektor alas kaki menjadi tidak menentu.
Di sisi lain, tekanan serupa juga berasal dari ranah domestik, khususnya bagi sektor alas kaki yang berfokus memenuhi kebutuhan di dalam negeri.
Bimo menerangkan, penurunan kinerja ini selaras dengan kelesuan daya beli masyarakat terhadap produk pakaian dan alas kaki. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), laju pertumbuhan konsumsi pakaian serta alas kaki menyusut dari 5,99% menjadi 3,52%.
“IKI alas kaki kontraksi yang dalam pada industri yang tidak orientasi ekspor, jadi yang berorientasi produksi untuk dalam negeri,” sebutnya.
Meski demikian, dia memandang prospek usaha alas kaki masih menyisakan ruang pemulihan. Salah satu katalis positif berasal dari momentum hari raya yang diandalkan mampu memicu kembali minat belanja masyarakat terhadap sandang dan sepatu.
Tambahan pula, pemberlakuan kerja sama perdagangan komprehensif antara Indonesia dan Uni Eropa atau IEU-CEPA dipandang sanggup membuka peluang lebih luas bagi sektor kulit dan alas kaki untuk memperluas penetrasi pasar Eropa.
Bimo menyampaikan, kemudahan akses pasar berbekal tarif bea masuk yang lebih ringan bakal menjadi momentum penting bagi produsen alas kaki nasional.
Kesepakatan tersebut diharapkan mampu mendongkrak daya saing produk dalam negeri di kawasan Uni Eropa seiring jadwal implementasinya pada 2027 mendatang.
“Ini merupakan suatu peluang yang sangat besar sekali, terutama untuk industri kulit dan alas kaki, karena kami melihat potensi ekspor kami ke Uni Eropa ini cukup besar,” katanya.
Di samping itu, para pelaku usaha dalam negeri diminta mengoptimalkan penerapan IEU-CEPA guna memperluas jangkauan pasaran global. Kendati demikian, kesempatan emas tersebut tetap diiringi kendala berupa standar kualitas produk yang tergolong ketat di benua biru.
Pihak Kemenperin, sambung Bimo, tengah mempersiapkan seluruh binaan Ditjen IKFT agar siap memenuhi berbagai kriteria standar yang berlaku di pasaran Eropa.
Sementara itu, sejumlah sektor manufaktur lainnya di bawah naungan Ditjen IKFT terpantau masih mencatatkan pertumbuhan positif sepanjang Agustus 2026.
Sektor tekstil dan produk pakaian jadi, misalnya, tetap menunjukkan tren positif di tengah pergeseran selera konsumen yang beralih dari produk mode cepat menuju barang yang lebih tahan lama serta ramah lingkungan.
Sektor bahan kimia pun berada dalam fase ekspansi yang ditopang lonjakan pesanan, volume produksi, serta tingginya permintaan luar negeri.
Kinerja positif serupa turut dialami sektor karet, barang dari karet, serta plastik. Kendati demikian, Bimo menyoroti adanya tekanan dari produk impor terhadap sektor hilir plastik nasional mengingat sebagian besar komoditas plastik hilir masih dikategorikan sebagai barang bebas serta belum tersentuh aturan larangan maupun pembatasan.
Situasi tersebut menjadikan produk plastik luar negeri lebih leluasa memasuki pasar domestik. Dampaknya, tingkat penyerapan hasil produksi plastik hilir lokal sangat bergantung pada tingkat harga dan kemampuan bersaing melawan barang impor.
"Kemudian meningkatnya persediaan produk plastik mengindikasikan belum optimalnya penyerapan pasar yang antara lain dipengaruhi oleh persaingan produk impor," tambah Bimo.
Di sisi lain, sektor barang galian nonlogam masih membukukan kinerja positif yang terutama ditopang oleh kenaikan volume pesanan serta produksi pada komoditas semen, keramik, serta kaca lembaran.
Walau demikian, peningkatan hasil produksi tersebut turut dibarengi pembengkakan stok persediaan. Berbagai tantangan bagi sektor tersebut masih berkisar seputar daya serap pasar, kelancaran logistik distribusi, serta jaminan ketersediaan pasokan energi.