JAKARTA — Pernahkah kamu mendengar pendapat yang berbeda dengan keyakinanmu, lalu spontan ingin membantahnya? Perbedaan pandangan memang tidak selalu mudah diterima.
Namun, kemampuan mendengarkan pendapat berbeda tanpa buru-buru menolaknya merupakan salah satu bagian dari sikap open-minded atau berpikiran terbuka.
Menjadi open-minded sering disalahartikan sebagai sikap yang selalu menerima atau menyetujui pendapat orang lain. Padahal, seseorang tetap bisa memiliki prinsip dan keyakinan sendiri sambil terbuka terhadap perspektif yang berbeda.
Dikutip dari Verywell Mind, open-mindedness dalam psikologi menggambarkan kesediaan seseorang untuk mempertimbangkan perspektif, gagasan, argumen, dan informasi lain, termasuk yang berbeda dari pandangannya sendiri.
Dengan kata lain, open-minded bukan berarti harus setuju, melainkan bersedia mendengarkan dan mempertimbangkan sebelum mengambil kesimpulan.
Orang yang berpikiran terbuka bukan berarti tidak memiliki pendirian. Seseorang tetap dapat memegang keyakinannya dengan kuat. Bedanya, ia tidak menganggap pendapatnya sebagai satu-satunya kemungkinan yang benar dan menutup diri dari informasi lain.
Ketika menemukan pandangan berbeda, orang yang open-minded akan mencoba memahami alasan di balik pendapat tersebut. Setelah itu, ia tetap boleh memutuskan untuk tidak setuju. Inilah yang membedakan sikap berpikiran terbuka dengan sekadar mengikuti pendapat orang lain.
Ketika mendengar sesuatu yang bertentangan dengan pandangan kami, reaksi pertama biasanya bersifat emosional. Kami mungkin langsung ingin membantah atau menganggap orang lain salah. Padahal, memberi waktu untuk mempertimbangkan informasi dapat membantu kami merespons dengan lebih tenang.
Sebelum memberikan tanggapan, cobalah bertanya kepada diri sendiri: apakah pendapat kami didukung informasi yang cukup? Apakah kami sudah memahami argumen orang tersebut? Apakah ada sudut pandang yang belum kami pertimbangkan? Jeda ini dapat membantu kami membedakan antara tidak setuju karena memiliki alasan dan menolak hanya karena tidak nyaman mendengar sesuatu yang berbeda.
Bagian lain dari sikap open-minded adalah kesediaan menerima kemungkinan bahwa kami bisa keliru. Mengubah pendapat setelah memperoleh informasi atau bukti baru bukan berarti tidak memiliki pendirian.
Justru, hal tersebut menunjukkan bahwa seseorang bersedia belajar dan mengevaluasi kembali pemikirannya. Kerendahan hati juga penting karena sebanyak apa pun pengetahuan yang dimiliki, selalu ada kemungkinan masih ada hal yang belum diketahui.
Kami juga perlu mewaspadai confirmation bias atau bias konfirmasi, yaitu kecenderungan lebih mudah menerima informasi yang sesuai dengan keyakinan sendiri dan mengabaikan informasi yang bertentangan.
Untuk melatih pikiran terbuka, cobalah mencari sumber dan perspektif yang berbeda ketika menerima sebuah informasi. Pertimbangkan bukti yang mendukung maupun yang bertentangan sebelum mengambil kesimpulan.
Pada akhirnya, menjadi open-minded bukan berarti kehilangan prinsip atau selalu mengatakan “iya” kepada orang lain. Kami tetap boleh berbeda pendapat dan menolak sesuatu yang tidak sesuai dengan nilai yang diyakini.
Yang penting, kami bersedia mendengarkan, mempertimbangkan, dan memahami sebelum menghakimi. Sebab, pikiran yang terbuka bukan tentang selalu mengubah pendapat, melainkan memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk memahami sebelum mengambil kesimpulan.