JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mendata Nilai Tukar Petani (NTP) secara nasional pada Agustus 2026 menyentuh angka 129,19, atau menguat 1,05 persen bila dibandingkan posisi Juli 2026.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, lonjakan NTP tersebut dipicu oleh indeks harga yang diterima petani (It) yang tumbuh lebih tinggi daripada indeks harga yang dibayar petani (Ib).
"Indeks harga yang diterima petani naik 1,14 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar petani hanya meningkat 0,09 persen," kata Ateng dalam Rilis BPS di Jakarta, pada Selasa (1/9/2026).
Ateng pun memaparkan pergerakan kenaikan rerata harga beras pada Agustus 2026 di seluruh tingkatan. Bila dilihat secara bulanan (month-to-month), harga beras di ranah penggilingan terangkat 1,32 persen. Di saat bersamaan, harga beras di ranah grosir naik 0,80 persen dan di ranah eceran merambat naik 0,42 persen.
Di sisi berbeda, BPS mengalkulasi realisasi luasan panen padi pada Juli 2026 berada di angka 0,93 juta hektare. Capaian ini terkoreksi 1,05 persen jika disandingkan dengan Juli 2025 yang sempat menyentuh 0,94 juta hektare.
Seiring menyusutnya luasan panen, volume produksi padi pada Juli 2026 diproyeksikan merosot 1 persen menjadi 4,75 juta ton gabah kering giling (GKG), dari torehan 4,80 juta ton GKG pada Juli 2025. Hasil produksi beras turut tercatat turun 0,99 persen menjadi 2,74 juta ton ketimbang Juli tahun sebelumnya.
Akan tetapi secara akumulatif, realisasi luasan panen padi sepanjang periode Januari-Juli 2026 telah menembus 7,24 juta hektare. Angka itu tumbuh 0,57 persen bila dibandingkan rentang waktu yang sama pada tahun lalu.
Ateng memprediksikan estimasi potensi luas panen pada periode Agustus-Oktober 2026 bakal berada di angka 3,07 juta hektare, atau menyusut 1,29 persen dari periode serupa di tahun terdahulu.
Potensi hasil produksi padi sepanjang tiga bulan mendatang diperkirakan ada di kisaran 16,18 juta ton GKG atau mengalami penurunan 0,92 persen. Sedangkan produksi beras diproyeksikan menyentuh 9,33 juta ton atau berkurang 0,90 persen.
BPS turut melaporkan realisasi luasan panen jagung pada Juli 2026 berada pada posisi 0,23 juta hektare. Luas area panen itu terkoreksi 6,06 persen ketimbang kondisi Juli 2025.
Penyusutan luasan panen tersebut berbanding lurus dengan penurunan produksi jagung pipilan kering kadar air 14 persen (JPK KA 14 persen). Hasil produksi JPK KA 14 persen pada Juli 2026 diperkirakan berada di angka 1,38 juta ton, menyusut 6,33 persen dari capaian Juli 2025.
Kendati demikian, secara akumulatif total produksi JPK KA 14 persen sepanjang kurun Januari-Juli 2026 berhasil mengumpulkan 10,08 juta ton. Perolehan ini meningkat 0,45 persen ketimbang volume produksi pada periode Januari-Juli 2025.