JAKARTA — Nilai tukar rupiah mengawali sesi transaksi Jumat (28/8/2026) dengan melaju menguat ke posisi Rp17.707 per dolar AS.
Mata uang rupiah tampak berbalik menguat di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) selepas gelombang aksi demonstrasi mahasiswa yang berlangsung sehari sebelumnya usai.
Walau demikian, potensi apresiasi rupiah ditakar masih terbatas berikutan sikap para pelaku pasar yang cenderung menahan posisi demi mencermati arah panduan kebijakan moneter AS.
Berdasarkan pengamatan data Doo Financial Futures per pukul 10.05 WIB, nilai tukar rupiah dibuka pada level Rp17.707 per dolar AS, atau menguat 0,21% setara 37 poin dari posisi transaksi sebelumnya.
Laju penguatan rupiah ini mengemuka saat mayoritas mata uang di kawasan Asia justru sedang berada dalam tekanan dolar AS.
Won Korea Selatan memimpin zona hijau terhadap dolar AS lewat kenaikan 0,35%, disusul dolar Taiwan yang terangkat 0,23%, ringgit Malaysia menanjak 0,14%, serta dolar Singapura yang menguat 0,05%.
Di sisi bertolak belakang, tekanan paling dalam terhadap dolar AS melanda peso Filipina yang terkikis 0,51%, disusul penurunan baht Thailand sebesar 0,21%, dan rupee India yang menyusut 0,14%.
Sementara itu, yen Jepang mengalami pelemahan 0,04%, yuan China terkoreksi 0,02%, dan dolar Hong Kong tergerus 0,01% di hadapan dolar AS.
Tekanan berikutnya terlihat pada ringgit Malaysia yang melemah 0,14%, sementara rupee India turun 0,14%.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengungkapkan bahwa tuntasnya aksi demo mahasiswa berpeluang menjadi amunisi sentimen positif bagi mata uang Garuda.
Meredanya dinamika ketidakpastian di tingkat domestik mampu membuka ruang bagi investor untuk kembali membenamkan modal pada aset berdenominasi rupiah.
“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS menyusul berakhirnya demo mahasiswa kemarin. Namun penguatan diperkirakan terbatas,” kata Lukman, Jumat (28/8/2026).
Menurut pandangannya, para pemodal saat ini cenderung mengambil langkah wait and see mengantisipasi penyampaian pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh pada gelaran simposium Jackson Hole.
Pidato tersebut menjadi pusat perhatian lantaran pasar belum memperoleh sinyal kebijakan yang hendak dipaparkan oleh Warsh.
“Belum diketahui arah The Fed itulah sebabnya investor cenderung wait and see,” ujarnya.
Lukman menyebutkan pasar menaruh harapan utama agar pidato Warsh dapat menghembuskan petunjuk terkait proyeksi suku bunga The Fed ke depan.
Kehadiran sinyal yang bernada lebih hawkish berpotensi memperkokoh dolar AS sekaligus membatasi penguatan rupiah, sedangkan sinyal yang cenderung dovish mampu melapangkan jalan bagi rupiah untuk menguat lebih jauh.
Guna perdagangan sepanjang hari ini, Lukman memproyeksikan rupiah bergerak dalam kisaran Rp17.700-Rp17.800 per dolar AS.