Efek El Nino, Cuaca Sulsel 10 Hari ke Depan Diprediksi Sangat Kering

Efek El Nino, Cuaca Sulsel 10 Hari ke Depan Diprediksi Sangat Kering
Ilustrasi musim kemarau [FOTO: NET].

JAKARTA — Wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel) saat ini tengah memasuki fase puncak musim kemarau yang terjadi bersamaan dengan munculnya fenomena El Nino. Kombinasi tersebut mengakibatkan kondisi cuaca di kawasan ini menjadi amat kering.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Kelas I Maros memproyeksikan cuaca sangat kering masih berpeluang terjadi hingga 10 hari mendatang, khususnya di daerah-daerah yang lebih awal memasuki masa kemarau.

Kepala Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Kelas I Maros Syamsul Bahri memaparkan bahwa perbedaan waktu masuknya musim kemarau di setiap daerah di Sulsel memang tidak berlangsung secara serentak.

Sebagai gambaran, wilayah di sepanjang pesisir barat seperti Takalar, Maros, Pangkep, dan Parepare sudah mulai mengalami musim kemarau sejak Mei. Di sisi lain, kawasan timur seperti Kabupaten Bone dan sekitarnya baru memasuki masa kemarau pada Agustus.

Kondisi demikian menyebabkan area pesisir barat harus melewati durasi periode kering yang cenderung lebih panjang ketimbang daerah di wilayah timur Sulsel.

Syamsul menguraikan bahwa durasi periode kering yang berlangsung lebih lama berisiko menekan ketersediaan pasokan air. Di samping itu, suhu udara panas yang disertai embusan angin kering turut memperbesar ancaman terjadinya kebakaran.

"Masyarakat perlu mewaspadai potensi kebakaran akibat kondisi panas dan kering, termasuk risiko korsleting listrik serta cepatnya penyebaran api karena angin kering," kata Syamsul kepada Bisnis, Senin (24/8/2026).

Meski demikian, menurut pengamatannya, ancaman kebakaran tidak semata-mata dipicu oleh faktor iklim, melainkan juga oleh faktor kelalaian manusia. 

Warga diimbau untuk menghindari segala bentuk tindakan yang berpotensi memantik api serta memastikan jaringan listrik di hunian masing-masing dalam keadaan aman demi mencegah risiko korsleting.

Mengenai gambaran kondisi dinamika cuaca saat ini, Syamsul menambahkan bahwasanya kemarau dan El Nino pada dasarnya merupakan dua fenomena yang terpisah. 

Kendati demikian, kedua fenomena tersebut berlangsung secara simultan pada tahun ini sehingga memperkuat intensitas kekeringan di Sulsel.

"El Nino sangat berbeda dengan musim kemarau. Agustus, September, Oktober itu memang musim kemarau, intensitasnya yang berbeda. Kebetulan berbarengan dengan El Nino tahun ini," ujar Syamsul.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index