JAKARTA- Indonesia mengantongi peluang untuk memperluas cakupan ekspor udang ke Amerika Serikat, menyusul besaran tarif yang dibebankan Negeri Paman Sam untuk komoditas udang asal Indonesia terbilang lebih murah dibandingkan beberapa negara pesaing di kawasan Asia.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendata akumulasi tarif udang Indonesia di pasar AS berada di kisaran 13,90 persen.
Plt Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP Erwin Dwiyana menyampaikan bahwa tarif tersebut mencakup beban tarif tambahan Section 301 sebesar 10 persen serta bea masuk antidumping sebesar 3,90 persen.
“Peluang peningkatan pangsa pasar udang Indonesia juga terbuka, khususnya dibandingkan dengan pemasok dari Asia, meskipun persaingan dengan Ekuador diperkirakan tetap ketat,” kata Erwin melalui keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (21/8/2026).
Tingkat tarif udang Indonesia tergolong lebih rendah bila dibandingkan komoditas asal India dan Vietnam. India dikenakan akumulasi tarif sekitar 19,53 persen, sementara Vietnam menyentuh angka 41,10 persen.
Selisih tarif ini membuka ruang bagi para eksportir Indonesia guna menggenjot daya saing di pasar AS.
Pasar utama ekspor udang
Amerika Serikat bertindak sebagai pasar utama bagi komoditas udang asal Indonesia. Catatan KKP menunjukkan angka ekspor udang Indonesia pada 2025 membukukan nilai sekitar 1,87 miliar dollar AS.
Dari perolehan itu, pengiriman ekspor menuju AS menyumbang 1,15 miliar dollar AS, atau setara 61,5 persen dari total ekspor udang nasional.
Dalam kurun waktu lima tahun belakangan, rerata nilai ekspor udang Indonesia mencapai kisaran 1,93 miliar dollar AS tiap tahunnya. Sementara volume pengirimannya berada di rata-rata 229.250 ton per tahun.
Tingginya kebergantungan pada pasar AS menjadikan peluang perluasan pangsa pasar mesti dibarengi dengan penguatan daya saing serta mitigasi risiko perdagangan.
KKP menegaskan bakal memperketat koordinasi bersama kementerian dan lembaga terkait, perhimpunan perikanan, para eksportir, hingga perwakilan Indonesia yang bertugas di AS.
Erwin menyebutkan KKP juga turut menjembatani para eksportir udang Indonesia dalam menjalani tahapan administrative review terkait penentuan bea masuk antidumping.
Peluang komoditas perikanan lain
Peluang penetrasi ekspor ke AS tak cuma terbuka bagi komoditas udang. KKP mencermati bermacam produk perikanan Indonesia lainnya pun mengantongi keunggulan tarif bila disandingkan dengan produk dari negara pesaing.
Produk kepiting dan rajungan asal Indonesia, contohnya, memiliki keunggulan margin tarif sebesar 2,5 persen jika dibandingkan produk asal pemasok Asia lainnya, seperti Vietnam dan Filipina.
Margin keunggulan tarif pun didapati pada produk tuna Indonesia jika dibandingkan dengan produk buatan Thailand, Vietnam, Filipina, serta Korea Selatan.
Indonesia turut berpeluang mendongkrak daya saing komoditas cumi-cumi, sotong, gurita, hingga tilapia di pasar AS. Berbagai komoditas tersebut berkompetisi langsung dengan produk sejenis asal negara Asia lain, termasuk China, Vietnam, dan Thailand.
KKP menilai potensi tarif tersebut patut dibarengi dengan penguatan kredibilitas rantai pasok. Langkah ini krusial demi memelihara kepercayaan pihak pembeli sekaligus menekan potensi timbulnya hambatan perdagangan di masa depan.
Saudara-saudara kami di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kami mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT