JAKARTA - Analis memproyeksikan laju kinerja PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) bakal mulai terakselerasi pada paruh kedua atau semester II/2026, berlandaskan pemulihan net interest margin (NIM) serta tren ekspansi kredit.
Emiten yang bertengger di bawah naungan Grup Djarum ini juga tercatat makin royal menyalurkan dividen kepada para pemegang saham.
Tim analis Stockbit lewat risetnya menilai momentum performa BBCA mulai menunjukkan peningkatan akselerasi saat memasuki semester II/2026, setelah indikator NIM berangsur membaik dan penyaluran kredit berlanjut.
“Secara umum, kami melihat momentum kinerja BBCA mulai berakselerasi memasuki 2H26, di mana kredit mulai meningkat dengan NIM yang mulai membaik,” tulis Stockbit dalam risetnya.
Stockbit mencatat perolehan laba bersih BBCA secara bank only menyentuh angka Rp5,1 triliun pada Juli 2026, atau tumbuh 5% secara tahunan (year-on-year/YoY) serta melonjak 12% secara bulanan (month-to-month/MoM).
Melalui raihan itu, akumulasi laba bersih bank only selama 7 bulan perdananya di 2026 menembus Rp35,3 triliun atau naik 2% secara tahunan.
Capaian tersebut setara dengan porsi 59% dari estimasi laba bersih konsolidasi penuh tahun 2026 yang dirumuskan oleh konsensus. Sebagai pembanding, laba bersih bank only BBCA selama rentang 7 bulan pada 2025 telah menyerap 61% dari proyeksi laba konsolidasi 2025.
Stockbit menganggap ekspansi kredit dan pergerakan NIM hingga 7 bulan berjalan pada 2026 masih berjalan beriringan dengan panduan dari manajemen untuk 2026. Di sisi lain, indikator biaya kredit atau credit cost (CoC) membukukan torehan yang lebih baik dibandingkan target yang ditetapkan perseroan.
Sinyal pemulihan NIM mulai terpancar pada Juli 2026. Pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) BBCA terkerek 4% secara tahunan pada Juli 2026, membaik dari posisi pertumbuhan 0% secara tahunan sepanjang 7 bulan berjalan di 2026. Angka NIM BBCA juga terkerek naik ke posisi 5,5% pada Juli 2026 dari kisaran 5,2% pada Juni 2026.
Penyesuaian positif tersebut berjalan selaras dengan proyeksi manajemen yang sempat diutarakan dalam forum earnings call kuartal II/2026, di mana NIM diprediksi mulai memasuki tren pemulihan pada kuartal III/2026.
Secara akumulatif, porsi NII BBCA masih bergerak stagnan secara tahunan sepanjang 7 bulan di 2026 imbas posisi NIM yang tergolong lebih rendah.
Kondisi ini menyebabkan pertumbuhan kredit yang mencapai 8% secara tahunan per Juli 2026 belum terefleksikan secara penuh ke dalam pertumbuhan NII.
Sementara itu, komponen pendapatan nonbunga atau non-interest income (Non-II) tercatat tetap bertumbuh lumayan solid sebesar 10% secara tahunan pada Juli 2026 dan 7% selama periode 7 bulan di 2026.
Dilihat dari pilar penyaluran kredit, nominal kredit BBCA berada pada kisaran Rp1.000 triliun per Juli 2026. Angka tersebut relatif mendatar secara bulanan usai sempat melonjak 4% secara bulanan pada Juni 2026.
Akselerasi kredit pada Juni yang dibarengi oleh melandainya pembukuan beban provisi per Juli menjadi petunjuk awal yang positif atas gairah kegiatan ekonomi. Beban alokasi provisi BBCA pada Juli 2026 menyusut 18% secara tahunan dan turun 37% secara bulanan.
Indikator CoC berada di kisaran 0,3% pada Juli 2026, melandai dari posisi 0,5% pada Juni 2026 serta 0,4% pada Juli 2025.
Kendati demikian, pihak Stockbit menguraikan bahwa keberlanjutan akselerasi kredit dan penurunan alokasi provisi masih perlu terus dicermati sebelum mengambil kesimpulan utuh.
Di lain sisi, Stockbit mencermati adanya potensi penguatan fundamental perbankan manakala kondisi likuiditas terbukti tidak seketat dari kekhawatiran awal.
Peluang ini ditopang oleh tren outstanding dan yield Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang mulai melandai, perpanjangan porsi penempatan saldo anggaran lebih (SAL) oleh pemerintah, serta potensi masuknya dana asing menyusul pengumuman RAPBN 2027 yang dirancang lebih konservatif.
Di tengah prospek pemulihan kinerja tersebut, BBCA kembali mengeksekusi pembagian dividen interim kepada para pemegang saham.
BCA mengucurkan dividen interim senilai Rp3,07 triliun untuk kuartal III tahun buku 2026. Pembayaran ini menandai alokasi dividen interim kedua yang disalurkan BCA sepanjang tahun berjalan 2026. Sebelumnya, perseroan telah melunasi dividen interim kuartal II pada 26 Juni 2026.
Pihak BCA sebelumnya mengutarakan rencana pengucuran dividen interim sebanyak tiga kali sepanjang tahun buku 2026 dengan mempertimbangkan realisasi kondisi keuangan perseroan.
Presiden Direktur BCA Hendra Lembong menerangkan bahwa penentuan besaran nilai dividen interim kuartal III/2026 merujuk pada pemenuhan bermacam faktor, mulai dari kecukupan posisi permodalan, kecukupan likuiditas, agenda pengembangan bisnis perseroan beserta entitas anak, hingga pemeliharaan kualitas aset.
“Nilai dividen interim yang lebih tinggi dari kuartal sebelumnya merupakan cerminan kinerja solid Perseroan pada semester I 2026,” ujar Hendra dalam keterangan resmi, Rabu (19/8/2026).
Adapun sepanjang semester I/2026, BCA mencatatkan penguatan laju kredit sebesar 8% secara tahunan menjadi Rp1.036 triliun.
Untuk kali pertama dalam rekam jejaknya, volume penyaluran kredit BCA berhasil menembus batas Rp1.000 triliun. Ekspansi kredit tersebut ditopang oleh struktur pendanaan yang kukuh.
Giro dan tabungan atau current account saving account (CASA) BCA menembus nilai Rp1.082 triliun, atau menguat 10,2% secara tahunan. Sementara itu, total raihan laba BCA bersama entitas anak membukukan angka Rp29,5 triliun sepanjang semester I/2026.