JAKARTA - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menyatakan konsistensinya dalam mengawal momentum ekspansi kredit dengan senantiasa memegang teguh prinsip kehati-hatian (prudential banking) serta tata kelola risiko yang ketat.
Menurut pihak manajemen, langkah strategis ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan guna memastikan laju bisnis tumbuh secara sehat, berkualitas, serta berkelanjutan di tengah dinamika kondisi ekonomi.
Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis, menegaskan bahwa penerapan prinsip kehati-hatian menjadi pilar utama pada tiap pertimbangan penyaluran kredit BRI.
Langkah penguatan kualitas aset diterapkan mulai dari hulu melalui mekanisme underwriting yang disiplin, pemantauan portofolio kredit secara berkesinambungan, hingga pengoperasian sistem early warning guna mengendus potensi risiko sedini mungkin.
“BRI tetap memiliki appetite untuk tumbuh dan menyalurkan kredit kepada sektor produktif. Namun, pertumbuhan tersebut harus dilakukan secara terukur dengan tetap mengutamakan kualitas. Kami memastikan setiap ekspansi kredit melalui proses asesmen risiko yang memadai sehingga pertumbuhan bisnis dapat berjalan secara sehat dan berkelanjutan,” kata Ety menjelaskan.
Sebagai institusi perbankan yang menfokuskan porsi utamanya pada pemberdayaan sektor UMKM, BRI menganggap laju pertumbuhan kredit tak sekadar dihitung dari tingginya volume pembiayaan, melainkan juga dari mutu kredit yang terealisasi.
Oleh sebab itu, menurut keterangan perseroan, tiap tahapan penyaluran pembiayaan dijalankan dengan mempertimbangkan kalkulasi profil risiko debitur, prospek keberlanjutan usaha, daya bayar, hingga kondisi sektor industri yang mendapat kucuran dana.
Guna mengeksekusi strategi ekspansi, BRI mengambil pendekatan yang selektif dengan mengoreksi karakteristik risiko pada tiap-tiap segmen dan lini ekonomi.
Perseroan juga tidak berhenti memperbarui regulasi perkreditan serta skema pemantauan portofolio agar senantiasa relevan menghadapi pergeseran lanskap ekonomi dan profil risiko.
Model pendekatan ini memungkinkan BRI mempertahankan titik keseimbangan antara menangkap peluang ekspansi dan menjaga batas toleransi risiko yang dapat diterima perbankan.
Di lain sisi, pengawasan risiko tidak lantas usai begitu dana kredit dicairkan. Pihak perseroan mengonfirmasi bahwa pemantauan portofolio dilakukan secara berkala berbasis analitis data untuk mendeteksi pergeseran kualitas debitur maupun potensi tekanan pada industri spesifik.
“Prinsip kami bukan sekadar bagaimana kredit dapat tumbuh, tetapi bagaimana kredit tersebut dapat tumbuh dengan kualitas yang terjaga. Karena itu, kami terus memperkuat proses dari hulu hingga hilir, mulai dari underwriting, monitoring baik on-site maupun off-site, early warning system, hingga penanganan kredit yang membutuhkan perhatian khusus,” ujar Ety.
Skema ini menjadi teramat vital mengingat profil portofolio BRI didominasi oleh segmen UMKM yang memiliki ragam karakteristik nasabah di berbagai sudut wilayah Indonesia.
Bermodalkan basis data yang kuat serta rekam jejak panjang di ranah UMKM, perseroan terus mengasah keahlian dalam memetakan karakteristik serta profil risiko nasabah hingga tingkat yang lebih terperinci.
Sebagai gambaran, perbaikan mutu aset BRI tersebut tecermin dari pergerakan rasio NPL yang membaik secara triwulanan (quarter on quarter/qoq), dari posisi akhir Desember 2025 yang sebesar 3,07 persen menjadi 3,01 persen pada Maret 2026.
Tak hanya itu, indikator risiko kredit berorientasi masa depan seperti rasio loan at risk (LaR) turut mencatatkan tren positif, yakni melorot dari 11,13 persen pada Maret 2025 menjadi 9,67 persen pada Maret 2026, atau membaik sebanyak 145 basis poin.
Pihak BRI menegaskan komitmennya untuk secara konsisten memelihara ketercukupan pencadangan dan permodalan sebagai bagian dari mitigasi risiko sekaligus bantalan menghadapi risiko dinamika ke depan.
Langkah tersebut, lanjut Ety, dieksekusi demi menjamin fondasi fundamental perseroan tetap kokoh dalam menopang laju bisnis mendatang.
Kondisi ini dibuktikan oleh posisi rasio NPL Coverage yang aman terjaga di level 179,45 persen serta LaR Coverage sebesar 55,75 persen.
Menurut pemaparan perseroan, konsistensi arah pergerakan yang stabil pada kedua rasio tersebut menegaskan kedisiplinan BRI dalam mengawal tingkat cadangan risiko sebagai wujud riil penerapan manajemen risiko yang pruden.