JAKARTA — Nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (19/8/2026), setelah pasar mencermati keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang kembali mempertahankan suku bunga acuan.
Mengacu pada data Doo Financial Futures, rupiah berada pada level Rp17.840 per dolar AS, menguat 0,12% dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.862 per dolar AS.
Dengan demikian, rupiah menjadi salah satu mata uang Asia yang mencatat penguatan pada perdagangan hari ini. Berdasarkan perdagangan hari ini, penguatan rupiah menempatkannya di antara mata uang Asia yang menguat terhadap dolar AS.
Won Korea Selatan menjadi mata uang Asia dengan penguatan paling tinggi terhadap dolar AS, sebesar 1,25%. Diikuti yen Jepang yang menguat 0,28%, kemudian dolar Singapura 0,13%, yuan China 0,09%, serta baht Thailand 0,02%. Sementara itu, dolar Taiwan relatif stabil.
Di sisi lain, sejumlah mata uang Asia justru melemah terhadap dolar AS. Peso Filipina melemah 0,05%, ringgit Malaysia turun 0,06%, sedangkan rupee India tertekan 0,07%.
Pergerakan rupiah berlangsung setelah BI memutuskan mempertahankan BI Rate di level 5,75% dalam RDG yang berlangsung pada 18-19 Agustus 2026.
Pjs Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan keputusan tersebut diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah. Selain BI Rate, bank sentral juga mempertahankan Deposit Facility sebesar 4,75% dan Lending Facility sebesar 6,50%
Destry menegaskan kebijakan tersebut tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah dari dampak gejolak global, sekaligus memastikan inflasi berada dalam sasaran 2,5% ± 1% dan mendukung penguatan pertumbuhan ekonomi.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan penguatan rupiah terjadi setelah pasar mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang dinilai masih menunjukkan sikap relatif hawkish meski bank sentral memilih mempertahankan suku bunga acuan.
"Sikap tersebut mencerminkan komitmen BI yang tetap kuat pada stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global, sehingga turut memberikan sentimen positif bagi rupiah," ujarnya, Rabu (18/8/2026).
Menurutnya rupiah masih berpeluang melanjutkan penguatan apabila risalah FOMC memberikan nada yang less hawkish. Ekspektasi tersebut muncul setelah sejumlah data ekonomi AS terbaru menunjukkan tanda-tanda pelemahan, sehingga pasar mulai mengurangi ekspektasi terhadap pengetatan moneter lebih lanjut.
"Untuk besok, rupiah masih berpotensi menguat apabila dalam risalah pertemuan FOMC malam ini The Fed memberikan pernyataan yang less hawkish menyusul serentetan data ekonomi AS yang lebih lemah akhir-akhir ini," imbuhnya.
Dengan kombinasi sikap BI yang tetap fokus pada stabilitas rupiah dan peluang melunaknya nada The Fed, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.750-Rp17.900 per dolar AS pada perdagangan berikutnya.