JAKARTA—Bank Indonesia (BI) menilai prospek perekonomian global masih dalam kondisi lemah. Di saat yang sama, tingkat ketidakpastian di pasar keuangan internasional dilaporkan masih tinggi.
Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur BI Destry Damayanti menerangkan bahwa situasi tersebut terpengaruh oleh konflik perang yang masih berkecamuk di Timur Tengah. Eskalasi tersebut kembali memicu kenaikan harga minyak beserta berbagai komoditas dunia.
Atas dasar itu, BI memproyeksikan laju pertumbuhan ekonomi global bertahan di kisaran 3,0 persen sepanjang 2026.
“Pertumbuhan ekonomi dunia 2026 belum kuat yang diprakirakan sekitar 3,0 persen,” kata Destry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur, RDG, BI Agustus 2026 di Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Sementara itu, laju tekanan inflasi secara global diproyeksikan bertahan tinggi di kisaran 4,5 persen pada 2026.
Kondisi tersebut memaksa pimpinan bank sentral global untuk mengambil arah kebijakan moneter yang lebih ketat. BI memprediksi suku bunga acuan Amerika Serikat, Fed Funds Rate, FFR, akan mengalami kenaikan lanjutan pada kuartal IV 2026.
Destry menyampaikan bahwa imbal hasil, yield, US Treasury juga merangkak naik dan diprediksi bertahan tinggi.
Tren ini selaras dengan menguatnya ekspektasi atas kenaikan FFR serta masih membengkaknya defisit anggaran AS.
Ketidakpastian yang tebal di pasar keuangan global pun diperkirakan berlanjut, yang pada akhirnya menahan minat investor internasional untuk mengalokasikan dana pada instrumen portofolio di negara-negara berkembang (Emerging Markets).
Menurut Destry, situasi ini turut menjaga keperkasaan indeks dollar AS terhadap mata uang negara-negara maju, DXY, maupun mata uang negara berkembang, ADXY.
Destry berpandangan bahwa dinamika global tersebut memerlukan penguatan koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter.
Kolaborasi kedua kebijakan ini teramat mendesak guna memperkokoh ketahanan eksternal, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, serta menopang laju pertumbuhan ekonomi dalam negeri.
“Perkembangan ini mengharuskan penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik,” tuturnya.