Aliran Portofolio Asing Masuk 1,8 Miliar Dolar AS Hingga 14 Agustus

Aliran Portofolio Asing Masuk 1,8 Miliar Dolar AS Hingga 14 Agustus
Gubernur Sementara Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti [FOTO: NET].

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa arus masuk investasi portofolio asing (net inflows) pada triwulan III 2026 hingga 14 Agustus 2026 telah menembus angka 1,8 miliar dolar Amerika Serikat (AS).

Pejabat Gubernur Sementara BI Destry Damayanti, dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI secara daring di Jakarta, Rabu, menerangkan bahwa torehan positif ini didorong oleh penerbitan global bond pemerintah serta masuknya dana ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Secara menyeluruh, BI menilai performa Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mesti terus ditingkatkan demi mengokohkan daya tahan eksternal nasional.

Kinerja neraca perdagangan untuk kurun waktu Januari sampai Juni 2026 mencetak surplus akumulatif sebesar 3,58 miliar dolar AS, meskipun pada periode Juni 2026 sempat mengalami defisit 0,45 miliar dolar AS.

Sementara itu, ketersediaan cadangan devisa Indonesia per akhir Juli 2026 bertahan tangguh di level 145,3 miliar dolar AS. Angka ini setara pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,3 bulan impor plus pembayaran utang luar negeri pemerintah, berada di atas ambang batas standar kecukupan internasional sebesar 3 bulan impor.

"Ke depan, Bank Indonesia memprakirakan ketahanan eksternal tetap kuat ditopang sinergi kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia dalam menghadapi gejolak global," kata Destry.

BI turut mencatat tren penguatan nilai tukar rupiah yang didukung oleh efektivitas kebijakan intervensi Bank Indonesia. Banderol rupiah per 18 Agustus 2026 menguat 0,78 persen (point to point/ptp) ke level Rp17.855 per dolar AS dibandingkan posisi akhir Juli 2026.

Destry menyampaikan bahwa dinamika ini ditopang oleh langkah operasional Bank Indonesia yang mengoptimalkan seluruh instrumen moneter dan memperluas insentif demi menjaring modal asing, menjaga stabilitas kurs, serta mengakselerasi pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing (PUVA).

Insentif untuk swap jual lindung nilai dinaikkan menjadi 12,5 persen, sedangkan insentif DNDF jual lindung nilai dipatok sebesar 15 persen. 

Selain itu, insentif diberikan demi menggenjot local currency transaction (LCT) bersama negara mitra lewat premi swap beli lindung nilai 10 persen serta pemotongan premi DNDF jual lindung nilai sebesar 10 persen.

"Bank Indonesia akan terus menempuh berbagai strategi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Ke depan, nilai tukar rupiah diprakirakan tetap stabil didukung penguatan respons kebijakan stabilisasi Bank Indonesia," kata Destry.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index